Fenomena Childfree: Seriusan Gak Mau Punya Anak?

by | Feb 6, 2023

Keluarga | Sosial
Fenomena Childfree: Seriusan Gak Mau Punya Anak?

FOMOMEDIA – Akhir-akhir ini fenomena childfree ramai jadi perbincangan di masyarakat. Sebenarnya childfree cuma sekadar tren atau benar-benar udah jadi jalan hidup sih?

Pada Agustus 2021, seorang content creator bernama Gita Savitri Devi menyatakan sikap untuk hidup tanpa memiliki anak atau istilah trennya, “childfree”. 

Kabar itu tersiar ketika Gita menjawab pertanyaan netizen di Q&A yang ia buka untuk pengikutnya di Instagram Story-nya. Ada sebuah pertanyaan dari netizen yang kira-kira begini: Seandainya tiba-tiba dikarunia anak, bagaimana perasaannya?

Gita memberi respons bahwa “lebih gampang enggak punya anak daripada punya anak karena banyak banget hal preventif yang bisa dilakukan untuk tidak punya.” 

Pernyataan itu ternyata menuai kontroversi dan tangkapan layarnya tersebar di berbagai platform media sosial. Gita jelas sadar dampak apa yang ia terima ketika melontarkan pernyataan demikian kepada netizen Indonesia.

Tangkapan layar Instastory @gitasav

Di kesempatan lain, Gita bersama suaminya, Paul Partohap, diundang di acara televisi Kick Andy. Di sana, pembawa acara Andy F. Noya menanyakan apakah pasangan suami istri ini suatu saat akan berubah pikiran untuk memiliki anak. 

Mereka berdua sebenarnya tidak sampai memikirkan untuk berubah sikap. Akan tetapi, Gita sempat mempertimbangkannya karena pertanyaan itu kerap dilontarkan oleh orang-orang di sekitarnya atau pengikutnya di Instagram. Meski begitu, pendirian Gita tak pernah goyah.

Sedangkan, bagi Paul, sempat ada dorongan dari ibunya agar ia dan Gita memiliki momongan walau satu anak saja untuk meneruskan garis marga. Namun, saudara-saudara Paul meyakinkan ibu mereka bahwa Paul dan Gita justru bahagia karena tak memiliki anak.

Memutuskan hidup tanpa anak kadarnya tak jauh beda ketika memutuskan hidup tanpa pasangan. Sudah jadi anggapan umum bahwa ukuran kebahagiaan seseorang jika memiliki pasangan hidup. Begitu juga kebahagian suami istri akan sempurna apabila ada tangisan bayi di rumahnya. Artinya, seakan pernikahan dan memiliki anak adalah indikator sebuah kebahagiaan. Dari anggapan umum itu, menjalani kehidupan “childfree” memang tidak mudah.

Konsep yang juga hampir sama sempat dilontarkan oleh Chef Juna ketika ditanya oleh Deddy Corbuzier perihal anak. Menurut Juna, “Apakah aku menginginkan anak? Jika istriku ingin anak, maka kami punya anak. Jika istriku tidak ingin anak, maka kami tidak akan memilikinya.”

Pernyataan Juna tersebut adalah salah satu sikap untuk menghargai atau memberikan kebebasan sepenuhnya kepada istri atau perempuan. 

Sebab, perempuanlah yang mengandung anak selama sembilan bulan, melahirkannya, menyusuinya selama dua tahun, dan merawatnya. Artinya, peran perempuan sangatlah banyak ketimbang laki-laki dalam merawat dan membesarkan seorang anak. Maka dari itu, seorang istri punya hak lebih besar untuk memutuskan punya anak atau tidak. . 

Selain itu, memutuskan menjalani hidup tanpa anak bukan cuma soal mengikuti tren. Sebab, ini adalah keputusan yang tidak main-main. Akan ada konsekuensi terhadap ke diri sendiri dan lingkungan terdekat. 

Seandainya Anda hanya mengikuti tren atau gaya idola Anda, sebaiknya pikirkan lagi keputusan yang Anda buat. Tanyakan pada diri sendiri, kuatkah Anda, pasangan Anda, dan orang tua Anda menghadapi cibiran dari orang-orang sekitar? Kalau dirasa bakal “kena mental”, ada baiknya, ya, keputusan tadi dipikirkan kembali.

Di Indonesia, istilah childfree baru saja populer dua tahun terakhir. Pernyataan Gita, Cinta, dan Juna menjadi katalisnya. Namun, sebelum itu sebetulnya sudah ada sebuah postingan Facebook yang viral pada awal 2020. Kala itu, penulis Victoria Tunggono menyatakan sikap untuk childfree melalui akun Facebook-nya. Pernyataan sikap Victoria itu pun akhirnya menjadi sebuah buku berjudul Childfree & Happy: Keputusan Sadar untuk Hidup Bebas Anak (2021). 

Cover buku Childfree & Happy, Victoria Tunggono

Dalam pengantar bukunya, Victoria menulis bahwa lema “childfree” memang baru muncul di Indonesia akhir-akhir ini, tetapi sesungguhnya praktiknya sudah dijalani selama beberapa dekade terakhir. Setidaknya, Victoria mengisahkan pengalamannya ketika remaja sudah memutuskan untuk tidak punya anak di kemudian hari. 

Belum ada penelitian yang jelas seberapa banyak pasangan muda-mudi yang menjalani “childfree” di Indonesia. Tapi, dari tahun ke tahun angka kelahiran di Indonesia mengalami penurunan. 

Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) pada tahun 1960 di kisaran 5,67, mengalami penurunan yang signifikan pada 2022, di angka 2,1. Penurunan TFR tersebut tidak lepas dari program keluarga berencana (KB) yang dicanangkan pemerintah sejak 1970 dan juga tak lepas dari slogan “Dua Anak Cukup”. 

Kalau dulu, Indonesia merasa khawatir dengan lonjakan jumlah anak di Indonesia sehingga ada program KB dan “Dua Anak Cukup”, kini kekhawatirannya berbalik, yakni “Indonesia akan berpotensi mengalami resesi seks”

Resesi seks ditandai dengan kemerosotan aktivitas hubungan seks yang berdampak pada rendahnya kemauan menikah dan memiliki anak dalam sebuah keluarga. Ada enam negara yang sudah pada fase “resesi seks”, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Rusia. 

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, potensi terjadi resesi seks Indonesia memang ada. Hanya saja, butuh proses yang cukup panjang dan tak akan terjadi dalam waktu dekat.

“Potensi itu ada, ada ya, tapi sangat panjang, karena ‘kan gini usia pernikahan semakin lama ‘kan semakin meningkat. (Ini bicara) pernikahan lo, bukan seks,” ucap Hasto, dikutip dari CNBC Indonesia.

Artinya, yang dikhawatirkan adalah penurunan angka kelahiran anak atau jumlah pernikahan, bukan seks. Bisa disebut, seks jalan terus, tapi nikah dan punya anak tunggu dulu. 

Childfree Bukan Sekadar Tren

Kalau banyak netizen menyebut childfree hanyalah tren atau agar disebut edgy. Namun, Victoria menolak anggapan seperti itu bahwa childfree tidak sekadar tren anak muda di Indonesia. “Jika istilah ini semakin sering terdengar, itu karena kini lebih banyak orang yang menyatakan diri atau membahasnya di ranah publik,” tulis Victoria dalam bukunya. 

Pengakuan tertulis Victoria, para penganut childfree di Indonesia memiliki grup WhatsApp tertutup dengan 300-an anggota dan di media sosial ada juga beberapa akun Instagram, misalnya, @childfreelife.id, @childfreemilenialindonesia, dan @childfreeindonesia. 

Bila mereka berkumpul seperti itu, kemudian berserikat, apa selanjutnya akan menjadi sebuah gerakan masif di Indonesia? Entahlah. Namun, keputusan mereka itu mesti dihargai oleh siapa pun.

Kalau masih ada yang menganggap bahwa itu hanyalah tren belaka, mungkin kita mesti mencari tahu apa, sih, menjadi faktor kuat sehingga mereka memutuskan childfree.

Dalam bukunya, No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, Corinne Maier membuat daftar 40 alasan untuk tidak memiliki anak. Setidaknya, ada beberapa alasan yang mendasar yang disampaikan oleh Maier.

Pertama, sudah terlalu banyak anak kecil di dunia ini. Per 15 November 2022, menurut laporan PBB, populasi dunia telah mencapai 8 miliar.

Kedua, perihal pribadi. Misalnya, seseorang tidak suka dengan tangisan anak kecil, tidak mau diganggu dengan kerepotan mengurus bayi, atau merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik ke depan. Atau, alasan seperti Gita dan Paul, yakni fokus ke kebahagian mereka berdua. 

Ketiga, tentang ekonomi. Ada pasangan suami istri yang tidak memiliki anak karena mempertimbangkan keuangan mereka. Mereka tidak punya uang untuk membiayai anak sampai dewasa yang konon bisa menghabiskan kurang lebih Rp3 miliar.

Yang jelas, setiap orang atau pasangan memiliki alasan mereka masing-masing. Bila mereka bahagia dengan jalan hidup yang ditempuh, lalu apa hak kita untuk mengusiknya?

Tapi, jangan pula mereka yang sudah memutuskan childfree sebagai jalan hidupnya untuk mengampanyekan dan memengaruhi orang lain mengikuti jalan yang sama seperti mereka. Terlebih bagi seorang influencer media sosial yang mana setiap ucapan, sikap dan perilaku mereka disaksikan oleh ribuan hingga jutaan orang dan berdampak pada keyakinan orang lain.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Visual: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks! https://accounts.binance.com/ru/register?ref=V2H9AFPY

[…] Fenomena Childfree: Seriusan Gak Mau Punya Anak? […]