Generasi Sandwich: Terjepit di Tengah Tanggungan Hidup Keluarga

by | Mar 20, 2023

Keluarga | Sosial
Generasi Sandwich: Terjepit di Tengah Tanggungan Hidup Keluarga

FOMOMEDIA – Makan sandwich emang enak, tapi, jadi generasi sandwich rasanya pahit. Kehidupan seperti terus terhimpit berlapis beban, antara kehidupan pribadi, keluarga, dan orang tua.

Istilah “anak adalah investasi”, akhir-akhir ini konsepnya semakin jelas dengan adanya fenomena sandwich generation. Yakni seorang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, namun tak bisa lepas dari kewajiban untuk “menghidupi” orang tua dan juga adik-adiknya.

Frasa sandwich generation pertama kali disebut oleh Dorothy A. Miller—profesor dan direktur praktikum di Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat—dalam sebuah jurnal dengan judul “The ‘sandwich’ generation: adult children of the aging”. 

Menurut Miller, generasi sandwich adalah seseorang yang menanggung biaya hidup orang tuanya serta anak-istrinya. Dan seseorang yang menanggung beban tersebut, menurut Miller, akan banyak mengalami tekanan mental. 

Hal itu bisa terjadi karena, menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, sebagaimana dikutip dari Tirto.id, “Sebagai tulang punggung dua generasi sekaligus, generasi sandwich rentan mendapatkan banyak tekanan, terutama karena masalah keuangan, kesehatan, pendidikan, dan tuntutan rumah tangga lainnya.”

Sayangnya, generasi sandwich ini tidak bisa menghindar dari beban itu. Sebab, tidak semua orang tua menyiapkan dana pensiun yang akan memenuhi kebutuhan mereka. Atau bisa jadi, pemahaman “anak adalah investasi” membuat orang tua mengeluarkan banyak anggaran untuk pendidikan dan kesehatan dengan harapan anak-anaknya kelak bakal membiayai mereka. 

Kultur di Indonesia sendiri menegaskan peran generasi sandwich di tengah keluarga. Kita mengenal istilah “utang budi” kepada orang tua. Kenapa anak berutang? Karena orang tua yang melahirkan, merawat, dan membesarkan anak. Apabila sang anak tidak mengabdi—membalas budi orang tua—maka akan disebut “anak durhaka”. Ini juga berkaitan dengan ajaran agama yang dianut penduduk Indonesia. 

Tidak banyak orang tua yang memiliki pemahaman seperti dalam sajak dari Kahlil Gibran, “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang mendambakan dirinya sendiri. Mereka datang darimu, tapi bukan darimu. Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

Tapi, walaupun orang tua punya pemahaman seperti itu, apakah anak akan membiarkan orang tuanya hidup tanpa penghasilan?

Dalam studi kasus di Indonesia, untuk meminimalisasi pengeluaran per bulan agar beban tidak menumpuk, generasi sandwich menyiasati dengan cara—dan ini sering dilakukan oleh kebanyakan anak di Indonesia—orang tua tinggal di rumah mereka untuk menjaga cucu.

Atau sebaliknya, orang tua akan mewariskan rumah kepada anak yang siap merawat mereka. Sehingga, anak tidak punya beban mencicil kredit kepemilikan rumah (KPR). Di situ ada timbal balik keuntungan antara orang tua dan anak. 

Carol Abaya, jurnalis yang menulis isu penuaan dan perawatan orang tua, membagi tiga kategori generasi sandwich. Pertama, traditional. Kategori tradisional ini yang sedang hangat dibahas, yaitu mereka yang harus  membiayai orang tua serta anak mereka sendiri. 

Kedua, club sandwich. Kategori ini yang lumayan berat sebab mereka harus membiayai orang tua yang sudah lanjut usia, anak-anak yang sudah dewasa, hingga cucu sendiri. Generasi ini biasanya berusia 40-an hingga 60-an. 

Ketiga, open faced. Kategori generasi sandwich ini yang ketiga ini cukup ringan, sebab mereka “hanya” membiayai orang tuanya dan belum memiliki anak.

Ilustrasi generasi sandwich (Sumber: Gramedia.com)

Menurut Staf Kebijakan Sosial The Prakarsa, Darmawan Prasetya, dalam kolomnya di The Conversation, “Masalah generasi sandwich sebenarnya bukan hanya perihal hubungan pribadi antar anggota keluarga (anak dengan orang tua), namun dapat menjadi masalah sosial juga.”

Maka dari itu, negara punya andil untuk membereskan masalah ini, yakni dengan memperbaiki kualitas jaminan pensiun. Sebab, jaminan pensiun akan meringankan beban generasi sandwich. 

Menurut Darmawan, ada dua alasan mengapa kualitas jaminan pensiun sangat penting. Pertama, memberikan jaminan pensiun dalam jumlah yang layak, berarti memberikan sumber daya kepada orang tua untuk meningkatkan kemandirian mereka. Kedua, jaminan pensiun dapat meningkatkan sumber daya keluarga. 

***

Redaksi FomoMedia mewawancarai dua orang yang termasuk dari generasi sandwich. Pertama, IM (30 tahun) yang bekerja sebagai pimpinan kantor agensi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. 

Urusan mengirim uang kepada orang tua, IM sudah rutin sebelum memutuskan nikah. “Belum terasa berat, sih, waktu masih single karena hanya ngirim ke orang tua. Mulai agak berat saat memutuskan nikah dan memiliki anak,” ucap IM.

IM mesti membiayai orang tua, istri, dan anaknya. Karena gajinya dulu sebagai wartawan lapangan tidak cukup menutup kebutuhan rumah tangganya dan mengirim uang ke kedua orang tua, ia harus mengambil pekerjaan sampingan. 

“Sambil jadi wartawan, aku ngerjain beberapa buku biografi tokoh politik nasional. Kalau gak gitu, matilah aku,” tuturnya sambil lempar senyum. 

Ternyata, beban IM semakin bertambah, karena ia juga membiayai mertuanya. Walaupun begitu, hal itu tidak menghambat keinginannya lanjut kuliah magister ke Amerika Serikat. 

IM kuliah dengan dana beasiswa dari pemerintah Indonesia. Ketika tiba di negeri Paman Sam, IM tidak berleha-leha. Ia harus mencari pekerjaan sebab dana beasiswa tidak cukup untuk membiayai orang tua, mertua, dan istri-anak di Indonesia. 

Untuk menyiasati kekurangan itu, IM mendaftar kerja di lembaga filantropi dan kemanusiaan Indonesia biro AS. Dari sini, ia bisa mengirim uang ke sanak keluarga di Indonesia. 

Sosok kedua yang kami wawancarai adalah AA (31 tahun), seorang guru di sekolah swasta selama lima tahun di Jakarta Timur. Ia memang belum menikah, belum ada tanggung jawab membiayai anak dan istri. Akan tetapi, ia harus membiayai kebutuhan orang tua dan saudara-saudarinya untuk sekolah dan kuliah. 

Dari tanggung yang banyak itu, AA lupa dengan masa depannya, seperti tabungan dana pribadi. “Mau nikah, tapi tabungan belum cukup. Sialnya, calon istriku punya beban sandwich pula,” jawab AA saat dihubungi lewat WhatsApp. 

Karena gaji sebagai guru hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dan mengirim uang ke keluarga, AA bekerja sebagai pekerja lepas. Ia menerima editan artikel maupun buku pelajaran. Dengan cara itu, ia bisa menambah tabungan pribadi untuk dana pernikahan yang rencananya ia langsungkan tahun depan.

Membaca penjelasan dan kisah di atas, mungkin tak heran apabila fenomena childfree juga marak di Indonesia. Selain tidak ingin repot mengurus anak dan membiayainya, mereka memilih untuk  childfree karena tidak mau anaknya menjadi generasi sandwich yang terhimpit. 

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Visual: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
nimabi

Thank you very much for sharing, I learned a lot from your article. Very cool. Thanks. nimabi