“Gadis Kretek” Membuat Zaman Susah Tampak Begitu Menawan

by | Nov 15, 2023

Dian Sastrowardoyo | Gadis Kretek | Hiburan | Televisi

FOMOMEDIA – Aspek visual jadi daya tarik terbesar dari “Gadis Kretek”. Biaya produksi mahal terwujud dalam detail-detail yang begitu memanjakan mata.

Serial Gadis Kretek yang tayang di Netflix bisa dengan mudah dinobatkan sebagai salah satu adaptasi novel terbaik sekaligus tontonan dengan latar sejarah Jawa paling menyenangkan ditonton. Paling tidak, ada dua cerita yang berkelindan di serial Gadis Kretek

Cerita pertama berlatar 2001. Lebas (Arya Saloka)—putra bungsu dari konglomerat pemilik perusahaan rokok terbesar, Djagad Raja—melacak sosok bernama Jeng Yah. Nama itu diigaukan dengan penuh rasa sesal oleh sang ayah yang sakit-sakitan.

Bermodal selembar “foto bersama”, ia memulai pencarian dari Museum Kretek Kudus. Beruntung, kunjungan pertama itu langsung mempertemukannya dengan orang yang mengenali salah satu wajah dalam foto. Perempuan dengan logat Jawa yang kental itu bernama Arum (Putri Marino).

Melalui catatan demi catatan yang ditemukan dan dibaca oleh keduanya, penonton ditarik mundur ke cerita kedua, pada dekade 1960-an. 

Adalah Dasiyah (Dian Sastro), putri dari pabrik rokok kretek di Kota M (aslinya Muntilan, red.). Putri pertama dari dua bersaudari ini membantu sang ayah (Rukman Rosadi) sebagai mandor.

Dasiyah cukup terampil mengurus bisnis. Terlatih mencicipi berbagai merek rokok, ia bisa mengenali komposisi dari suatu rokok kretek. Ia pun bisa membedakan kualitas tembakau.

Namun karena Dasiyah seorang perempuan, pendapatnya tak dianggap serius. Sarannya untuk menseriusi strategi pemasaran tak didengar. Tegurannya saat pemasok memberi tembakau kualitas rendah tak digubris. Bahkan, anjuran agar berinovasi dengan rasa saus baru dianggap lancang karena mempertanyakan kecakapan si peracik saus, Dibjo (Whani Darmawan). 

Perempuan Warga Kelas Dua

Secara komposisi, jumlah laki-laki di pabrik kretek tak begitu dominan. Namun. meski jumlahnya lebih banyak, perempuan di pabrik hanya dianggap pantas sebagai pelinting.

Padahal, tak seperti adiknya maupun perempuan lain di sekitarnya, Dasiyah menyimpan ambisi: Ia ingin menjadi peracik saus kretek. Namun lagi-lagi, cita-cita ini terbentur stigma gender. Campur tangan perempuan, konon bikin saus kretek terasa kecut. Alhasil, ia tak dapat izin memasuki ruang saus.

Seorang gelandangan cekatan bernama Soeraja (Ario Bayu) lantas dipekerjakan oleh ayah Dasiyah. Mudah mendapat kepercayaan, Soeraja atau Raja (dibaca Raya, red.) menjadi perpanjangan tangan Dasiyah untuk mewujudkan ide-idenya yang selama ini terbentur.

Kerja sama ini mendekatkan kedua sosok yang sedari awal sudah saling tertarik ini. Pada puncaknya, Soeraja membantu Dasiyah untuk diam-diam meracik saus kreteknya sendiri. Saus kretek yang dibuat dengan bahan bunga mawar. Saus Kretek Gadis.

Namun kita tahu, setelah mendaki sampai di puncak, yang menanti selanjutnya adalah perjalanan turun. Pada bagian cerita inilah, ayah Lebas meninggalkan keputusan yang ia sesali sampai akhir hayat.

Soeraja (Ario Bayu) dan Dasiyah (Dian Sastrowardoyo) dalam Gadis Kretek. (Foto: Netflix)

Teriak “Mahal” di Berbagai Lini

Ifa Isfansyah sudah tertarik memfilmkan Gadis Kretek sejak 2012. Padahal, saat itu, novel Ratih Kumala yang dibacanya masih berupa draft. “Jangan kasih ke siapa-siapa, ya, kalau mau difilmkan,” pesan Ifa saat itu, dilansir Kumparan.

Setelah Gadis Kretek terbit, Ifa dan Ratih sempat hendak mengadaptasi novel itu menjadi film layar lebar. Proyek itu mandek bertahun-tahun karena novel Ratih terlalu kompleks untuk diadaptasi menjadi sebuah film berdurasi kurang dari 3 jam.

Proyek itu berlanjut karena Netflix siap menyokong produksi serial dengan kualitas setara film bioskop. Serial Gadis Kretek pun tampil “mahal” di berbagai lini. 

Deretan aktor berkelas hadir di tengah mise en scene (aspek visual) yang mendetail dengan balutan color grading yang memanjakan mata. 

Salah satu kesulitan film berlatar sejarah adalah menciptakan set meyakinkan yang memadai untuk diorkestrasi dalam frame. Gadis Kretek tampak sukses atasi kesulitan itu.

Shot demi shot untuk periode 60-an penuh dengan detail-detail yang meneriakkan latarnya. Dari gelas coklat khas koleksi keluarga Jawa, hingga aneka tembikar di ruang saus. Set desainnya tak hanya megah, tapi turut mencerminkan riset yang matang.

Dian Sastrowardoyo sebagai Dasiyah dalam Gadis Kretek. (Foto: Netflix)

Set dan properti juga terpadu dalam jalinan komposisi yang menawan. Lihat saja bagaimana sinematografer Batara Goempar mengorkestrasi pabrik kretek di dalam frame-nya. Dari tempat kerja para pelinting, hingga gudang penyimpanan tembakau, Dasiyah kerap diposisikan sebagai pusat dengan cara yang variatif.

Busana Dasiyah Tiada Dua

Selain komposisi dan kemampuan aktornya sendiri, busana berperan besar dalam menciptakan daya kehadiran (presence) Dasiyah yang besar. Kebaya janggan yang kerap dipakainya tak hanya elegan, tapi juga mencolok. Dipakai Dasiyah seorang, kebaya yang mengadopsi model seragam militer Eropa itu menciptakan kesan keterasingan dari sekitar. Itu memperkuat sosok Dasiyah sebagai perempuan yang berpikir melampaui zamannya.

Ialah Hagai Pakan, perancang kostum yang bertanggung jawab atas busana di serial ini. Ia sudah berpengalaman karena sebelumnya terlibat dalam film-film yang menjadikan kebaya sebagai busana utama. Di antaranya termasuk Losmen Bu Broto (2021) garapan Ifa Isfansyah dan Before, Now, & Then (2022) garapan Kamila Andini. Dua sutradara itu, yang adalah suami-istri, menyutradari serial Gadis Kretek ini bersama-sama.

Dengan sutradara, sinematografer, dan kru lain yang punya jam terbang tinggi menciptakan visual berkualitas, Gadis Kretek sekelas dengan serial-serial lain yang jadi tontonan mancanegara. 

Mempercantik Masa yang “Tak Keren”

Musik serial ini turut mengambil peran penting. Lagu magis Chrisye, “Kala sang Surya Tenggelam”, gubahan Guruh Soekarnoputra, dibawakan ulang oleh Nadin Amizah yang lebih dekat dengan telinga anak muda hari ini. Cara bernyanyi Nadin memperkaya lagu ini dengan kesedihan yang seakan diteriakkan Dasiyah selepas episode 4.

Lagu itu membangun mood dalam opening animasi yang begitu cantik, khas serial Netflix. Musik latar serial ini merangkul band dan musisi terkini. Akan tetapi, secara sonikal, tidak ada yang terdengar keluar dari zaman. Kemunculan Soeraja misalnya, diiringi dengan musik rock yang terdengar jadul.

Bagaimanapun, pencapaian terbesar Gadis Kretek adalah visualnya.. Film berlatar sejarah Jawa yang sudah-sudah telah memperlihatkan betapa sulitnya membuat estetika masa lampau tampak memikat untuk penonton hari ini. 

Bumi Manusia (2019), Sultan Agung (2018), hingga Kartini (2017) yang juga diperankan Dian Sastro, menampilkan busana dan latar Jawa dalam skala tak kecil. Namun dalam ingatan kolektif masyarakat kita, masa sebelum dan sesudah kemerdekaan adalah masa yang sulit, terutama secara ekonomi. Dibanding produk-produk kebudayaan yang diimpor saat ekonomi membaik, produk kebudayaan sendiri cenderung dianggap “kurang keren”.

Seperti dalam skema marketing, tokoh berpengaruh punya peran besar dalam membuat sesuatu keren. Peran Dian Sastro terang sekali besarnya dalam membuat keren kebaya sebagai pakaian sehari-hari dan tas anyaman untuk membawa belanjaan. 

Maksimal berkat Warna & Cahaya

Namun, kenapa Kartini tak berhasil? Selain hal-hal di subbab pertama, satu faktor yang jelas adalah lighting dan color grading. Dibanding fim-film sebelumnya, serial ini lebih maksimal dalam melibatkan pencahayaan dan warna dalam mengorkestrasi mise en scene.

Gadis Kretek sangat tegas membedakan warna hangat dingin. Warna kemerahan melekat pada masa lampau, masa-masa yang kerap terpotret dalam foto sepia. Sementara itu, warna kebiruan di masa depan punya hadir dengan cerita tersendiri.

Di masa lalu, warna biru begitu mencolok karena jarang muncul. Biru ada pada pakaian Ibu Dasiyah (Sha Ine Febriyanti), pintu ruang saus, bungkus rokok Gadis Kretek, dan nantinya kemeja Soeraja. Di masa depan, biru ada di mana-mana. Pada kantor, rumah, mobil, hingga pakaian Arum. 

Jika kita menarik garis, kita akan melihat rentetan sebab akibat pada warna-warna itu. Dunia masa depan yang ditinggali Arum dan Lebas, adalah dunia yang tercipta dari bunga mawar, bahan dasar saus Gadis Kretek.

Gadis Kretek tentu bukan tontonan tanpa cela. Namun serial ini digarap dengan keseriusan yang semestinya akan lebih sering kita temui pada tontonan-tontonan buatan negeri ini di masa mendatang.

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan), 24 Jam Bersama Gaspar (novel karya Sabda Armandio), serta Gadis Kretek (dari novel Gadis Kretek karya Ratih […]

[…] “Gadis Kretek” Membuat Zaman Susah Tampak Begitu Menawan […]

[…] warganet membuat thread untuk mengulas serial ini dari berbagai sisi. Sebagian besar menyanjung aspek sinematografi Gadis Kretek yang memanjakan mata, termasuk untuk adegan […]