Gen Z Indonesia Belum Bisa Berpaling dari Musik Pop

by | May 4, 2023

Budaya Populer | Gen Z | Musik
Gen Z Indonesia Belum Bisa Berpaling dari Musik Pop

FOMOMEDIA – Tiap generasi tentu punya preferensi musik di masanya. Namun, musik pop tetap jadi pilihan yang paling diminati hingga saat ini.

Drake, Bad Bunny, Eminem, Post Malone. Empat musisi tersebut merupakan bukti sahih bahwa hip-hop saat ini merupakan genre musik paling populer di dunia. Lagu-lagu mereka, sampai Februari 2023 lalu, sudah diputar lebih dari 144 miliar kali di platform streaming musik Spotify.

Drake dan Bad Bunny memuncaki daftar artis dengan jumlah stream Spotify terbanyak sepanjang masa. Lagu-lagu Drake sudah diputar lebih dari 55 miliar kali, sementara jumlah stream Bad Bunny nyaris menyentuh angka 50 miliar. Kemudian, Eminem dan Post Malone bersaing ketat di urutan 8 dan 9, masing-masing dengan jumlah stream 33 dan 31 miliar.

Tingginya jumlah stream yang dimiliki para rapper itu bukanlah hal mengejutkan. Pasalnya, musik hip-hop atau rap saat ini memang merupakan genre kesukaan milenial dan generasi z sekaligus. Penelitian YPulse pada 2021 menemukan bahwa 54% milenial dan 55% gen z mengaku menyukai lagu-lagu hip-hop. Sebagai perbandingan, musik pop kini “cuma” digemari 38% milenial dan 42% gen z.

Dalam penelitian YPulse tersebut, terlihat lonjakan signifikan pada popularitas hip-hop di kalangan gen z. Pada 2019, hanya 34% gen z mengaku menikmati hip-hop. Dua tahun kemudian, terjadi kenaikan sebesar 21%. Jadi, meskipun ada penurunan popularitas di kalangan milenial (dari 56% menjadi 54%), hip-hop tetap jadi genre musik terpopuler berkat gen z.

Menariknya, temuan YPulse tentang preferensi musik gen z itu ternyata tidak berlaku di Indonesia. Sebab, menurut temuan IDN Research Institute, bekerja sama dengan Populix, gen z di Indonesia masih memilih pop sebagai genre musik favorit. Bahkan, persentase gen z penggemar musik pop di Indonesia mencapai 60%! Ini sangat berbeda ketimbang temuan YPulse tadi.

Popularitas pop di Indonesia ini pun tercermin dalam data Spotify Wrapped termutakhir yang dirilis akhir 2022. Di situ, terlihat bahwa artis-artis dengan jumlah stream terbanyak adalah mereka yang lagu-lagunya masuk dalam spektrum pop, semisal Tulus, Feby Putri, Keisya Levronka, Mahalini, dan Tiara Andini.

Bahkan, di antara 10 artis yang paling banyak didengarkan pengguna Spotify Indonesia, hanya BTS (peringkat 2) yang memiliki unsur rap dalam musiknya. Akan tetapi, tentu saja BTS sendiri tidak bisa disebut sebagai grup hip-hop karena unsur pop dalam lagu-lagu mereka jauh lebih kentara.

Lebih Pilih Musik yang Santai dan Relatable

“Pop itu umum, sih. Siapa aja bisa nikmatin, gitu. Apalagi yang enak didengar dan bahasan liriknya yang menjiwai. The best itu, hahahaha,” seloroh Hendra (25 tahun), ketika diwawancarai FomoMedia.

Hendra sendiri sebenarnya bukan penggemar musik pop. Pekerja kreatif yang berkantor di Jakarta Selatan itu lebih kerap mendengarkan lagu-lagu rock alternatif seperti Linkin Park. Akan tetapi, dia mengaku sulit sekali menghindari paparan musik pop.

“Aku liat beberapa kalangan dengerin lagu pop mellow tuh sampai berkali-kali. Bahkan di TikTok itu, ya, sampai ratusan ribu yang using music-nya gitu. Aku suka dengerin pop juga karena mungkin liriknya relatable sama kehidupan atau pernah ngerasainnya. Dan kebanyakan, tuh, racun dari liriknya nyentuh sampai ke hati juga,” jelasnya.

Bagaimana gen z terpapar musik dari TikTok itu juga disampaikan oleh Azizah (18 tahun), seorang social media manager yang berkantor di Bangka. “Menurut saya genre musik paling populer di kalangan remaja saat ini lagu pop western, karena akhir-akhir ini lagu pop western sering bermunculan dan hype di berbagai platform medsos seperti Instagram dan TikTok,” ucapnya.

Sementara itu, Indy (25) dan Icha (24) memiliki opini yang sedikit berbeda tapi masih berkaitan dengan apa yang diucapkan Hendra dan Azizah. Menurut Indy, musik pop sampai sekarang masih jadi primadona di kalangan gen z Indonesia karena “banyak musisi Indonesia dengan aliran pop yang [kualitasnya] bagus”. Sedangkan, menurut Icha, “Belakangan banyak penyanyi yang mengeluarkan lagu dengan genre tersebut.”

Dari sini, bisa ditarik sebuah hipotesis bahwa musik pop masih begitu digandrungi anak-anak muda karena genre ini paling accessible. Ia bisa ditemukan di platform tempat gen z banyak menghabiskan waktu, khususnya media sosial. Sudah begitu, musisi-musisi Indonesia sendiri memang banyak yang mengusung aliran pop sehingga rilisan dari genre ini pun, secara otomatis, membanjiri pasar.

Lantas, ada gak, sih, genre yang bisa menggantikan popularitas musik pop di Indonesia?

“Menurut saya pribadi agak sulit, ya, menggeser musik pop di Indonesia, karena mengingat banyaknya lagu yang easy listening itu rata-rata berasal dari genre pop. Walaupun [pop mungkin] gak tergeser, tapi mungkin k-pop bakalan jadi populer di Indonesia, melihat banyaknya konser k-pop di Indonesia dengan target pasar mereka yang rata-rata gen-z,” kata Icha.

Syifa (19), seorang mahasiswi ilmu komunikasi asal Jakarta Barat punya jawaban sedikit mirip dengan Icha. “Sekarang banyak orang yang coba-coba denger lagu k-pop, terus jadi suka sama grupnya, deh,” katanya.

Sementara itu, Hendra menilai bahwa genre yang bisa menggeser popularitas pop di Indonesia, tak lain, adalah hip-hop. “Kalau memang diputar terus di aplikasi musik atau bahkan jadi trending music nomor satu, ya, pastinya gen Z ikut-ikutan lah, ya. Hip-hop itu seru sebenarnya tapi mungkin peminatnya itu kurang, apalagi kayak cuma diminatin sama [kaum] urban aja yang ada di kota-kota besar,” tutur pria yang memiliki bisnis clothing ini.

Walau begitu, gak semua gen z berpikir begitu. Rhido (25), misalnya, memprediksi gak akan ada genre musik yang bisa menggoyang dominasi pop, setidaknya di Indonesia. “Gak mungkin [ada], karena gen z mendengarkan genre selain pop hanya untuk menghibur dirinya dan pada akhirnya gen z akan kembali mendengarkan musik pop untuk menikmati kegalauannya, hahahaha,” ujarnya sembari tertawa.

Sementara itu, menurut Indy, “Menurut saya, kalau di Indonesia masih tidak mungkin ada genre lain yang menggeser popularitas musik pop. Tapi, bisa jadi musik popnya digabung dengan genre lain seperti pop rock atau pop dangdut.”

Apa yang diutarakan Indy itu sebelumnya sudah pernah terjadi. Pada awal 2000-an, ada Alam yang sukses memadukan dangdut, rock, dan pop melalui lagu “Mbah Dukun”. Beberapa tahun kemudian, muncul pula lagu “Biarlah” besutan Killing Me Inside. Kendati aslinya beraliran post-hardcore, Killing Me Inside sangat menonjolkan unsur pop dalam tembang andalannya itu sehingga “Biarlah” pun menjadi lagu paling populer dari repertoar mereka. Pada dekade 1990-an dulu, nama Iwa K. melejit lewat lagu “Bebas” yang sebenarnya beraliran hip-hop tetapi unsur popnya sangat kental.

Jika ditilik dari yang sudah-sudah, besar kemungkinan preferensi musik orang Indonesia sendiri tak pernah berubah dari generasi ke generasi. Baik baby boomers, generasi x, milenial, maupun generasi z, semua menjadikan pop sebagai genre favorit. Jika ada genre lain yang ingin menyodok ke arus utama, para musisinya mesti melakukan kompromi dengan menonjolkan unsur pop seperti Iwa K dan Killing Me Inside.

Nah, kalau sudah begini, rasanya preferensi musik generasi alfa (penerus gen z) Indonesia pun bakal berkisar di spektrum yang sama, kecuali ada guncangan kultural yang membuat genre-genre lain bisa mencuat ke permukaan.

Penulis : Yoga

Editor : Irwan

Visual : Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] sebuah tulisan, kami sudah pernah menjelaskan mengapa orang Indonesia sulit beralih dari musik pop. Akan tetapi, musik pop tidak melulu berarti lagu galau. Mungkin sudah waktunya kita Make Indonesia […]

[…] itu VoB terus mengunggah lagu-lagu kover dari band rock dan metal legendaris lain seperti Red Hot Chili Peppers, Metallica, dan Slipknot. Sampai akhirnya, […]