Hal-hal yang Perlu Dibenahi dari Debat Capres-Cawapres

by | Jan 2, 2024

Capres | Debat Capres Cawapres | Pilpres 2024

FOMOMEDIADebat capres-cawapres Pemilu 2024 yang diselenggarakan KPU dianggap tidak optimal, seperti kehadiran panelis hingga fungsi moderator.

Sudah dua debat capres-cawapres digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga kini. Debat pertama, untuk para calon presiden, dihelat 12 Desember 2023. Kemudian, debat kedua yang mempertemukan tiga calon wakil presiden, dilangsungkan sepuluh hari sesudahnya.

Jujur saja, dua debat capres-cawapres itu bukannya tidak berbobot. Para kandidat, dengan ciri khas mereka masing-masing, mampu menyampaikan gagasan serta pertanyaan yang bisa dibilang cukup berkualitas. Pertanyaan Ganjar Pranowo kepada Prabowo Subianto tentang penyelesaian kasus pelanggaran HAM, misalnya. Atau, pertanyaan Anies Baswedan mengenai etika pencapresan yang juga dialamatkan kepada Prabowo.

Meski begitu, yang membuat debat capres-cawapres itu jadi terasa kurang bermutu adalah kualitas penyelenggaraannya. Ada dua hal yang menjadi persoalan utama dari debat capres-cawapres tersebut. Yakni, keberadaan para panelis dan fungsi moderator.

BACA JUGA:

Debat Capres-Cawapres dalam Empat Segmen

Sudah 22 panelis—masing-masing 11 untuk tiap debat sesuai disiplin ilmunya—dihadirkan KPU dalam debat capres-cawapres. Semua panelis adalah ahli dalam bidangnya dan memiliki kredensial yang sulit dibantah. Akan tetapi, peran mereka dalam debat begitu minim. Mereka cuma ada untuk keperluan seremonial.

Dalam debat capres-cawapres KPU sendiri ada empat segmen berbeda. Pertama, penyampaian visi-misi. Kedua, debat panel. Ketiga, debat antarcalon. Terakhir, penyampaian closing statement atau pernyataan penutup. Dua masalah yang saya sampaikan di atas terdapat pada segmen kedua dan ketiga.

Pada segmen kedua, para kandidat diminta untuk menjawab pertanyaan dengan topik tertentu (sesuai tema debat). Pertanyaan itu sendiri dibuat oleh panelis dan kemudian dimasukkan ke dalam amplop bersegel KPU. Adapun, pertanyaan yang diajukan kepada kandidat capres/cawapres bakal diundi terlebih dahulu.

Proses pengundiannya mirip undian grup Liga Champions atau Piala Dunia. Ada bola-bola lotere kecil yang diletakkan dalam akuarium kaca. Pengundi—dalam konteks ini panelis—mengambil bola, menunjukkannya ke kamera, lalu moderator mengambil amplop sesuai kode alfanumerik yang tertera pada bola lotere.

Selanjutnya, moderator menunjukkan bahwa amplop masih dalam kondisi tersegel, membukanya, lalu membacakan pertanyaan yang ada di dalamnya. Pertanyaan itulah yang dijawab oleh para kandidat.

Dalam sesi debat panel itu, kandidat penjawab pertanyaan diberi waktu dua menit untuk menjabarkan program kerja. Kemudian, dua kandidat lain masing-masing diberi waktu satu menit untuk menanggapi. Terakhir, kandidat penjawab diberi kesempatan merespons tanggapan dua rivalnya selama satu menit.

Bisa dipahami bahwa ada keterbatasan waktu yang membuat semua segmen harus dilakukan seefisien mungkin. Pasalnya, debat capres-cawapres ini ditayangkan pula ke seluruh Indonesia lewat televisi dan kanal-kanal YouTube. Maka, sekali lagi, upaya mengefisienkan segmen bisa dipahami.

Keberadaan Panelis Dipertanyakan

Yang kemudian jadi persoalan adalah keberadaan panelis tadi. Mereka tidak menjalankan peran sebagai panelis seutuhnya. Berbicara pun tidak. Pertanyaan sudah disetorkan sebelumnya dan mereka datang ke venue acara hanya untuk mengundi. Padahal, ada 11 panelis untuk tiap-tiap debat dan ini, tentu saja, merupakan pemborosan anggaran karena tidak semua panelis berdomisili di Ibu Kota.

Selain soal pemborosan, kemampuan para panelis untuk menguji isi kepala para kandidat juga terbuang percuma. Dalam sesi debat panel, semestinya panelis juga ikut membelejeti jawaban para kandidat, khususnya dari sudut pandang akademis. Namun, peran mereka jadi terasa dikebiri karena keterbatasan waktu tadi.

Dalam forum-forum lain, misalnya di kampus-kampus, para panelis mungkin akan lebih leluasa menguji para kandidat. Seperti yang dilakukan Dr. Zainal Arifin Mochtar, dosen Fakultas Hukum UGM, saat menguji Ganjar dan Anies dalam acara Ikatan Alumni Universitas Negeri Makassar (UNM).

Sayangnya, pada debat capres-cawapres resmi yang disiarkan ke seluruh Indonesia, peran para panelis itu justru tidak terasa.

Permasalahan kedua terletak pada segmen ketiga, ketika para kandidat diberi kesempatan untuk bertanya sekaligus mendebat kandidat lainnya. Di sini seharusnya moderator punya peran krusial, wabil khusus agar para kandidat tidak menyampaikan pertanyaan yang melenceng dari tema.

Perlu diketahui, tema debat pertama yang menampilkan para capres adalah penegakan hukum, demokrasi, dan HAM. Sementara, tema debat kedua adalah soal pertumbuhan ekonomi beserta tetek bengeknya.

Moderator Tidak Optimal

Dua moderator debat pertama relatif lebih baik ketimbang moderator debat kedua. Pada debat pertama, moderator langsung mengingatkan Prabowo yang tampak terburu-buru ingin merespons pernyataan Ganjar. Namun, pada debat kedua, moderator gagal mengingatkan Gibran Rakabuming Raka bahwa pertanyaannya kepada Mahfud MD sesungguhnya telah melenceng dari tema debat.

Pada sesi debat antarkandidat, Gibran menanyakan regulasi carbon capture and storage kepada Mahfud. Padahal, topik carbon capture and storage itu, seperti yang disampaikan Mahfud pada sesi konferensi pers pascadebat, seharusnya ditanyakan pada debat keempat tentang lingkungan.

Mahfud sendiri merespons pertanyaan menjebak Gibran itu dengan kuliah umum mengenai cara pembuatan perundang-undangan yang baik dan benar. Mahfud memilih untuk tidak terpancing keluar dari tema debat karena dia tahu bahwa topik carbon capture and storage itu merupakan bagian dari tema debat keempat, 14 Januari 2024 nanti.

Melihat itu, moderator bergeming. Mereka seperti tidak melihat adanya “pelanggaran” dari Gibran terhadap aturan debat, mungkin juga karena mereka tidak sungguh-sungguh menguasai materi. Entahlah.

Dua moderator debat kedua juga tidak menjalankan fungsinya manakala Muhaimin Iskandar (Cak Imin) meminta Gibran menjelaskan lebih jauh maksud pertanyaannya mengenai SGIE (State of Global Islamic Economy). Cak Imin bertanya kepada Gibran supaya dia bisa menjawab pertanyaan dengan lebih baik. Namun, moderator justru menyebut Cak Imin “buang-buang waktu”.

Mestinya, moderator berpihak kepada Cak Imin karena pertanyaan Gibran memang tidak jelas. SGIE sendiri merupakan nama laporan, bukan nama indeks seperti yang dimaksud oleh Gibran. Lagi-lagi, Gibran melakukan kesalahan tetapi seperti dibiarkan karena, well, tampaknya para moderator memang tidak memahami materi. Dan bila dibandingkan dengan debat capres sebelumnya, moderator debat cawapres terasa kurang mampu dan mantap dalam memandu. 

Menjadi Bahan Evaluasi

Sampai Pilpres 2024 dilangsungkan nanti, masih ada tiga debat lagi yang akan dilangsungkan. Debat ketiga untuk capres, debat keempat untuk cawapres, dan debat kelima untuk capres lagi. Artinya, masih ada ruang untuk perbaikan.

Untuk panelis, sepertinya perubahan tidak akan bisa dilakukan karena pakem sudah ditentukan oleh KPU untuk seluruh rangkaian. Akan tetapi, untuk moderator, perbaikan masih sangat mungkin dilakukan.

Para moderator selanjutnya mesti belajar dari kelemahan-kelemahan yang ada, khususnya pada moderator debat kedua. Moderator, pada intinya, jangan cuma menjadi time keeper yang mengawasi waktu berbicara kandidat. Seharusnya, moderator ikut memoderasi isi pertanyaan yang tidak sesuai tema besar.

Penulis: Yoga

Editor: Elin

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Hal-hal yang Perlu Dibenahi dari Debat Capres-Cawapres […]