Gelombang Panas di Mana-mana, Krisis Iklim Makin Nyata

by | Jul 18, 2023

Cuaca Ekstrem | Internasional | Kesehatan | Krisis Iklim | Lingkungan

FOMOMEDIA – Perlu langkah konkret untuk menyelesaikan masalah krisis iklim. Bukan karena fenomena alam semata, cuaca ekstrem adalah bukti nyata ulah manusia.

Suhu panas beberapa hari terakhir menyapu berbagai belahan dunia. Mulai dari dari Asia, Eropa, dan Amerika Serikat (AS). Pada hari Minggu (16/7) wilayah Death Valley, yang membentang dari California hingga Nevada, mencatat suhu terpanas mencapai 128° fahrenheit atau setara 53,3° celsius.

Menurut laporan The Guardian, Death Valley telah lama menjadi tempat terpanas di bumi. Namun, suhu pada hari Minggu kemarin telah memberi peringatan tersendiri lantaran hampir menyentuh rekor terpanas yang pernah dicatat.

Rekor suhu bumi terpanas pernah tercatat di angka 134° fahrenheit atau setara 56,7° celsius yang terjadi pada Juli 1913 di Furnace Creek. Data yang diungkapkan oleh World Meteorological Organization (WMO) itu mencatat bahwa suhu di atas 130° fahrenheit (54,4° celsius) telah beberapa kali terjadi di Bumi. Wilayah Death Valley jadi salah satu pemegang terpanas itu.

“Dengan pemanasan global, suhu seperti itu semakin mungkin terjadi,” kata Ceverny, koordinator pencatatan WMO.

“Jangka panjang: pemanasan global menyebabkan suhu ekstrem yang lebih tinggi dan lebih sering. Jangka pendek: akhir pekan khusus ini didorong oleh tekanan tinggi tingkat atas yang sangat kuat di AS bagian barat,” lanjutnya.

Terjadi di Banyak Tempat

Adanya gelombang panas ini hanya salah satu bagian dari cuaca ekstrem yang melanda Negeri Paman Sam dalam beberapa pekan terakhir. Namun, tak hanya AS yang merasakan gelombang panas tersebut.

Eropa dan Asia pun merasakan hal yang sama. Salah satu negara yang sedang mengalami kenaikan suhu ekstrem adalah Italia. Suhu di Negeri Piza tersebut diperkirakan tengah mencapai 104° fahrenheit atau setara 40° celsius.

Akibat suhu panas tersebut, kementerian kesehatan Italia mendesak supaya orang lanjut usia (lansia) tidak keluar rumah. Bahkan, mereka memberikan 10 rekomendasi terhadap lansia supaya tidak terpapar panas yang menyengat.

Selain Italia, beberapa negara seperti Inggris dan Irlandia juga mendapatkan peringatan atas cuaca ekstrem ini. Cuaca panas yang ada di dua negara tersebut terjadi khususnya di lepas pantai timur laut Inggris dan barat Irlandia. 

Suhu panas tersebut tidak hanya mengancam kelangsungan hidup manusia, tapi juga spesies yang ada di lautan.

China Menyusul

Suhu panas juga melanda wilayah China. Salah satu kota yang mengalami kenaikan suhu ekstrem adalah Xinjiang. Di kota terpencil itu, tercatat suhu mencapai 52,2° celsius, yang merupakan rekor nasional.

Catatan tersebut mengalahkan rekor sebelumnya yang ada di angka 50,6° celsius. Catatan yang dikeluarkan oleh Administrasi Meteorologi China tersebut ditetapkan pada Juli 2017.

Suhu paling tinggi tersebut juga terjadi di hari Minggu, berbarengan dengan yang terjadi di Death Valley. Akibat cuaca ekstrem tersebut, pihak berwenang pun menyuruh para pekerja dan pelajar untuk tinggal di rumah dan tidak beraktivitas di luar ruangan.

Akibat Kerusakan Iklim

Kenaikan ekstrem suhu bumi disebabkan bukan hanya gara-gara adanya El Nino, tapi disebabkan oleh ulah manusia. Hal tersebut disampaikan oleh Russ Vose, kepala analisis iklim National Oceanic and Atmospheric Administration.

Vose mengatakan bahwa sebagian besar krisis iklim disebabkan oleh manusia. Menurutnya, diperkirakan tidak hanya sampai musim dingin saja, tapi tahun akan jauh panas. 

Masih dikutip dari The Guardian, senada dengan Vose, Leslie Mabon, seorang dosen sistem lingkungan di Universitas Terbuka, mengatakan bahwa gelombang panas saat ini memang tak semata-mata disebabkan oleh El Nino.

“Tidak diragukan lagi bahwa pendorong penting di balik tren pemanasan ini adalah emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil,” kata Mabon.

“Sampai kita dengan cepat mengurangi emisi dari bahan bakar fosil, gelombang ekstrem seperti gelombang panas yang kita lihat di Eropa saat ini akan semakin mungkin terjadi,” pungkasnya.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] studi menemukan adanya risiko cuaca panas terhadap perempuan sedang hamil, yakni bisa menyebabkan kematian bayi yang baru […]

[…] ahli menyalahkan cuaca panas ini pada peristiwa El Niño, yang juga menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. “Tapi itu bukan faktor utama,” […]

[…] Menurut laporan The Guardian, Debt Justice telah menyerukan kepada kreditur untuk membatalkan utang negara-negara yang menghadapi krisis. Mereka juga menyoroti bagaimana susahnya negara-negara di belahan bumi selatan (global south) dengan tingkat utang tinggi menghapus ketergantungan pada bahan bakar fosil. […]