Jika Pasangan Capres-Cawapres Adalah Tag Team Gulat Profesional

by | Nov 30, 2023

Anies Baswedan | Ganjar Pranowo | Gulat Profesional | Hiburan | Pilpres 2024 | Politik | Prabowo Subianto

FOMOMEDIA – Politik, seperti gulat profesional, adalah panggung sandiwara, dan inilah tiga tag team capres-cawapres yang akan bertarung di Pilpres 2024.

Donald Trump bukan persona gulat profesional pertama yang pada akhirnya sukses memegang jabatan publik lewat mekanisme pemilihan umum. Akan tetapi, dialah yang membuat orang melihat adanya koherensi nyata antara politik dan gulat profesional.

Trump, pada pertengahan 2000-an, pernah terlibat dalam sebuah storyline di promosi gulat World Wrestling Entertainment (WWE). Bos WWE, Vince McMahon, terlibat langsung dalam storyline itu.

Puncaknya, dalam gelaran WrestleMania XXIII, Trump dan McMahon “berhadapan” di atas ring melalui dua pegulat pilihan mereka. Trump memilih Bobby Lashley sebagai jagoan, McMahon memilih Umaga. Di akhir cerita, Lashley berhasil menundukkan Umaga sehingga McMahon harus menerima konsekuensi. Yakni, rambutnya dicukur habis oleh Trump.

Perlu dicatat, Trump yang terlibat dalam storyline WWE kala itu bukanlah Trump yang sebenarnya. Sebab, Trump yang sesungguhnya adalah salah satu sobat karib McMahon

Saat Trump mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, McMahon dan keluarganya pun ikut mendonasikan uang. Bahkan, istri Vince McMahon, Linda, pada akhirnya mendapatkan satu kursi di kabinet Trump.

Pertanyaannya, apakah Trump yang mencalonkan diri sebagai presiden itu pun bisa dibilang Trump yang sebenarnya?

Entahlah. Yang jelas, Trump ketika itu berhasil menciptakan persona yang begitu menyihir kaum Republikan. Retorika-retorikanya begitu ganas. Analogi-analoginya begitu mudah dicerna. Slogan-slogannya begitu catchy. Meski bisnis-bisnisnya semrawut dan kerap boncos, Trump mampu menjadi “Raja Midas” di dunia politik.

Dan sisanya, tentu saja, adalah sejarah. Trump terpilih sebagai presiden pada 2016.  Walau kemudian kalah dari Joe Biden dalam pemilihan 2020, citra Trump sebagai (calon) presiden tetap kuat.

Minim Substansi tapi Disukai

Buktinya, kendati tersandung kasus hukum, dia masih jadi kandidat terkuat dari Partai Republik untuk Pemilihan Presiden di 2024 mendatang. Nama Trump, bagi kaum yang merelakan akal sehatnya dikorup oleh kebencian, masih demikian harum.

Keberhasilan Trump menciptakan persona dalam pemilihan presiden Amerika Serikat itu membuat orang-orang menarik benang merah ke dunia gulat profesional. Pasalnya, dalam gulat profesional, sehebat apa pun kamu beratraksi, namamu tidak akan dikenang kalau kamu tidak bisa menciptakan persona yang bisa menjangkau audiens.

The Rock dan John Cena, misalnya. Kemampuan mereka bergulat sebetulnya masih kalah jika dibandingkan dengan, katakanlah, Dean Malenko atau 2 Cold Scorpio. Akan tetapi, The Rock dan John Cena mampu menciptakan persona yang kuat, yang pada akhirnya terekam dengan kuat di memori publik. Dan itu adalah kunci sukses dalam gulat profesional serta politik.

Nah, sekarang, mari kita anggap bahwa pasangan capres dan cawapres adalah tag team gulat profesional. Kira-kira tag team manakah yang paling cocok dibandingkan dengan pasangan capres-cawapres yang ada di Indonesia saat ini?

01) Anies – Muhaimin: D-Generation X (Triple H & Shawn Michaels)

Sebetulnya, persona D-Generation X (DX) bisa dibilang berbanding terbalik dengan citra yang (berusaha) ditampilkan oleh pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Jika DX adalah tag team yang slengean dan seronok, Anies-Muhaimin punya citra cerdas dan agamis.

Namun, jika kita bandingkan Anies dengan Triple H dan Muhaimin dengan Shawn Michaels, niscaya kita akan menemukan persamaan.

Triple H punya julukan The Cerebral Assassin (Si Pembunuh Cerdas) karena sosok satu ini memiliki kecerdasan dalam memanfaatkan kelemahan dan kelengahan lawan. Tak jarang dia berafiliasi dengan faksi tertentu yang dianggap bakal memberi keuntungan baginya.

Selain itu, Triple H juga tak segan-segan mengkhianati rekannya sendiri jika itu dirasa bisa membawanya sampai pada titik tertentu. Semua itu dilakukannya dengan penuh perhitungan sehingga muncullah julukan The Cerebral Assassin tadi.

Anies punya citra mirip dengan Triple H. Sampai sekarang, publik masih melihat dirinya sebagai sosok akademisi yang cerdas. Namun, kecerdasan Anies tidak sampai di tataran itu saja karena, secara politik pun, dia begitu piawai memanfaatkan situasi, termasuk dengan mengasosiasikan diri dengan “kelompok tertentu”. Dan jangan lupa, ada juga yang merasa dikhianati oleh Anies dalam penentuan capres-cawapres kali ini. Hehehe.

Sementara itu, Shawn Michaels yang merupakan pasangan tag team Triple H di DX dikenal sebagai The Showstopper. Michaels tak cuma piawai bermanuver di atas ring tetapi juga memiliki karisma khas anak bandel yang bikin penonton, mau tidak mau dan suka tidak suka, berdecak kagum.

Slengean seperti DX

Video Anies-Muhaimin untuk memperingati Hari Santri 2023 menunjukkan karakter ala Michaels dalam diri Muhaimin. Dengan slengeannya, Muhaimin terlihat menyabet Anies dengan gulungan sarung. Aksi tak terduga ala Muhaimin ini tak jauh berbeda dengan tingkah “di luar nurul” ala Michaels.

Michaels, yang dijuluki The Heartbreak Kid itu, pernah berulah saat berhadapan dengan Hulk Hogan di Summerslam 2002. Tak terima karena diharuskan kalah dalam pertarungan itu, Michaels memutuskan untuk mencuri atensi publik dengan cara bereaksi dengan super lebay tiap kali diserang oleh Hogan. Pada akhirnya, yang diingat khalayak dari pertandingan itu adalah aksi-aksi konyol Michaels, bukan kemenangan Hogan.

Nah, selain itu, Muhaimin juga sedikit banyak bisa dijuluki The Heartbreak Kid karena dia pernah menjadi bocah yang bikin sakit hati. Di Muktamar Ancol 2008, Muhaimin sukses “merampas” Partai Kebangsaan Bangsa (PKB) dari sang paman, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

02) Prabowo – Gibran: Sting & Darby Allin

Sudah tua dan seharusnya sudah pensiun. Itulah Sting, pegulat legendaris yang kini masih menjadi bagian dari All Elite Wrestling (AEW). Memulai karier pada dekade 1980-an, pria bernama asli Steve Borden itu kini telah memasuki dasawarsa kelima di dunia gulat profesional.

Belum lama ini, Sting telah mengumumkan bahwa dirinya bakal segera pensiun. Akan tetapi, sebelum ini, meski sudah berusia kepala enam, dirinya masih cakap beraksi di atas ring. Beberapa kali pula dia melakukan aksi-aksi berbahaya seperti melompat dari atas tribune.

Dalam sejarah gulat profesional, Sting adalah salah satu dari yang terbaik sepanjang masa. Akan tetapi, tidak ada yang pernah menyebutnya sebagai yang paling hebat. Selalu ada sosok-sosok lain yang diposisikan di atas dirinya. 

Dan, ya, Prabowo Subianto pun seperti itu. Salah satu yang terhebat, tetapi bukan yang paling hebat. Seorang elder statesman yang kaya pengalaman serta reputasi, tetapi tak pernah sampai ke puncak.

Pasangan Tua-Muda

Selama mengarungi karier di AEW, Sting selalu berpasangan dengan Darby Allin, seorang pegulat muda yang dikenal suka bertindak sembrono. Lompat sana lompat sini, tabrak ini tabrak itu. Senjata utama Allin adalah kesembronoannya itu. Dan bicara soal kesembronoan sebagai senjata, berarti bicara soal Gibran Rakabuming Raka.

Bukan, bukan Gibran yang sembrono, tetapi bagaimana dia digolkan sebagai cawapres yang mengandung level kesembronoan tinggi. Bagaimana tidak? Dengan bantuan pamannya yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Gibran diberi jalan mulus untuk maju sebagai cawapres.

Tentu saja, Presiden Joko Widodo (Jokowi), ayah Gibran, ditengarai ada di balik itu semua. Setelah wacana memperpanjang masa jabatan ditolak mentah-mentah oleh publik, Jokowi tak kehabisan akal. Sang adik ipar, Anwar Usman, yang juga Ketua MK itu, pun diberdayakan.

Hasilnya adalah keputusan soal batas usia minimum capres-cawapres. Seseorang yang belum 40 tahun boleh-boleh saja mencalonkan diri sebagai capres atau cawapres, asalkan pernah atau sedang menjabat sebagai kepala daerah. Publik dibuat geram dengan manuver sembrono itu. Namun, bagi Gibran, pada akhirnya itu justru jadi amunisi untuk maju sebagai calon orang nomor dua di “republik” ini.

03) Ganjar – Mahfud: FTR (Dax Harwood & Cash Wheeler)

Daya jual utama FTR, yang beranggotakan Dax Harwood dan Cash Wheeler, adalah teknik bergulat mereka yang mumpuni. Tag team yang satu ini mampu menampilkan gerakan-gerakan gulat yang terlihat begitu meyakinkan layaknya dalam pertarungan bona fide. Dengan kata lain, jenama mereka adalah kompetensi.

Bisa dibilang, pasangan capres-cawapres Ganjar Pranowo dan Mahfud MD pun begitu. Mereka berdua punya rekam jejak panjang dan boleh dibilang berhasil walaupun, tentu saja, masih ada kekurangan di sana-sini. 

Sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar telah meraih berbagai penghargaan yang menandakan bahwa dirinya memang punya kompetensi dalam memimpin. Sedangkan, kompetensi Mahfud bisa dilihat dari betapa lamanya dia bertahan di pemerintahan.

Harwood, dalam gulat profesional, punya kemiripan dengan Ganjar. Dibandingkan dengan Wheeler, Harwood lebih sering berbicara karena memiliki keunggulan dalam kemampuan verbal serta karisma. Ganjar pun demikian. Kemampuan berbicaranya jempolan dan punya karisma yang membuat orang, mau tidak mau, mesti menoleh kepadanya.

Menariknya, “penyakit” utama Harwood pun serupa dengan Ganjar. Saking seringnya berbicara atau mengomentari sesuatu, keduanya beberapa kali jatuh dalam jurang bernama blunder.

Tukang Blunder & Loose Cannon

Harwood acap dikritik oleh para penggemar gulat karena dianggap terlalu sering menjelek-jelekkan rival FTR, The Young Bucks. Ganjar, sementara itu, diserang publik akibat pernyataannya tentang film porno dan penolakannya terhadap kedatangan Israel di Piala Dunia U-20 yang berujung pada dibatalkannya penyelenggaraan turnamen di Indonesia.

Mahfud, di sisi lain, tampak lebih tenang, sama dengan Wheeler. Akan tetapi, keduanya bisa dibilang sebagai meriam lepas (loose cannon). Suatu kali, dalam sebuah rapat kabinet, Gus Dur pernah berkata bahwa Mahfud adalah “peluru yang tidak terkendali”. Ini dilakukan Gus Dur karena Mahfud memang dikenal suka bertindak tanpa kompromi atau permisi.

Nah, bicara soal peluru, belum lama ini Wheeler sempat berurusan dengan aparat penegak hukum negara bagian Florida, Amerika Serikat, karena kedapatan mengacungkan pistol pada seorang pengguna jalan. Wheeler tak secerewet rekannya dalam berbicara. Akan tetapi, seperti Mahfud, dia memilih untuk bicara dengan “aksi nyata”.

***

Ini kenyataan yang pahit, mungkin. Akan tetapi, kita harus menerima fakta bahwa citra dan persona memegang peranan penting dalam pemenangan kandidat dalam pemilihan umum. Pasalnya, tidak semua pemilih bisa dikategorikan sebagai pemilih rasional.

Namun, justru di situlah letak dari seni dalam berpolitik. Di dalamnya akan selalu ada persona-persona larger than life yang berusaha meyakinkan khalayak bahwa dialah sang juru selamat.

Selama tidak menghina akal sehat, rasanya keberadaan sosok-sosok seperti itu tidak perlu disikapi dengan antipati. Namun, alangkah baiknya jika kita semua bisa menjaga skeptisisme agar tak terus-terusan dikibuli janji kosong.

Penulis: Yoga

Editor: Elin

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments