Ilmuwan Merekonstruksi Lagu Pink Floyd dari Gelombang Otak

by | Aug 16, 2023

Internasional | Kecerdasan Buatan | Musik | Pink Floyd | Teknologi

FOMOMEDIA – Pikiran manusia bisa diterjemahkan dengan bantuan AI. Bahkan, lagu “Another Brick in the Wall” karya Pink Floyd bisa direkonstruksi ulang melalui gelombang otak.

Siapa sangka jika sebuah lagu bisa didengarkan ulang melalui gelombang otak? Para ilmuwan di University of California, Berkeley, Amerika Serikat (AS), telah membuktikannya.

Melalui lagu “Another Brick in the Wall” karya Pink Floyd, para ilmuwan tersebut telah merekonstruksi ulang lagu. Metode yang mereka gunakan yakni menguping gelombang otak orang dengan lagu yang dikenali lalu diterjemahkan. Hasilnya, terdapat sebuah rekaan aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otak.

Salah satu tujuan eksperimen tersebut, yakni untuk membantu orang-orang dengan gejala gangguan kelumpuhan neurologis. Para pasien dengan kondisi seperti itu diharapkan bisa berkomunikasi dan bisa memulihkan musikalitasnya.

Dalam uji coba sebelumnya, para ilmuwan di universitas itu telah berhasil menguraikan ucapan yang hanya dilakukan dalam diam. Mereka telah menerjemahkan apa yang dikatakan otak tanpa perlu mulut mengucapkannya.

“Secara umum, semua upaya rekonstruksi ini memiliki kualitas robotik”, kata Robert Knight, seorang ahli saraf yang ikut melakukan penelitian bersama Ludovic Bellier, dikutip dari The Guardian.

“Musik, pada dasarnya, bersifat emosional dan prosodi—ia memiliki ritme, tekanan, aksen, dan intonasi. Ini berisi spektrum hal yang jauh lebih besar daripada fonem terbatas dalam bahasa apa pun, yang dapat menambah dimensi lain pada dekoder ucapan yang dapat ditanamkan,” lanjutnya.

Menurut laporan The Guardian, tim peneliti telah menganalisis hasil rekaman otak dari 29 pasien. Mereka diminta untuk memainkan musik sekitar tiga menit lagu dari grup band asal Inggris itu.

Otak para pasien tersebut dideteksi dengan menempatkan elektrode langsung di permukaan otak mereka seperti saat menjalani operasi epilepsi.

Bantuan AI

Dalam menerjemahkan bahasa otak tersebut, dibutuhkan bantuan kecerdasan buatan AI (artificial intelligence) untuk menjadikannya sebuah ritme musik. Ritme dan melodi yang direkonstruksi pun menghasilkan musik yang utuh.

Menurut Knight, dengan metode perekaman otak tersebut, seseorang bisa melakukan komunikasi di bawah air. Ia pun percaya bahwa dengan menggunakan alat elektrode yang memiliki kerapatan tinggi bisa menghasilkan kualitas terbaik.

“Sekarang kita tahu bagaimana melakukan ini, saya pikir jika kita memiliki elektrode yang terpisah satu setengah milimeter, kualitas suaranya akan jauh lebih baik,” ujar Knight.

Sebelumnya, telah ada penelitian yang bisa menerjemahkan aktivitas otak menjadi aliran teks. Dengan menggunakan dekoder AI, kegiatan tersebut bisa dilakukan. 

Penelitian tersebut pernah dilakukan oleh Alexander Huth, seorang ahli saraf di University of Texas, Austin, AS. Pada 2023 ini, ia mengumumkan bahwa telah berhasil menerjemahkan aktivitas otak menjadi bahasa teks.

“Ini [studi baru] adalah demonstrasi yang sangat bagus bahwa banyak teknik yang sama yang telah dikembangkan untuk decoding ucapan juga dapat diterapkan pada musik—domain yang kurang dihargai di bidang kami, mengingat betapa pentingnya pengalaman musik di hidup kami,” kata Huth.

Menurut Huth, dengan adanya metode perekaman musik pada otak, tidak menutup kemungkinan di masa depan bisa digunakan untuk komunikasi antarmuka langsung.

Penulis: Sunardi

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments