K-Popifikasi Politik: Dukungan K-Popers untuk Anies Baswedan

by | Jan 4, 2024

Hiburan | K-Pop | Pilpres 2024 | Politik

FOMOMEDIA – Anies Baswedan dapat dukungan salah satu komunitas anak muda terbesar di negeri ini, yakni K-Popers. Akankah angin berubah?

Anies Baswedan makin banyak didukung anak muda sejak ia aktif live di TikTok. Sambutan hangat itu tak lepas dari momentum yang tepat. Berhari-hari sebelum ia menekan tombol “go live” di TikTok, program kampanye yang bertajuk “Desak Anies” ramai jadi perbincangan.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menuai pujian sebagai satu-satunya capres yang berani berdialog langsung dengan publik. Karena setiap acaranya terdokumentasi di YouTube dan bebas akses, banyak orang membagikan potongan-potongan video di mana Anies memberikan jawaban yang membuat mereka mantap memilihnya.

Meski banyak pula pihak yang mengutarakan ketidaksetujuan ataupun skeptisme, “Desak Anies” kian dapat atensi.

Pada momen inilah, tepatnya 29 Desember 2023, Anies mulai merambah TikTok. Siarannya santai. Sembari naik mobil dalam perjalanan pulang, Anies bicara random soal isu-isu ringan, seperti masalah takut bermimpi.

Disaksikan lebih dari 300.000 pengguna, live perdana itu melahirkan sebuah fandom. Ya, esok harinya, akun @aniesbubble muncul di media sosial X. Kehadiran akun itu menandai dukungan akun-akun beravatar anggota K-pop pada capres nomor urut 1.

Kemunculan Anies Bubble

Di akun @aniesbubble, Anies digambarkan layaknya seorang idola Korea. Akun tersebut kerap mengunggah ulang potongan live TikTok Anies dengan disertai teks aksara hangeul dalam bahasa Korea. Mirip seperti akun bubble yang populer di kalangan penggemar K-pop.

Bubble, sederhananya, ialah wadah yang menyuguhkan konten-konten premium idola K-pop pada pengguna berbayar. Nah, biasanya ada pengguna yang kemudian membuat akun bubble di X , yakni akun khusus untuk membagikan konten-konten tersebut agar bisa diakses publik. Akun @aniesbubble mengadopsi kultur tersebut.

Dukungan ini dipercayai sebagai gerakan organis. Artinya, bukan digerakkan oleh timnas Amien, tetapi murni muncul dari inisiatif K-popers. 

Meski banyak pihak meragukannya, banyak kalangan menganggap dukungan K-popers ini bisa saja memang organis. Sebab, inisiasi semacam ini sempat terjadi dua tahun silam di Chile.

Mirip Gabriel Boric

Dukungan penggemar K-pop kepada Anies mengingatkan banyak orang pada pilpres 2021 di Chile. Saat itu, para penggemar K-pop juga bergerak mendukung salah satu kandidat presiden.

Adalah Gabriel Boric, orang termuda yang jadi Presiden di Chile, yakni pada usia 35 tahun. Boric diusung sebagai presiden oleh koalisi partai politik Approve Dignity yang terdiri dari Partai Komunis Chile dan enam partai lainnya dengan ideologi sosialis, demokrat, dan progresif.

Seperti Anies, Boric berkampanye dengan membawa narasi perubahan, dengan janji menghadirkan kesetaraan dan kesejahteraan sosial.

Di permukaan, Chile terlihat baik-baik saja karena merupakan salah satu negara Amerika Latin dengan perekonomian paling maju dan stabil. Kendati begitu, Chile juga salah satu negara dengan tingkat kesenjangan pendapatan terbesar di dunia. Menurut PBB, 25 persen kekayaan di negara itu dipegang oleh 1 persen penduduk saja.

Boric ingin menghapus model ekonomi neoliberal Chile yang dibawa saat era diktator Augusto Pinochet. Salah satu ungkapan terkenalnya: “Jika Chile adalah tempat lahir neoliberalisme di Amerika Latin, (Chile) juga akan menjadi tempat dikuburkannya (neoliberalisme).”

Dan salah satu alasan Boric menang adalah dukungan masif dari para penggemar K-pop di Chile.

Kekuatan Politik K-popers di Chile

Seperti di kasus Anies, dukungan penggemar K-pop pada Boric juga ditandai dengan pembentukan akun Twitter, yakni @KpopersporBoric (K-popers untuk Boric, red.).

“Kami berkumpul dengan cara yang sangat organik dan spontan dan membentuk grup WhatsApp beranggotakan enam orang. Kami juga bertemu langsung dan mulai merencanakan seperti apa mobilisasi kami,” ungkap kelompok pemilik akun @kpopersporBoric.

Dukungan organik itu, yang artinya diberikan kepada Boric secara sukarela tanpa campur tangan timses, dilandasi oleh kekecewaan pada kandidat lain.

“Ketika itu. kita melihat kandidat yang sangat konservatif yang anti-aborsi dan anti-pernikahan sesama jenis ini memimpin, saya pikir semua orang ketakutan.” ungkap Claudia Ptino, mahasiswa pascasarjana HI di Korea, dikutip dari The Korea Herald (2/1/2024).

“Dan cara untuk mengatasi kenyataan menyedihkan ini adalah dengan membuat lelucon, dan itulah yang mengambil alih media.”

Bagi para K-popers itu, mendukung Boric adalah sebentuk aktivisme, menghimpun dukungan untuk memperjuangkan sesuatu yang jadi masalah bersama. Dan mereka berhasil. Gerakan politik ini mendapat respons positif dari kalangan K-popers secara luas.

Alhasil, banyak penggemar K-pop ikut berkampanye secara sukarela. Mereka memanfaatkan keterampilannya mendesain konten digital K-pop untuk membuat unggahan soal Boric, dari meme sampai video TikTok. 

Sebagai mantan aktivis mahasiswa yang langsung bekerja di parlemen selepas lulus kuliah, Boric memiliki rekam jejak jelas sebagai politikus yang berkali-kali mendukung kebijakan pro rakyat, seperti mendorong sekolah gratis. Meski begitu, ia diserang banyak ujaran kebencian dan berita bohong dari lawan politiknya. 

Dukungan K-popers berperan sangat besar. Mobilisasi konten digital @KpopersporBoric yang masif membantu menenggelamkan hashtag yang mempromosikan ujaran kebencian dan berita palsu.

Dari kerja-kerja para K-popers, dukungan pada Boric lekas meluas hingga ke fandom lain. Termasuk, para pemilih muda yang suka anime dan Taylor Swift (Swifties).

Kemenangan Boric di Chile adalah bukti bahwa K-Popers punya kekuatan politik yang tak bisa dianggap remeh.

Rekam Jejak Gerakan Politik K-popers

Pengaruh K-Popers di Indonesia bisa jadi lebih besar. Sebab, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan penggemar K-Pop terbanyak di dunia.  

Terlebih, ini bukan kali pertama K-Popers Indonesia melibatkan diri secara masif dalam aktivitas politik. Fandom K-Pop telah berulang kali bergerak secara sukarela namun terorganisir untuk memperjuangkan isu-isu sosial dan politik yang dirasa urgen.

Tahun 2019, misalnya, saat mahasiswa di berbagai penjuru negeri berdemonstrasi menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK, para K-Popers turut terlibat. Selain ikut berdemonstrasi membawa poster protes yang lucu-lucu, mereka juga berperang tagar di lini masa Twitter. Mereka masif membuat trending tagar seperti #tolakRUUKUHP maupun #GejayanMemanggil yang mengkampanyekan gerakan demonstrasi di Yogyakarta.

Saat pemerintah kembali mengeluarkan peraturan dadakan nan ganjil, Omnibus Law (UU Cipta Kerja/Ciptaker), kampanye penolakan lewat aksi langsung sulit dilakukan karena pandemi. Alhasil, kampanye penolakan terpusat pada media sosial. Di sini, K-Popers memegang andil besar.

Para K-Popers pun tak kalah aktif dalam merespons isu sosial. Mereka kerap melakukan penggalangan dana. Misalnya, pada Oktober 2023 lalu, fandom BTS Army Indonesia melakukan penggalangan dana untuk Palestina. Dalam tiga hari saja, dana yang terkumpul sudah lebih dari 1 miliar rupiah.

Dengan itu, jika aktivisme adalah soal menghimpun sebanyak mungkin orang mendukung suatu isu atau permasalahan, K-Popers adalah kalangan dengan kekuatan politik besar.

K-Popers Anti Politisasi K-pop

Meski merupakan ceruk besar, massa penggemar K-Pop tidaklah mudah disetir untuk ikut politik. Sejumlah agensi dan Idola K-Pop di Korea memegang prinsip untuk tidak terlibat dalam aktivitas yang ada sangkut pautnya dengan kepentingan politik, terutama terkait elektoral. Itu memberi contoh pada para penggemar K-Pop bahwa K-Pop semestinya tak pantas dipolitisasi.

Oleh sebab itu, para penggemar tidak akan terima jika idola mereka dipakai untuk kepentingan politik oleh partai atau siapa pun dengan kepentingan elektoral. Berkampanye dengan mencomot idola K-Pop justru membuat K-Popers antipati alih-alih bersimpati hingga tertarik memilih.

Inilah yang tak dipahami banyak buzzer politik. Mereka menganggap K-Popers sebagai massa yang labil dan mudah disetir. Padahal, K-Popers adalah massa yang beragam dan terbiasa saling bertukar informasi dan saling mengoreksi informasi maupun konten yang mereka unggah. Alhasil, mereka punya hal-hal yang spesifik. Istilah bubble pada Anies Bubble, misalnya, tak akan muncul dari buzzer yang awam.

Itu sebabnya, ketika sejumlah orang di X menyarankan agar Timnas Amin merespons dukungan para K-Popers, banyak orang justru menyarankan sebaliknya. Biarkan saja tetap organik. Mereka justru bisa antipati kalau idolanya dipolitisasi.

Merespons itu, sempat muncul akun X @anieskpop yang agaknya dibuat untuk membuat kesal para K-Popers. Kontennya khas bikinan buzzer awam. Foto BTS disandingkan dengan pasangan Amin, seakan-akan mereka mendukung kemenangan paslon nomor 1 itu.

Orang-orang lekas menyadari bahwa itu bukan bikinan penggemar K-Pop. Pun, akun itu justru dianggap bikinan buzzer kubu lain. Sebab, dengan pengikut yang masih sedikit, kicauan akun itu sudah banyak dibagikan, kebanyakan oleh akun-akun pendukung paslon lain, dengan nada mengejek.

K-Popifikasi Politik

Anies Bubble berhasil mengambil simpati K-Popers lain karena yang ia lakukan bukanlah politisasi K-Pop, melainkan K-Popifikasi Politik. Ia tidak mencomot para idola yang digemari K-Popers, tapi menampilkan sosok politikus layaknya seorang idola Kpop. Itu menjadi gimik yang menarik bagi para K-Popers lain, dan menginspirasi mereka untuk membuat hal-hal serupa.

Anies, misalnya mendapat nama Korea, Park Ahn Nice, dari para K-popers. Sejumlah penggemar bahkan photocard atau pc seperti yang biasa dijual oleh agensi K-Pop. Tak lupa, Anies pun mendapatkan emoji burung hantu yang melambangkan kecerdasan dan kebijaksanaan.

Inisiatif para K-Popers membuat kampanye politik tampak lebih segar, sekaligus strategis karena “terbahasakan” dengan cara yang biasa menarik perhatian anak muda. 

Seperti dukungan K-Popers di Chile menggerakkan dukungan fandom lain, dukungan K-Popers pada Anies menggerakkan sejumlah orang ikut mendukung secara teorganisir. Pemilik akun x @andikamalreza, misalnya, membuat tawaran pada para pembuat konten TikTok untuk bersama-sama meramaikan TikTok dengan kampanye “Jedag-Jedug for Amin 01”

Mengingat, selama ini paslon tersebut belum merambah konten TikTok. Sementara, konten terkait Anies di TikTok lebih banyak berupa kampanye negatif, seperti hoaks bahwa Anies akan menjanjikan KTP bagi pengungsi Rohingya.

Seperti lama digembor-gemborkan, anak muda akan punya andil besar pada pemilu 2024. Anies beruntung mendapat dukungan banyak anak muda lewat komunitas dengan massa paling besar di negeri ini, salah satunya dari para K-popers. Meski tentu saja, ikut hype belum tentu ikut mencoblos.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga & Safar

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] calon nomor urut 1 kian sering mendapat embusan angin segar dari para pemilih. Setelah dapat dukungan penggemar K-Pop, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) dapat dukungan besar dari gerakan tanda pagar (tagar) […]