Henry Kissinger, Diplomat Sekaligus Penjahat Perang AS, Meninggal Dunia

by | Nov 30, 2023

Amerika Serikat | Henry Kissinger | Internasional | Politik

FOMOMEDIA – Henry Kissinger menjadi paradoks dalam perpolitikan global. Ia diganjar Nobel Perdamaian meski tangannya berlumuran darah.

Nama Henry Kissinger memang populer dalam perpolitikan Amerika Serikat (AS). Ia dianggap sebagai salah satu tokoh politik yang berpengaruh bagi Negeri Paman Sam. Pada Rabu (29/11/2023), ia mengembuskan napas terakhirnya.

Kissinger meninggal di usianya yang ke-100 tahun. Selama hidup satu abad terakhir, ia telah menjadi saksi berbagai krisis kemanusiaan sejak Perang Dunia II hingga Perang Dingin.

Bagi sebagian orang, nama Kissinger memang tidak asing. Ia tampil sebagai paradoks di tengah berkecamuknya situasi global pada medio 1960 hingga 1970-an.

Kiprah di dunia politik membuat Kissinger mendapat penghargaan Nobel Perdamaian yang kontroversial. Ia dianggap mampu mengakhiri Perang Vietnam dan mengakui kekalahan AS di Asia Tenggara.

Meski mendapat hadiah Nobel Perdamaian, tangan Kissinger dipenuhi dengan darah. Ia dianggap menjadi dalang dan juru taktik perang AS yang menelan banyak nyawa.

Lalu, apa saja yang selama ini dilakukan oleh Kissinger? Mengapa ia mendapat hadiah nobel meski dirinya dicap sebagai penjahat perang?

Tumbuh dengan Gejolak Politik

Kissinger lahir di Jerman pada 27 Mei 1923. Ia memiliki nama lengkap Heinz Alfred Kissinger. Namun, namanya yang dikenal publik adalah Henry Kissinger.

Kissinger tumbuh dan berkembang dari lingkungan Yahudi yang tinggal di Jerman. Sejak Nazi di bawah pimpinan Adolf Hitler berkuasa pada 1938, ia bersama keluarganya melarikan diri ke luar negeri.

Suaka pertama yang dituju oleh Kissinger yakni London. Setelah dari situ, Kota New York, AS, jadi tempat tujuan berikutnya. Dari situlah, kemudian Kissinger menerima kewarganegaraan Amerika.

Menjadi warga Amerika tidak membuat hidup Kissinger berleha-leha. Ia justru langsung mengikuti wajib militer. 

Kemampuannya berbahasa Jerman memang bermanfaat. Kissinger pun akhirnya ditarik ke bidang intelijen militer.

Ketika Jerman takluk dari Sekutu pada Perang Dunia II, Kissinger kembali ke negara kelahirannya. Di Jerman, ia sempat ditempatkan di Kota Krefeld dan Hannover.

Pekerjaannya di Jerman tidak begitu lama. Kissinger pun ditarik kembali ke AS pada 1947, sekaligus menandai akhir dari dinas militernya.

Menjadi Diplomat

Henry Kissinger memang tertarik dengan dunia politik. Sejak kembali dari Jerman, ia memutuskan untuk kuliah di Harvard College dengan mengambil jurusan politik. Bahkan, tak tanggung-tanggung, ia pun berhasil menyabet gelar doktor di Harvard University.

Pada 1957, karier politik Kissinger makin terlihat. Tahun tersebut ia berhasil menjadi penasihat Gubernur New York, Nelson Rockefeller.

Satu dekade kemudian, tepatnya pada 1968, Kissinger diangkat oleh Richard Nixon sebagai Penasihat Keamanan Nasional. Sejak saat itulah namanya semakin dipertimbangkan dalam perpolitikan AS.

Pada 1973, karier politik Kissinger makin moncer. Pada tahun tersebut ia diangkat menjadi menteri luar negeri. Di bawah dua presiden AS,  Richard Nixon dan Gerald Ford, Kissinger menjalankan strategi politik luar negerinya.

Pengaruh Kissinger memang luar biasa. Meski Nixon tersandung skandal Watergate, Kissinger tidak turut lengser. Ia pun masih dipercaya oleh Ford untuk menjalankan politik luar negeri AS.

Nobel yang Tidak Pantas Diterima

Sosok Kissinger memang sangat kontroversial. Ia berperan penting dalam menjaga dan memenangkan AS dalam pertempuran pengaruh geopolitik selama Perang Dingin.

Selama masa Perang Dingin tersebut, Kissinger terlibat dalam berbagai proyek global. Beberapa prestasi yang ia lakukan yakni adanya pembukaan hubungan diplomatik antara AS dengan China. Bahkan, ia berhasil melakukan perundingan penting mengenai pengendalian senjata antara AS dan Uni Soviet.

Beberapa prestasi lain terkait kebijakan luar negeri lainnya yang dilakukan Kissinger yakni mampu meluaskan hubungan Israel dengan negara-negara Arab. Selain itu, ia juga dianggap berkontribusi penting adanya perjanjian damai yang mengakhiri Perang Vietnam.

Dari beberapa prestasi itulah Kissinger akhirnya diganjar Nobel Perdamaian. Pada 1973, hadiah tersebut diberikan bersama dengan Le Duc Tho, tokoh Komunis Vietnam.

Kissinger menerima hadiah tersebut. Namun, hal berbeda dilakukan oleh Le Duc Tho. Tokoh komunis tersebut menolak penghargaan tersebut lantaran masih ada pekerjaan mengusir pasukan AS di negaranya yang belum berakhir.

Tak sedikir yang menentang Nobel Perdamaian untuk Kissinger. Mereka bahkan mencap pria bertubuh pendek itu dengan sebutan “penjahat perang”.

Kissinger menghalalkan segala cara untuk memastikan kepentingan nasional AS terpenuhi. Bahkan, ia tak segan untuk mengerahkan militer AS ke negara yang dianggap bermasalah.

Penindasan dan pembunuhan massal bisa saja dilakukan AS. Apalagi, hal itu jika dirasa bisa memperkuat posisi geopolitik AS di mata dunia. Sosok Kissinger tersebut bahkan dianggap sering mengesampingkan hukum internasional, dan lebih memilih strategi kebijakan luar negerinya sendiri.

Dalam hal perang, Kissinger pernah berperan dalam pemboman di Kamboja. Dalam peristiwa tersebut, setidaknya ada 50 ribu hingga 150 ribu masyarakat sipil yang tewas.

Bersama Nixon, Kissinger getol menghalangi ide-ide sayap kiri. Salah satu tindakannya yakni ia bersekongkol dengan CIA untuk menggulingkan Presiden Chili Salvador Allende. Presiden tersebut, meski dipilih secara demokratis, dianggap Kissinger berhaluan Marxis.

Peran Kissinger di Indonesia

Pengaruh Kissinger di Asia Tenggara memang kuat. Termasuk di Indonesia yang tidak bisa lepas darinya.

Sejak Kissinger menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional dan menjadi Menteri Luar Negeri AS, Indonesia sudah berada di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Sejak saat itulah pengaruh AS makin besar di Tanah Air.

Soeharto sangat pro terhadap kebijakan AS. Apalagi, beberapa sumber menyebut bahwa Soeharto bisa naik menjadi presiden lantaran adanya bantuan dari Negeri Paman Sam itu.

Di Indonesia, Kissinger menyebarkan pengaruhnya ketika konflik di Timor Timur. Pria tersebut dianggap memberi lampu hijau kepada Soeharto untuk melakukan invasi.

Dalam laporan DW, disebutkan bahwa Presiden Ford dan Kissinger berada di Jakarta pada awal Desember 1975. Waktu itu, AS akan menjamin kerja sama dan mendukung pemerintahan Soeharto, tapi syaratnya harus segera menyelesaikan invasi ke Timor Timur itu.

Selain masalah Timor Timur, Kissinger dianggap berperan dalam “referendum palsu” di Papua pada tahun 1969, yang diadakan oleh PBB. Pada waktu itu, AS menjamin bahwa Papua Barat akan menjadi kekuasaan Indonesia asalkan Freeport bisa masuk ke Papua.

Itulah sederet kontroversi yang dilakukan oleh Kissinger. Ia dianggap harus bertanggung jawab atas beberapa kebijakan luar negeri AS yang menyebabkan banyak korban jiwa meninggal. 

Di bawah kebijakan Kissinger, AS mendukung berbagai kebijakan invasi militer negara asing. Mulai dari Indonesia, Laos, Pakistan, Vietnam, Kamboja, dan Chili tak bisa dilepaskan dari sosok Kissinger.

Meski banyak aktivis yang menentang sosok Kissinger, sampai mengembuskan napas terakhirnya pun ia tidak pernah diseret ke meja hijau. Sosok Kissinger pun jadi paradoks.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments