Golkar dan PAN Gabung Koalisi Prabowo, Sebuah Eksperimen Istana?

by | Aug 14, 2023

Koalisi Kebangkian Indonesia Raya | Pemilu | Pemilu 2024 | Pilpres 2024 | Politik | Prabowo Subianto

FOMOMEDIA – Bergabungnya Golkar dan PAN ke koalisi Prabowo tidak membuat banyak pihak terkejut. Malahan, hal itu dianggap sebagai strategi dari istana.

Partai Golkar dan PAN dikabarkan telah merapat ke dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) pada Minggu (13/8/2023) kemarin. Koalisi yang dibentuk oleh Gerindra dan PKB itu ingin mengusung Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden (capres) 2024.

Dengan bergabungnya Golkar dan PAN ke dalam KKIR, koalisi yang diresmikan sejak 13 Agustus 2022 itu semakin gemuk. Saking gemuknya, koalisi Prabowo tersebut telah memiliki jumlah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat RI sekitar 45 persen.

“Ini koalisi super jumbo sebab tergabung 45% suara. Dinamika pilpres akan semakin seru dan menarik utamanya pada tahap penentuan pasangan capres-cawapres,” kata Jazilul Fawaid, Wakil Ketua Umum PKB, dikutip dari DetikNews.

Meski kini sudah genap setahun sejak dideklarasikan pertama kali, KKIR sendiri tidak ada rencana perubahan nama. Hal tersebut disampaikan oleh Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB.

Menurut pria yang akrab disapa Cak Imin itu, sejak bergabungnya Golkar dan PAN, mereka belum ada rencana untuk perubahan nama. Cak Imin pun menyambut dua partai itu sebagaimana diunggah dalam akun Instagram pribadinya.

“Selamat datang dan selamat bergabung bersama KKIR, semoga Koalisi Kebangkian Indonesia Raya membawa kemajuan bangsa dan negara,” tulis Cak Imin.

Sebelumnya, baik Golkar maupun PAN telah didekati oleh para politisi Gerindra. Dua partai itu dianggap memiliki basis dukungan massa untuk memenangkan pemilu.

Anies-Ganjar Tak Gentar

Mendengar kabar bergabungnya Golkar dan PAN ke KKIR, capres dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), Anies Baswedan, merasa tak gentar. Bahkan, mantan gubernur DKI Jakarta tersebut mengucapkan selamat kepada dua partai itu.

 “Kami sampaikan selamat kepada Partai Golkar dan PAN, yang sudah memutuskan untuk bergabung di koalisi [pendukung Prabowo Subianto],” kata Anies, dikutip dari Tempo.co.

Meski KKIR diperkuat empat partai dan memiliki sekitar 45 persen kursi di parlemen, Anies tak mempermasalahkan hal itu. Menurutnya, kemenangan pemilu tak melulu ditentukan oleh jumlah partai dalam koalisi.

Hal serupa disampaikan capres yang diusung PDI Perjuangan dan PPP, Ganjar Pranowo. Menurut Ganjar, apa yang dilakukan Golkar dan PAN itu hal biasa.

“Nggak papa, itu hak mereka. Setiap partai politik yang musti kita hormati, sikap boleh dong apa pun itu. Dan ini belum selesai, biasanya kalau pengalaman dari tahun ke tahun itu selalu saja ketika ada tren naik semua berbondong-bondong ke sana. Biasanya seperti itu tapi nggak papa. Itu hak yang mesti kita hormati,” ucap Ganjar, dilansir Detik.

Strategi Istana?

KPP atau juga dikenal sebagai Koalisi Perubahan tidak kaget dengan bergabungnya Golkar dan PAN ke KKIR. Bahkan, dua partai yang bergabung untuk mendukung Prabowo itu diduga merupakan strategi istana untuk mengamankan kekuasaan.

Menurut Hermawi Taslim, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, KKIR merupakan eksperimen kedua dari penguasa. Hal tersebut lantaran pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) gagal total.

”Seperti kita sudah duga sebelumnya, partai akan beramai-ramai merapat ke Gerindra karena sinyal kekuasaan ke sana. Ini logis dan realistis terutama untuk partai yang memiliki potensi masalah hukum, merapat ke koalisi kekuasaan,” kata Hermawi, dikutip dari Kompas.

Golkar dan PAN sendiri merupakan dua partai yang sebelumnya bergabung dengan KIB yang dibentuk Mei 2022. Namun, pada kenyataannya, dua partai itu membelot ke KKIR.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments