Gen Z dan Milenial: Bonus atau Beban Demografi?

by | Nov 21, 2023

Bonus Demografi | Gen Z | Milenial

FOMOMEDIAPenduduk Indonesia sedang didominasi kategori usia produktif. Jika dioptimalkan, maka akan berdampak pada bonus demografi.

Hasil Sensus Penduduk 2020 menyebut penduduk Indonesia didominasi oleh generasi z (lahir 1997–2012), dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94% dari total penduduk Indonesia. Sementara generasi milenial berada di urutan kedua setelah gen z, dengan jumlah 69,38 juta jiwa atau 25,87% penduduk. 

Angka berikutnya diisi oleh generasi x (kelahiran 1965-1980) dengan jumlah 58,65 juta atau 21,88%. Sementara jumlah lainnya dihuni oleh pre boomer dan baby boomer

Apabila angka generasi milenial dan gen z digabungkan, dua generasi ini berjumlah 144,31 juta jiwa atau sekitar 53,81% penduduk dari total jumlah penduduk Indonesia. 

Itu berarti populasi generasi milenial dan z lebih separuh dari jumlah penduduk di Indonesia. Dan mereka sekarang sudah (dan akan) masuk kategori usia produktif. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, pada Juni 2022, jumlah penduduk Indonesia mencapai 275,36 juta jiwa. 

Baca juga:

Dari jumlah itu, penduduk yang masuk kategori usia produktif (15-64 tahun) mencapai 190,83 juta jiwa (69,3%). Sementara usia yang tidak produktif terdapat 84,53 juta jiwa (30,7%). 

Artinya, sekarang Indonesia masuk era usia produktif. Kalau melihat Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2015, periode usia produktif di Indonesia berlangsung dari tahun 2012 hingga 2036. Apabila usia produktif itu dapat dikelola baik oleh pemerintah, akan menjadi modal besar untuk membangun menuju 1 abad kemerdekaan Indonesia pada 2045.

Akan tetapi, yang jadi pertanyaan, dua generasi (milenial dan z) tersebut bisa menjadi bonus untuk pertumbuhan ekonomi atau menjadi beban bagi negara?

Generasi Z dan Milenial: Bonus atau Beban?

Gen z menjadi generasi yang melek teknologi sehingga mereka menguasai informasi, dianggap kreatif, inovatif, dan banyak ide menarik.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia, Tara de Thouars, mengatakan bahwa gen z sebetulnya kreatif, inovatif, sangat ambisius, open minded (berpikiran terbuka), serta ingin mencoba hal-hal baru yang sebetulnya tidak ada di generasi-generasi sebelumnya.

Beda tipis dengan generasi z, generasi milenial juga peka teknologi, peka terhadap informasi, gaya hidup, dan gadget. Walaupun begitu, milenial masih sempat terpapar dengan teknologi analog.

Dua generasi inilah yang akan/sedang menjadi usia produktif. Namun, apa yang mesti dilakukan oleh para anak muda untuk menghadapi usia produktif?

Anak muda harus mempersiapkan dari awal untuk bisa bersaing di segala sektor. Sebab, apabila tidak disiapkan sejak dini, maka kemungkinan besar hanya menjadi penonton alias pengangguran. 

Saat sesi diskusi “Festival Generasi Z 2023” di Jakarta, Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Silmy Karim, mengatakan, “Ke depan, persaingan semakin sulit. Generasi Z harus memperkuat diri sendiri dengan mempersiapkan skill agar tidak menjadi penonton nantinya.”

“Perlu sejak dini memperbanyak relasi serta mengembangkan skill. Dengan demikian akan menciptakan sebuah trust (kepercayaan) dari orang lain. Jangan sampai kita menjadi penonton di masa depan,” tambah Silmy.

Selain Silmy Karim, ada juga eks politisi PSI, Tsamara Amany, sebagai pembicara dalam forum tersebut. Menurutnya, anak muda harus mampu mengembangkan keterampilan sesuai dengan perkembangan zaman. 

“Dengan demikian, perlu ada jaminan dan tanggung jawab bersama memastikan angkatan kerja ke depan memiliki skill serta melakukan upskiling,” kata Tsamara.

Artinya, agar tidak menjadi pengangguran di tengah banyaknya anak muda lainnya yang sedang mencari kerja, seseorang perlu memiliki keterampilan dan tentu sesuai kebutuhan industri. Apabila anak muda tidak punya keterampilan dan meningkatkannya, kemungkinan besar mereka hanya akan menjadi penonton. 

Walaupun begitu, pemerintah juga harus turun tangan untuk mengantisipasi apakah usia produktif itu menjadi bonus atau beban.

Pemerintah Harus Sigap

Usia produktif ini, yang mestinya jadi bonus demografi, dikhawatirkan akan menjadi beban demografi apabila pemerintah tidak mengelolanya atau mengantisipasinya dari sekarang. 

Maka dari itu, harus ada formula yang baik sehingga usia produktif tersebut (generasi milenial dan z) menjadi bonus demografi, alih-alih beban. 

Satria Aji Setiawan, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan, menyebut dalam artikelnya bahwa ada empat yang harus dilakukan oleh pemerintah agar mampu mengelola usia produktif dengan baik. 

Pertama, mengembangkan kualitas manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Globalisasi menyebabkan persaingan semakin ketat, sehingga penduduk usia produktif perlu memiliki keahlian dan keterampilan yang sejalan dengan kebutuhan industri. 

Kualitas dan kuantitas pendidikan dan pelatihan di Indonesia perlu ditingkatkan untuk menciptakan tenaga kerja yang berkualitas dan berdaya saing, serta sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. 

Artinya, sekolah pelatihan perlu direvitalisasi dan pendidikan vokasi mesti ditingkatkan dan kembangkan. 

Kedua, memperluas pasar tenaga kerja. Usia produktif bisa saja jadi beban bagi negara, karena misalnya mereka pengangguran dan berpotensi melakukan kriminalitas. Akhirnya, mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. 

Maka dari itu, pemerintah memanfaatkan usia produktif tersebut dengan membuat lapangan kerja sebanyak mungkin. Sebab, penyerapan tenaga kerja yang baik di banyak sektor akan berdampak pada peningkatan produksi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Ketiga, mengelola pertumbuhan populasi. Bonus demografi yang sekarang perlu dijaga, sehingga pertumbuhan populasi perlu dikontrol. Apabila populasi terus meningkat tanpa ada pengontrolan, maka dapat membebani pertumbuhan ekonomi. Program yang sudah lama dilakukan adalah melalui Keluarga Berencana (KB).

Keempat, meningkatkan tingkat kesehatan penduduk. Penduduk usia produktif yang tidak sehat tidak akan mendukung produksi dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara. 

Maka dari itu, melimpahnya penduduk usia produktif harus ditopang dengan tingkat kesehatan yang baik. Jika penduduknya sehat, negaranya pun sehat. Itu berarti kebijakan pada kesehatan masyarakat perlu didorong lagi.

Baca juga:

Belajar ke Dua Negara Asia Timur

Sebagai pembanding, Korea Selatan dan China telah melewati bonus demografi. Korsel pada 1987 telah memasuki periode bonus demografi dengan pendapatan per kapita 3.530 dollar AS. 

Dalam kurun waktu sembilan tahun, tepatnya di 1996, status Korsel naik menjadi negara berpendapatan tinggi dengan pendapatan per kapita 13.320 dollar AS. 

Pendapatan per kapita Korsel naik 3,8 kali lipat selama kurun waktu sembilan tahun, sementara Indonesia dalam sembilan tahun awal periode bonus demografi hanya naik 1,4 kali lipat. 

Kalau melihat negara komunis, seperti China, mereka lebih canggih lagi dalam mengelola penduduk usia produktifnya. China masuk periode bonus demografi dari tahun 1997 dengan pendapatan per kapita 750 dollar AS. 

Setelah 24 tahun, pendapatannya naik menjadi 11.880 dollar AS, naik sekitar 16 kali lipat sejak memasuki periode bonus demografi. 

Menurut Ketua Umum Koalisi Kependudukan Indonesia, Sonny Harry B Harmadi, “Kita dapat belajar dari Korsel dan China bahwa kunci pemanfaatan bonus demografi ialah peningkatan produktivitas.”

So… Kalau kamu sendiri gimana? Apakah kamu merasa sebagai bagian dari bonus demografi atau justru masih menjadi beban?

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] sebagai bentuk tanggung jawab lanjutan dari Jokowi untuk ikut bersama memastikan tercapainya Indonesia emas 2045,” kata Panel, dikutip dari […]

[…] Gen Z dan Milenial: Bonus atau Beban Demografi? […]

[…] disurvei untuk mengetahui seberapa nyaman mereka ketika makan di restoran. Hasilnya, 86 persen Gen Z mengalami menu […]