Gempa Maroko Tewaskan Lebih dari 2.000 Jiwa, Penyintas Masih Tunggu Bantuan

by | Sep 11, 2023

Bencana Alam | Gempa | Internasional | Maroko

FOMOMEDIA – Gempa Maroko membawa duka pada bagi 18 ribu lebih keluarga. Lebih dari 2.000 orang tewas dan penyintas masih menunggu bantuan.

Tiga hari telah berlalu sejak gempa magnitudo 6.8 mengguncang barat daya Maroko pada Jumat lalu (8/9/2023). Penyelamatan masih berlangsung karena banyak nama dalam data penduduk masih belum ditemukan.

Menurut data resmi yang dimutakhirkan pada Minggu (10/9), jumlah korban tewas sedikitnya 2.122 orang. Sementara korban luka lebih dari 2.499 orang, banyak di antaranya alami luka serius.

Daerah yang paling parah terkena dampak adalah daerah terpencil, sebab tidak memungkinkan untuk dicapai dalam beberapa jam setelah gempa. Padahal, itu periode paling penting bagi banyak orang yang terluka.

Di desa pegunungan Tafeghagte, 60 kilometer dari Marrakesh, hampir seluruh bangunan hancur. Kebanyakan rumah di desa pegunungan terpencil dibangun menggunakan batu bata dari lumpur. Desa tersebut berada di provinsi Al-Haouz, lokasi pusat gempa, yang paling banyak menderita kematian, yaitu 1.351 jiwa.

Longsoran bebatuan juga menutupi jalan yang sudah tidak terawat, yang mengarah ke Pegunungan Atlas Tinggi, lokasi daerah-daerah paling terdampak gempa.

Ketika tim penyelamat masih berjuang membawa mesin, penduduk desa menggali puing-puing bangunan dengan tangan kosong dan sekop untuk temukan korban selamat. Sejumlah tangan dan alat yang sama, nantinya juga menggali kuburan bagi mereka yang tak bisa selamat.

Para Penyintas Masih Butuhkan Bantuan

Di Amizmiz, desa dekat Tafeghaghte, rumah sakit dikosongkan karena dianggap tak aman. Terlebih gempa susulan magnitudo 4.5 kembali melanda pada hari Minggu (10/9).

Gempa susulan itu memperburuk kondisi di lapangan, baik bagi para penyintas maupun tim pencari korban selamat, yang terdiri dari tim penyelamatan sipil dan anggota angkatan bersenjata Maroko.

Karena rumah sakit tak bisa digunakan, para pasien dirawat di tenda. Banyaknya pasien membuat para staf kewalahan. Pada hari sabtu, 100 orang meninggal dibawa ke sana.

“Saya menangis karena ada begitu banyak orang meninggal, terutama anak-anak kecil,” kata pejabat rumah sakit yang tak mau disebut namanya. “Sejak gempa, saya belum tidur. Tidak ada dari kami yang bisa,” lanjutnya, dikutip dari BBC.

Selain tenda untuk pasien, jalan-jalan juga dipenuhi tenda-tenda untuk para penyintas yang kehilangan rumah mereka. Kendati demikian, tidak semua orang mendapatkannya.

“Kami menggunakan selimut untuk membuat tenda,” kata Ali Ait Youssef, warga Amizmiz. “Tenda-tenda yang didistribusikan pemerintah tidak cukup.”

Banyak orang tidur di atas permadani yang dibentangkan di tanah di alun-alun pusat.

Abdelkarim Brori adalah salah satu penyintas yang rumahnya runtuh dan tidak memiliki apa pun lagi.

“Aku tidak bisa pulang. Kami saling membantu. Tidak ada bantuan yang datang dari luar,” kata lelaki 63 tahun tersebut, dikutip dari BBC.

Di dekat desa, terdapat makam kasar yang hanya ditandai dengan tongkat dan batu. Makam itu mengubur sebagian dari 100 penduduk yang meninggal pada hari sabtu.

Para penggali kubur tengah menggali lebih banyak kuburan. Kata penduduk setempat, hingga saat itu belum ada bantuan resmi untuk mengurus orang meninggal. Mereka dibiarkan mencari dan menguburkan sendiri korban-korban meninggal.

Omar Benhanna, penduduk Tafeghaghte berusia 72 tahun, berhasil diselamatkan dari puing-puing oleh tetangganya. Namun tidak dengan keluarganya. “Tiga cucu saya dan ibu mereka sudah meninggal. Mereka masih di bawah puing-puing. Belum lama ini kami bermain bersama,” katanya.

Upaya Pemerintah Maroko dan Internasional

Pada Jumat malam setelah terjadinya gempa, pertemuan darurat segera digelar. Raja Mohammed VI memerintahkan pembentukan segera “komisi yang bertanggung jawab atas penerapan program rehabilitasi dan bantuan darurat untuk membangun kembali perumahan yang hancur di daerah bencana”.

Upaya internasional untuk membantu pemulihan juga bermunculan. Inggris mengatakan, Maroko telah menerima tawarannya untuk mengerahkan tim tanggap darurat, termasuk spesialis penyelamatan, tim medis, anjing pelacak, dan peralatan.

Spanyol dan Qatar juga mengatakan telah menerima permintaan resmi dan akan mengirim tim pencarian dan penyelamatan. AS juga siap mengirimkan bantuan maupun dana “pada waktu yang tepat”.

Turki, yang Februari lalu juga menderita gempa dahsyat yang menewaskan 50.000 orang, juga mengajukan tawaran untuk mengirim personel.

Caroline Holt, dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, mengatakan kepada Reuters bahwa dua hingga tiga hari ke depan adalah “penting untuk menemukan orang yang terjebak di bawah puing-puing”.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments