Hantu yang Saya Lihat Berbeda dengan Hantu di Film Horor Indonesia

by | Sep 5, 2023

Budaya | Film | Hantu | Sosial

FOMOMEDIA – Saya yakin pernah melihat hantu. Tapi, hantu yang saya lihat berbeda dari hantu di film horor. Kok, bisa, ya?

Perihal hantu, ada ingatan masa kecil yang sangat membekas dalam benak saya. Ketika itu kami tinggal di pulau kecil di bagian timur kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Ayah saya seorang kepala sekolah. Kami tinggal di rumah dinas yang dekat dengan sekolah.

Posisi sekolah dan rumah dinas tersebut di ujung kampung. Hanya ada dua sampai tiga rumah di sana. Sehingga, kondisinya sepi. Ditambah lagi kampung itu masih disebut dusun, bukan desa. Jadi, jumlah penduduknya masih sedikit. Mungkin tidak lebih dari 50 kepala keluarga. 

Di satu malam yang belum larut, di rumah dinas tersebut, saya menengok keluar lewat jendela kayu, yang modelnya seperti jeruji besi. Saya melihat banyak orang sedang berjalan rapi ke arah ke belakang rumah kami yang ditumbuhi banyak pohon.

Orang-orang itu tampak seragam. Pakai peci putih, baju putih, dan membawa obor. Wajah mereka semua mirip dan terlihat sudah tua. Tidak menengok kiri kanan. Semua menghadap ke depan. 

Tidak Seram tetapi Janggal

Saya saat itu melihat tanpa ada rasa takut. Sebab, anggapan saya ketika itu, mereka adalah orang yang pawai dari masjid. Namun, seiring beranjak dewasa, saya mulai menyadari bahwa pemandangan yang saya lihat itu aneh. Tak jarang,  muncul spekulasi bahwa, jangan-jangan, orang-orang yang lewat itu adalah makhluk gaib, atau setan, atau apalah namanya. 

Saya ingat betul bahwa jumlah penduduk di dusun kami itu tidak banyak. Maka, saya pun heran. Kok, bisa ada orang sebanyak itu, bahkan lebih banyak dari penghuni dusun, melakukan pawai malam-malam?

Ilustrasi pawai obor. (Foto: Suara NTB)

Kemudian, mengapa mereka berbaris-baris demikian membawa obor dengan memakai baju putih? Padahal, waktu itu bukan malam takbiran, atau bulan Ramadan, atau menyambut hari besar Islam. 

Keanehan lainnya, mengapa orang-orang itu melewati rumah kami dan menuju belakang rumah yang notabenenya tidak ada rumah, hanya pohon kelapa dan semak-semak? Jadi, agak aneh ketika orang-orang berjalan ke sana. 

Konstruksi Citra Hantu

Jelas, saat itu saya belum punya gambaran wujud makhluk gaib itu seperti apa. Saya belum banyak terpapar pengetahuan tentang setan dan semacamnya. Baru setelah masuk sekolah dasar, saya mulai mengonsumsi tayangan film-film di televisi yang memutarkan film seperti Jelangkung, Jadi Pocong, dan film horor yang dibintangi Suzzanna. 

Hantu Suzzanna mulai mengonstruksi pikiran saya—mungkin juga banyak anak kecil lainnya—bahwa hantu itu berwujud perempuan, wajahnya putih, area mata hitam, dengan suara tawa cekikian yang khas. Dan, kadang-kadang, orang dewasa yang menakuti-nakuti anak kecil memakai suara Suzzanna itu. 

Tahun-tahun berikutnya, kami juga disuguhi film horor baik di televisi nasional maupun yang kami tonton dari DVD bajakan yang kami beli di kabupaten. Dari situlah, gambaran hantu terbentuk di pikiran kami. Misalnya, pocong, kuntilanak, tuyul, dan genderuwo. 

Persepsi awal tentang hantu di film horor ini diteliti oleh Justito Adiprasetio dan Annissa Winda Larasati, dengan judul artikel “Deconstructing Pocong, the Indonesian Sacred Ghost: A Diachronic Analysis of Mumun (2022), Indonesian Contemporary Horror Film”. 

Titik pijak artikel tersebut dari film Mumun (2022) yang menjadikan pocong sebagai hantu utama. Dan Justito dan Annisa mengomparasikan beberapa film horor pocong yang sempat booming pada awal Reformasi.

Film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023) (Foto: Instagram/@sorayaintercinefilms)

Bermula dari Karya Mandra

Pada awal reformasi, Indosiar Karya Media menayangkan serial berjudul Jadi Pocong (2002-2003). Serial ini diproduseri oleh Mandra yang juga menjadi pemeran utama. Dengan mengusung latar budaya Betawi yang kental, film seri ini sebetulnya merupakan tayangan komedi. Akan tetapi, secara tidak langsung, Jadi Pocong menjadi tonggak terciptanya zeitgeist baru dalam jagat film horor Tanah Air.

Setelah serial Jadi Pocong, film horor yang hantu utamanya pocong bermunculan lebih banyak mulai dekade 2000-an. Terhitung sejak tahun 2000 hingga 2020, ada 37 film dengan pocong sebagai setan utama. Sementara pada era Orde Baru, tepatnya pada periode 1970–1998, hanya Setan Kuburan (1975) yang menjadikan pocong sebagai hantu utamanya. 

Artinya, setelah Orde Baru tumbang, pocong jadi populer. Yang jadi pertanyaan, apakah pocong juga takut kepada pemerintahan Orde Baru?

Kata Justito dan Annisa, “Sepanjang era otoriter Orde Baru, industri sinema dipengaruhi oleh kekuatan pemerintah, cerminan ideologi negara dan ekonomi politik lewat peraturan, sensor, kontrol, dan kepemilikan.” 

Setelah Orde Baru tumbang, sineas mulai berani bereksplorasi tanpa khawatir dengan kemauan pemerintah. Maka, muncullah film horor dengan judul Jelangkung pada 2001. 

Film Jelangkung menjadi kebangkitan film horor Indonesia yang dianggap sebagai salah satu film Indonesia paling sukses setelah Reformasi. Menurut Justito dan Annisa, kebangkitan film horor Indonesia ini menjadi awal gelombang baru yang dikenal dengan “New Asian Horror”.

Dari situ, pencinta film Tanah Air disuguhi beragam film horor. Bahkan, profesi kesehatan pun ada setannya, seperti Suster Ngesot (2007), Suster Keramas (2009), dan Bangkitnya Suster Gepeng (2012). 

Bioskop Tanah Air Dibanjiri Film Horor, Mengapa?

KKN di Desa Penari (2022) membuat kejutan di industri film Indonesia. Sebab, di tengah pandemi COVID-19, film produksi MD Pictures itu tercatat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa di Tanah Air, dengan jumlah penonton di bioskop menembus 10,6 juta orang.

Tangkapan layar KKN di Desa Penari

Angka tersebut selisih jauh dengan film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) yang sebelumnya pernah di posisi pertama penonton terbanyak di Indonesia, yakni sebanyak 6,8 juta orang. 

Di posisi  ketiga ada film garapan Joko Anwar, Pengabdi Setan 2: Communion (2022) dengan jumlah penonton sebanyak 6,3 juta. Kalau lihat 20 daftar film terlaris di Indonesia, ada 7 film bergenre horor. Artinya, bisa disebut pencinta film Tanah Air memang menggemari genre horor. 

Kelarisan Desa Penari itu tidak lepas dari hausnya masyarakat akan hiburan setelah lama berada di rumah akibat pandemi. Namun, selain itu, menurut pengajar di Departemen Film Universitas Binus, Ekky Imanjaya, “Kualitas film-film komersial yang terbit di bioskop cenderung membaik dan juga variatif.”

Hantu yang Relatable?

Sementara menurut pengamat film, Hikmat Darmawan, “Horor lokal itu dekat dengan cerita yang beredar di masyarakat. Horor itu juga seringkali mengandung kritik terhadap keadaan sosial.”

Dikutip dari CNN Indonesia, Hikmat menyebutkan, film horor Indonesia kerap menyesuaikan dengan tren sosial. Misalnya, pada dekade 80-an, banyak kisah film horor yang berkenaan dengan komedi dan tokoh religi. Kemudian, pada 2000-an, film horor menampilkan kisah-kisah yang berkaitan dengan lokasi-lokasi tertentu yang punya cerita mistis.

Berangkat dari pernyataan Hikmat itu, bisa jadi, salah satu orang-orang tertarik nonton film horor karena merasa relate dengan jalan ceritanya. Seperti film KKN di Desa Penari yang diangkat dari kisah nyata yang diceritakan oleh Simpleman dalam utas panjangnya. 

Sedangkan menurut penulis horor, Nadia Bulkin, seperti dilansir oleh VOA Indonesia, “Anak-anak Indonesia mendapatkan banyak cerita horor ketika mereka masih sangat muda. Saya sendiri mengalami itu. Saya ingat ketika saya masih di sekolah dasar, ada guru yang menawarkan pilihan, ‘Kalian mau main di luar, atau mau mendengarkan cerita tentang hantu.’ Semua anak memilih mendengar cerita-cerita hantu.”

Sebagai penutup, saya ingin kembali ke kisah di awal tulisan ini. Jika memori saya tentang kejadian orang-orang yang lewat di samping rumah saya itu muncul, saya sudah berani ambil keputusan bahwa itu makhluk gaib alias hantu. 

Namun, hantu yang saya lihat berbeda dengan hantu di film horor Tanah Air. Tidak apa-apa berbeda. Namanya juga Indonesia, perbedaan itu sudah biasa.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Hantu yang Saya Lihat Berbeda dengan Hantu di Film Horor Indonesia […]

[…] Sebetulnya tak mengherankan, mengingat still photo itu memberi kesan kuat tentang cerita berunsur kultus atau persektean. […]

[…] bersamaan dengan kesuksesan komersil film KKN di Desa Penari yang membangkitan kembali gelombang antusiasme publik pada konten horor. Horor tak hanya membangkitkan industri film, tapi juga komik. Setelah Ito, m&c! memberanikan […]