Hamas-Israel: Saat Hoaks Jadi Justifikasi Kejahatan Perang

by | Oct 11, 2023

Hamas | Hoaks | Internasional | Israel | Palestina

FOMOMEDIA – Perang Israel dan Hamas memunculkan sejumlah hoaks yang sengaja disebarkan untuk memengaruhi persepsi dan keberpihakan publik.

Perang antarnegara selalu menjadi sorotan dunia. Maka, saat Hamas dan Israel memulai perang sejak Sabtu (7/10/2023) lalu, pemberitaan lekas bertebaran di mana-mana, dari media massa hingga media sosial. Utamanya tentang dampak perang terhadap nyawa manusia.

Dalam empat hari ini, ada pemberitaan tentang model berkebangsaan Jerman yang tewas karena festival musik yang ia hadiri diserang oleh tentara bersenjata Hamas. Ada pula berita tentang tentara Hamas memenggal kepala bayi-bayi Israel.

Seperti berita-berita lain tentang korban perang, dua berita itu menumbuhkan simpati dan mengusik kemanusiaan publik. Namun, dua berita yang kadung tersebar itu rupanya hoaks belaka.

Model Jerman Masih Hidup

Saat Hamas melancarkan serangan kejutan dari darat, laut, dan udara, salah satu lokasi yang dihampiri para tentara bersenjata adalah festival musik Supernova. Festival itu berlokasi di dataran Gurun Negev dekat Urim, dekat Jalur Gaza.

Sejumlah video beredar di media sosial. Ada video yang memperlihatkan para penonton konser berlarian di dataran gurun. Ada juga video lain, memperlihatkan orang-orang bersenjata menangkapi para penonton konser dan menaikkan mereka ke atas pikap.

Belum bisa diketahui berapa banyak orang yang ditangkap di festival. Banyak keluarga mencari-cari anak mereka yang diketahui datang ke konser itu. Salah satunya adalah keluarga dari seorang model dan seniman tato berkebangsaan Jerman, Shani Louk (22).

Ibu Louk mendapat kiriman video, “Di mana saya bisa melihat dengan jelas putri kami tak sadarkan diri di mobil dengan orang-orang Palestina dan mereka membawanya (diarak, red.) di sekitar jalur Gaza.”

Meski video itu tak menampilkan wajah, keluarga Louk bisa mengenalinya dari rambut gimbal dan tatonya. Pada Minggu (8/9), ibu Louk membuat video tentang putrinya dan meminta siapa saja untuk memberi bantuan atau kabar tentang nasib putrinya.

Berita tentang penangkapan Louk lekas tersebar melalui media sosial dan media massa sebagai berita kematian. Salah satunya disiarkan TV One.

Selasa (10/10) lalu, Ibu Louk mengumumkan lewat saluran NTV bahwa “kami kini punya informasi bahwa Shani masih hidup.” Ia mengaku mendapat informasi itu dari sumber Palestina anonim.

Sang ibu menambahkan, Louk sedang mengalami cedera serius dan meminta pemerintah Jerman untuk membantu dan mengambil langkah cepat.

Kabar baik itu tentu sedikit melegakan perasaan pihak keluarga serta orang-orang yang mengenal Louk. Namun, pemberitaan tentang Louk dalam 2-3 hari terakhir menunjukkan bahwa, di masa perang, ketidakpastian situasi begitu mudah dipelintir dan didramatisasi sebagai pemberitaan yang memperkeruh kecemasan. Terlebih, jika media massa resmi turut memberitakannya.

Narasi “Kejam pada Bayi” untuk Justifikasi kejahatan Perang

“Pasukan Hamas memenggal bayi-bayi Israel” adalah pemberitaan lain yang kadung tersebar, padahal belum bisa dikonfirmasi.

Fox News melaporkan pada Selasa (10/10), saat Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mendatangi Kfar Aza, salah satu komunitas yang dihampiri Hamas, mereka menemukan 40 jenazah bayi, beberapa dengan kepala terpenggal.

Pada hari yang sama, media Anadolu Ajansi meminta konfirmasi pada pihak militer Israel. Mereka tak bisa membenarkan kabar itu.

“Kami melihat berita itu, tapi kami belum memiliki detail atau konfirmasi soal itu,” kata kantor juru bicara militer Israel.

Fox News maupun media massa lain yang memberitakan “pemenggalan bayi” sama-sama merujuk pada satu sumber, yakni saluran Israel, I24NEWS. Media itulah yang pertama kali mengeklaim ditemukannya jenazah-jenazah bayi korban pasukan Hamas.

Kerja Intelijen?

Pada 2019, media terbesar Israel, Haaretz, sempat menginvestigasi I24NEWS sebagai media yang menjalankan fungsi propaganda negara, dengan arahan langsung dari kantor Perdana Menteri Israel.

Pemilik I24NEWS, Patrick Drahi, dicurigai dekat dengan intelijen Israel. Saat menjadi pemegang saham tertinggi British Telecom, ia diinvestigasi oleh pemerintah Inggris karena masalah “keamanan nasional”.

Banyak orang skeptis dengan pemberitaan ini, mengingat Amerika Serikat pernah melakukan hal yang sama di Perang Teluk: memainkan persepsi publik dengan berita kekejaman terhadap bayi.

Saat itu, Amerika meminta putri Dubes Kuwait untuk membuat kesaksian palsu bahwa pasukan Saddam Hussein membuang bayi dari inkubator. Kesaksian Nayirah itu menjadi justifikasi Amerika untuk melakukan langkah berikutnya.

Kabar soal “Hamas memenggal bayi” mengulang cara yang sama. Yakni, menggunakan hoaks sebagai operasi psikologi agar publik membenarkan kejahatan perang yang telah atau akan dilakukan.

Hanya kali ini, klaim yang dilempar oleh media propaganda pemerintah Israel itu lekas dibantah sendiri oleh militer Israel kurang dari sehari.

Masalahnya, seberapa banyak orang yang menyadari bahwa ini hoaks? Seberapa banyak informasi tak jelas yang kadung dipelintir sebagai hoaks? Dan yang terpenting, berapa korban tak berdosa yang mesti jatuh karena hoaks-hoaks itu menjadi justifikasi untuk melakukan kejahatan perang?

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments