Gak Aman dan Gak Enak: Alasan Threads Gagal Jadi Pesaing Twitter

by | Aug 10, 2023

Media Sosial | Teknologi | Threads | Twitter

FOMOMEDIA – Sempat disebut pesaing Twitter, Threads kini kehilangan banyak pengguna. Ada beragam alasan yang membuat Threads gagal saingi Twitter.

Sebelum kemunculan aplikasi Threads, sudah ada beberapa media sosial berbasis teks yang berusaha menyaingi Twitter. Dua di antaranya Bluesky dan Mastodon. 

Kemunculan dua media sosial tersebut merupakan respons atas kepemilikan Elon Musk terhadap Twitter. Musk mengubah beberapa peraturan yang membuat para pengguna merasa bahwa Twitter tak senyaman dan seasyik dulu. 

Misalnya, centang biru tidak lagi eksklusif. Sebelumnya, hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan spesial centang biru, sementara sekarang semua orang bisa. Syaratnya? Cukup keluarkan sekitar Rp120 ribu per bulan untuk berlangganan Twitter Blue.

Para pengguna Twitter Blue itu pun, menurut riset yang dilakukan Center for Countering Digital Hate (CCDH), bisa berbuat seenaknya. Para pemilik centang biru abal-abal itu bisa mengunggah konten berbau kebencian tanpa konsekuensi dari si empunya platform.

Kemudian, belum lama ini, Musk juga sempat membatasi jumlah cuitan yang bisa diakses para pengguna per harinya. Restriksi ini memang (tampaknya) sudah tak berlaku. Akan tetapi, ketika pembatasan dilakukan, banyak orang mulai gelisah dan berpikir untuk hengkang dari Twitter.

Elon Musk bikin Twitter gak nyaman lagi. (Foto: Reuters/Gonzalo Fuentes)

Musk vs Zuck

Lalu, apakah para pengguna Twitter akhirnya hijrah ke Bluesky, Mastodon, atau platform-platform sejenis lainnya? Jawabannya adalah tidak. Sebab, banyak orang yang bingung dengan cara kerja kedua platform tersebut. Akhirnya, mau tak mau, mereka pun bertahan di Twitter dengan segala kekurangannya.

Melihat kekosongan itu, mata bisnis Mark Zuckerberg pun bermain. Tak lama setelah Musk menerapkan kebijakan restriksi di Twitter, pada 5 Juli 2023, platform baru bernama Threads muncul. Diklaim kurang dari 24 jam setelah diluncurkan, Threads telah mendapatkan sekitar 30 juta pengguna. Dan per tanggal 10 Juli 2023, sudah tembus 100 juta

Sebetulnya, Threads sendiri (konon) telah dikembangkan jauh-jauh hari. Persisnya, sekitar tiga bulan setelah Musk mengambil alih kepemilikan Twitter dengan harga 44 miliar dolar. Namun, karena restriksi cuitan tadi membuat para pengguna Twitter resah, Zuckerberg selaku pemilik Meta, perusahaan yang menaungi Threads, pun memanfaatkan momentum.

Belum genap sebulan, pengguna Threads sudah seperempat dari jumlah pengguna Twitter saat ini yang berjumlah sekitar 327,9 juta. Musk tidak tinggal diam, sebab Threads memiliki fitur yang nyaris sama dengan Twitter. Bahkan, Twitter menuding Meta telah memplagiasi aplikasi mereka

Meta Curi Ide?

Kalau memakai bahasa kuasa hukum Twitter, Alex Spiro, Threads telah melakukan “penyalahgunaan rahasia dagang Twitter dan kekayaan intelektual lainnya yang sistematis, disengaja, dan melanggar hukum.”

Kemudian, Spiro menyebut Meta memperkerjakan banyak bekas karyawan Twitter yang tahu rahasia dagang perusahaan berlogo burung itu. Tudingan tersebut dibantah langsung oleh pihak Meta yang menyebut bahwa mereka tidak mempekerjakan satu pun eks karyawan Twitter. 

Bos Meta, Mark Zuckerberg. (Foto: Britannica)

Kekhawatiran dari Twitter jelas mendasar. Meta punya sejarah untuk meniru apa yang dilakukan para kompetitor. Instagram Story adalah ide Snapchat, Instagram Reels dibuat untuk menyaingi TikTok. Kini, giliran Twitter yang jadi korban.

Twitter pun makin panas melihat jumlah pengguna Threads yang naik pesat. Untuk mendaftar ke Threads, seseorang cukup mengunduh aplikasi, lalu mengintegrasikannya dengan akun Instagram miliknya. Tak cuma itu, mereka pun bisa menyalin segala data dari Instagram, termasuk centang biru. Tak heran jika jumlah pengguna Threads, setidaknya di atas kertas, bisa dengan cepat mendekati Twitter.

Threads sendiri bukannya tanpa cela. Permintaan akses ke data pribadi jadi concern banyak calon pengguna. Melihat rekam jejak Meta yang doyan memperjualbelikan data pengguna, kekhawatiran ini valid. Namun, euforia “Twitter baru” membuat banyak orang tetap merasa penasaran dan akhirnya menjajal Threads.

Lalu, bagaimana tanggapan mereka tentang Threads sendiri?

Kata Mereka soal Threads

Redaksi FomoMedia mewawancarai beberapa narasumber yang menggunakan Threads dan yang tidak. Kami ingin tahu apa alasan mereka menggunakan, atau tidak menggunakan, aplikasi yang identik dengan warna hitam-putih tersebut.

SA (31 tahun), seorang pegiat buku di Samarinda, mengaku terdorong mendaftar Threads karena jengkel dengan Twitter yang semakin ribet. “Pas hari peluncuran Threads aku daftar sekali coba-coba, apa lebih baik dari Twitter,” jawab SA lewat aplikasi WhatsApp. 

Tampilan aplikasi Threads. (Foto: Meta)

SA masih menebak-nebak, akan diarahkan ke mana aplikasi Threads. Menurutnya, sampai saat ini, dia baru bikin status atau unggahan sekali, selebihnya dia cuma re-posting akun lain. 

Sesuai pengalaman SA beberapa minggu memakai Threads, dia menilai Threads tampak menjanjikan dari segi penggunaan. Namun, secara fitur, Threads masih “polos”, belum secanggih Twitter. 

Sementara itu, AT (32 tahun), seorang guru sekolah dasar di Jakarta Utara, menyebut dia mendaftar ke aplikasi Threads karena iseng saja. Dan saat masuk, dia langsung malas sebab banyak artis yang tidak diikuti tapi muncul di beranda. 

“Bingung soalnya sama aja kayak Twitter. Cuma enggak enak karena timeline isinya artis-artis yang kita enggak follow,” keluh AT saat dihubungi.

Berbeda dengan SA dan AT yang segera mendaftar Threads, GN (29 tahun), karyawan swasta di Jakarta Selatan, yang belum mengakses aplikasi buatan perusahaan Meta tersebut. Sebab, menurutnya, belum tahu apa manfaat Threads. Secara kegunaan, Threads sama dengan Twitter. 

Selain itu, GN juga tidak ingin menambah distraksi baru dengan penambahan akun media sosial baru. Kata GN, “Penambahan akun media sosial berpotensi bikin saya lebih lama scrolling-scrolling.”

BACA JUGA:

Threads Gagal Saingi Twitter

Media sosial memang membuat penggunanya terdistraksi bahkan kecanduan. Kehadiran media sosial yang baru seperti Threads akan menjadi tugas berat netizen agar tetap mampu mengontrol diri. Dengan pengontrolan diri bisa terhindari kecanduan media sosial.

Selain soal kecanduan, kekhawatiran akan data pribadi yang diperjualbelikan pun rupanya dirasakan oleh pengguna di Indonesia. Menurut SA, tidak seharusnya perusahaan teknologi seperti Meta memperdagangkan data pribadi pengguna.

Meski begitu, di sisi lain, SA pun “pasrah”. Pasalnya, dia pun sadar bahwa Indonesia punya persoalan besar terkait keamanan data. “Kita hidup di negara yang tak peduli data pribadi warga negaranya. Mau nolak di sini, eh, jebol di sana,” selorohnya.

Akan tetapi, yang dikhawatirkan oleh SA atas kehadiran aplikasi Threads ini adalah data pribadi yang rentang dijualbelikan.

Nah, dari testimoni para pengguna Threads di atas, bisa disimpulkan bahwa platform berbasis teks itu memang masih perlu banyak pembenahan. Kami pun berhipotesis bahwa, jangan-jangan, itulah yang membuat jumlah pengguna harian Threads anjlok dari 49 juta ke 23,6 juta hanya dalam waktu sepekan. Dengan kata lain, untuk sementara, Threads gagal saingi Twitter.

Hmmm… Kalau kalian sendiri bagaimana? Masihkah kalian aktif menggunakan Threads atau malah belum pernah download sama sekali?

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] dianggap berbahaya dan dirancang untuk memasuki sistem perangkat komputer tanpa diketahui […]

[…] Salah satu yang mendasari mengapa Threads ditinggalkan penggunanya adalah dirasa tidak aman. Selain itu, aplikasi yang dianggap sebagai pesaing Twitter tersebut juga dianggap tidak enak digunakan. […]