Festival UFO Indonesia 2023: Upaya Membumikan Antariksa

by | Aug 1, 2023

Antariksa | Event | Yogyakarta

FOMOMEDIA – Festival UFO Indonesia jadi ruang berbagi pengetahuan antariksa agar pemahaman mengenai astronomi tak hanya berhenti di ranah akademis.

Pengetahuan tentang keastronomian di Indonesia bisa dibilang cukup minim. Pembahasan dasar mengenai ilmu matahari, bulan, dan planet-planet lain di sekitar bumi sebatas diajarkan dalam materi sekolah saja.

Namun, akhir-akhir ini, bahasan mengenai dunia astronomi makin populer di Indonesia. Wacana dunia astronomi di Indonesia sedang jadi pembahasan menarik. Banyak cara yang bisa digunakan sebagai media belajar mengenai alam semesta. Salah satunya melalui pameran atau festival.

Seperti Festival UFO Indonesia 2023, misalnya. Acara yang diadakan di Yogyakarta, 2-30 Juli 2023 itu menghadirkan 17 program berbeda. Selama hampir sebulan penuh, festival digelar tak cuma di satu lokasi, tapi di tujuh tempat berbeda.

Festival UFO Indonesia 2023 merupakan proyek kolaborasi dari Indonesia Space Science Society (ISSS), Indonesia UFO Network (IUN), dan HONF Foundation. Menariknya, lembaga-lembaga non-profit tersebut juga melibatkan peran berbagai universitas di Indonesia.

Banyak peserta festival merupakan praktisi dan akademisi yang datang dari berbagai universitas dan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Total, terdapat 30 perwakilan universitas yang datang ke Yogyakarta untuk meramaikan Festival UFO Indonesia 2023.

Selain dari ranah pendidikan, festival tersebut juga menghadirkan berbagai komunitas dan institusi non-profit yang terlibat dalam penyelenggaraan. Mulai dari Arcolabs dari Jakarta, Korea Foundation, Wayang Merdeka, Ruang Anak dari Yogyakarta, serta Boredoom dari Bandung.

Sementara itu, 17 rangkaian acara festival di antaranya seperti “Wayang Alien”, Workshop “Space Farming”, Pameran “Space Art”, UFO Camp, Space Sound, Indonesia UFO Day, Peresmian lokasi “Kampung Alien”, Deklarasi Riset dan Proyek “Space Food” pertama di Indonesia, sampai kepada penyelenggaraan “International SETI Conference” #05 2023.

Seorang pengunjung Festival UFO Indonesia 2023 menikmati foto-foto yang dipajang di lokasi pameran. (Foto: Sunardi/FomoMedia)

Mengikuti Cosmos Chronology

Dari 17 program di atas, salah satu yang menarik yakni “Cosmos Chronology”. Saya pun berkesempatan mengikuti program Festival UFO Indonesia 2023 itu

Program yang dibuka untuk publik tersebut merupakan bentuk perayaan 50 Tahun hubungan diplomatik Korea-Indonesia melalui lensa seniman media baru dari Indonesia dan Korea.

Dalam “Cosmos Chronology” terdapat beberapa program yang berlangsung dari 14 sampai 23 Juli 2023. Acara yang berlangsung di IFI-LIP (Lembaga Indonesia Prancis), Jalan Sagan no. 3 Yogyakarta, tersebut menghadirkan delapan seniman dari Indonesia dan Korea.

Seniman dari Indonesia ada Benny Wicaksono, Heri Dono, Garasi Performance Institute & Friends, XXLAB, dan Venzha Christ. Sementara, seniman dari Korea ada Kim Bosul, Lee Kngwook, dan Unhappy Circuit.

Para seniman tersebut menyuguhkan karya-karya apik bertema kosmos yang bisa dinikmati oleh publik. 

Minggu (23/7) pukul 18.00 WIB saya tiba di lokasi pameran tersebut. Sembari menunggu acara “Space Sound” yang dipandu oleh Venzha Christ, saya memilih untuk masuk dan melihat karya-karya seniman di dalam galeri.

Begitu tiba di pintu masuk galeri itu, saya disambut pemandangan yang memanjakan mata.mata. Para pengunjung langsung disambut oleh astronot yang berdiri persi di depan pintu. Menariknya, astronot itu bukanlah manusia, melainkan orangutan.

Selain karya tersebut, para pengunjung juga disuguhkan dengan beberapa karya seni seperti fotografi dan perangkat elektronik yang bisa melihat gelombang ultrasonik dalam kepala manusia.

Ruang galeri seluas sekitar 5 x 20 meter persegi itu tampak penuh dengan pengunjung. Mereka diajak mempelajari misteri dan keajaiban alam semesta melalui berbagai bentuk seni dan pengalaman interaktif.

Instalasi seni berupa astronot berkepala orangutan menyambut pengunjung Festival UFO Indonesia 2023 di Yogyakarta. (Foto: Sunardi/FomoMedia)

Seperti yang dirasakan oleh Maura. Perempuan berusia 29 tahun tersebut berkesempatan untuk masuk ke dalam galeri. Ia pun berbagai pengalaman tentang apa saja yang didapatkan selama menikmati kunjungannya itu.

Maura berasal dari Pontianak mengungkapkan bahwa ia telah melihat karya seniman yang bisa mengombinasikan sains dan teknologi dengan seni.

“Saya penasaran bagaimana cara mengombinasikan logika kita berpikir atau pun keadaan-keadaan yang sepertinya nyata dibandingkan seni yang selalu imajinatif dan fleksibel,” kata Maura.

“Ketika mereka digabungkan di sini ternyata memiliki karakteristik yang menarik. Seperti ada imajinasi-imajinasi khususnya yang dari anak-anak itu, mereka memiliki imajinasi yang sepertinya kayak pandangan umum orang ya sekadar imajinasi saja. Padahal, ini bisa diterapkan ke teknologi sesungguhnya,” lanjutnya.

Perempuan yang sedang melanjutkan studi di Yogyakarta itu mengatakan bahwa pengetahuan tentang luar angkasa hanya didapatkan sewaktu sekolah. Ia pun baru pertama kali ke Festival UFO Indonesia. 

Maura berharap supaya media pembelajaran seperti itu bisa terus ada. Sementara itu, dari segi peran pemerintah, ia juga berharap supaya bisa meningkatkan pengetahuan tentang dunia antariksa yang lebih masif lagi.

Tak jauh beda dengan Maura, Raka juga sangat tertarik ke acara Festival UFO Indonesia 2023. Pria 26 tahun tersebut menyempatkan hadir ke salah satu program yang juga saya ikuti.

Menurut Raka, ia tertarik ke festival tersebut lantaran adanya beberapa nama seniman yang sudah dia kenal. Beberapa seniman tersebut adalah Benny Wicaksono, Heri Dono, dan Venzha Christ.

Suasana Festival UFO Indonesia di Yogyakarta. (Video: Sunardi & Ricky)

“Menariknya termasuk tiga seniman ini, kecuali mas Venzha Christ karena aku baru lihat, tapi kalau Pak Heri Dono sama Mas Benny ini mereka menggunakan materi-materi yang kita anggap science fiction. Ini kan pembahasannya terkait space dan temanya ‘Cosmos Chronology’” kata Raka.

“Dari dua seniman itu yang aku perhatikan mereka malah berangkatnya malah bukan dari unsur tentang space. Salah satu karya yang ditampilkan oleh Pak Heri Dono itu orangutan yang memakai pakaian astronot. Itu uniknya meskipun artefak karyanya terinspirasi kaya cyberpunk gitu. Mereka bisa mengemas dengan unik,” lanjutnya.

Pria yang berasal dari Semarang itu juga mengaku baru pertama kali ke pameran semacam ini. Raka bercerita bahwa dirinya tertarik dengan dunia antariksa sejak masa kanak-kanak. 

“Mulai dari aku kenal game dulu. Game kalau nggak salah StarCraft, zaman PC masih awal-awal, masih pentium. Nah, StarCraft itu jadi salah satu game yang memperkenalkan aku jadi suka kayak astronot dan dunia luar angkasa,” ujar Raka.

Raka yang juga sedang melanjutkan studi magister di Jogja itu berharap supaya pameran semacam Festival UFO Indonesia 2023 bisa terus ada dikembangkan. 

“Kalau ada event semacam ini pasti aku akan datang lagi,” pungkas Raka.

Sementara itu, Venzha Christ, yang menjadi salah satu penggagas Festival UFO Indonesia, mengatakan bahwa antusiasme penonton tiap tahun memang selalu bertambah. 

“Untuk antusiasme pengunjung alhamdulillah meningkat terus. Ini saja udah ribuan yang nonton satu acara aja. Jadi dari mulai awal itu puluhan, ratusan, dan sekarang alhamdulillah,” kata Venzha saat ditemui di IFI-LIP, Minggu (23/7) lalu.

Pria kelahiran 1975 itu pun bercerita awal mula sebelum terciptanya Festival UFO Indonesia. Menurutnya, ide awal untuk memulai festival tersebut bermula sejak tahun 2016.

Suasana Festival UFO Indonesia di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta. (Foto: Sunardi/FomoMedia)

“Awalnya dulu itu kita memulainya 2016 namanya Internasional SETI Conference. Nah, konsepnya hanya konferensi. Itu kan tahun 2016, terus berkembang-berkembang banyak permintaan dari institusi, dari lembaga, dari universitas untuk ingin ikut. Jadi, kalau hanya konferensi sehari dua hari nggak cukup, Mas. Akhirnya kita memberanikan diri mulai 2019 itu membikin festival wae, lah. Ya, udah kita mengumpulkan semua orang dari seluruh Indonesia,” ujar Venzha.

Pada tahun 2019 itulah kemudian Venzha akhirnya menghadirkan 30 institusi dan komunitas dari seluruh Indonesia. Dari pertemuan tersebut, akhirnya lahirlah Indonesia UFO Day atau Hari UFO Nasional yang jatuh tiap tanggal 21 Juli.

Menurut Venzha, menjalankan Festival UFO Indonesia tiap tahun tak semudah yang dibayangkan. Setelah 2019, Festival UFO Indonesia sempat terhenti gara-gara pandemi Covid-19 yang menyebabkan vakum dua tahun.

Sementara itu, pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi Festival UFO Indonesia juga bukan tanpa sebab. Pertama, Venzha menilai bahwa dengan diadakan di kota pelajar ini secara biaya bisa sangat hemat.

“Orang-orang mau lihat Jogja itu tengah-tengah. Jadi saya mengundang orang Papua, saya mengundang orang Padang, saya mengundang orang Aceh gitu itu mereka nggak terlalu mahal kalau ke sini,” kata Venzha.

Ke depannya, pria yang sempat ikut belajar simulasi kehidupan di Mars oleh SpaceX itu berharap Festival UFO Indonesia bisa berkembang lebih besar dan luas lagi. 

“Tahun depan semoga bisa di Jakarta. Semoga bisa,” pungkas Venzha.

Space Sound ala Venzha Christ

Setelah tur galeri, di hari yang sama saya kemudian melanjutkan ikut program “Space Sound”. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu diikuti sekitar 50 orang yang masuk ke dalam studio IFI-LIP.

Seorang pengunjung Festival UFO Indonesia mencoba wahana ultrasonik. (Foto: Sunardi/FomoMedia)

Sayangnya, dalam kesempatan ini para peserta, termasuk saya, tidak diperbolehkan untuk menyalakan gawai atau perangkat kamera. Larangan tersebut bukan tanpa maksud. Dalam “Space Sound” para peserta diajak untuk menikmati bagaimana gelombang ultrasonik bisa berkelindan di sekitar kita.

Setelah mematikan gawai dan perangkat kamera, saya dan peserta lain dipersilakan masuk ke studio. Di dalam ruangan, para peserta diajak untuk menikmati suguhan “Space Sound”. 

Suara gelombang ultrasonik yang berasal dari pikiran menjadi sajian utama. Gelombang ultrasonik itu dikeluarkan oleh pikiran menggunakan delapan alat antena yang bentuknya lingkaran. Saya dan tujuh peserta lain berkesempatan untuk memakai alat tersebut.

Selain delapan peserta yang diminta oleh panitia menjajal alat menyalurkan gelombang ultrasonik, sebanyak 20 peserta lain diminta untuk tiduran di atas karpet yang terbuat dari bahan alumunium foil. 

“Ada banyak [gelombang] ultrasonik dari benda langit dan itu akan dimanfaatkan. Sementara ada 20 orang dipilih untuk mendengarkan dengan mata tertutup dan penggunaan aluminium foil tersebut untuk menetralisir suara dari tubuh,” kata Venzha Christ menjelaskan sebelum praktik “Space Sound” dimulai.

Menurut Venzha, topi antena itu akan menciptakan musik bagi sesama manusia. Dengan mata ditutup, para peserta yang mendengar gelombang ultrasonik yang disalurkan ke dalam sound dengan volume suara yang keras. Menariknya, suara gelombang ultrasonik tersebut, menurut Venzha, dianggap mampu memanggil ingatan pada masa kecil.

Selama hampir 30 menit saya duduk bersila bersama tujuh orang lain dengan memakai topi antena penyalur gelombang ultrasonik. Selama itu pula, 20 peserta yang tiduran di atas alumunium foil tersebut posisinya mengelilingi delapan orang pemakai topi antena.

Ketika volume sound dinaikan, terdengar suara gemuruh seperti mesin pabrik dan serangga yang ada di sawah. Pengalaman selama 30 menit itu membuat saya takut dan takjub. Bahkan, setelah praktik, beberapa peserta lain pun mengungkapkan hal serupa.

Selain itu, sewaktu mendengarkan gelombang suara ultrasonik dengan mata tertutup langsung membuat saya jadi ingat kehidupan semasa di rumah. Seperti kata Venzha, ingatan-ingatan masa lalu bisa tiba-tiba muncul seketika.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments