Ekonomi Lagi Lesu-lesunya, Industri Film China Malah Booming

by | Oct 16, 2023

China | Film

FOMOMEDIA – Di tengah lesunya perekonomian China, imbas gagal memanfaatkan momentum pascapandemi untuk bangkitkan stabilitas, industri film justru cerah.

Pada musim panas tahun 2023 ini, total pengunjung bioskop di China mencapai lebih dari 570 juta penonton. Judul terlaris yang tayang di periode ini meliputi: thriller kriminal No More Bets; misteri romantis Lost in the Stars, komedi olahraga One and Only, dan epos fantasi Creation of the Gods I: Kingdom of Storms.

Sepanjang masa penayangan film-film itu, pada bulan Juni hingga Agustus, jumlah pendapatan film lokal mencapai 20,6 miliar yuan (sekira 44 triliun rupiah).

Musim panas memang selalu jadi periode penjualan tiket bioskop tertinggi. Namun, sepanjang sejarah, itu jumlah tertinggi dalam periode tersebut. Angka itu mengalahkan rekor penjualan musim panas terbesar sebelum pandemi, yakni sebesar 17,8 miliar yuan (sekira 38 triliun rupiah) pada 2019.

Menonton sebagai Pelarian

Situasi itu kontras dengan kondisi ekonomi China yang sedang tidak stabil. Stanley Rosen, seorang profesor ilmu politik dan hubungan internasional di US-China Institute, University of Southern California, berkata, “Konsumsi jauh menurun untuk barang-barang seperti rumah atau mobil.”

Pasar properti terus mengalami kemerosotan. Padahal, di situlah mayoritas rumah tangga China menyimpan 80% kekayaan mereka, Di tengah meningkatnya ketidakpastian akan masa depan, masyarakat cenderung menimbun uang tunai.

“Tetapi mereka mampu pergi ke bioskop. Dan itu mengalihkan pikiranmu dari berbagai tekanan,” tambah Rosen, dikutip CNN..

Rosen menyebut situasi perfilman di China hari ini mirip dengan di Amerika Serikat pada masa Depresi Besar 1930-an. Saat itu, orang-orang Amerika juga “tidak punya uang,” tapi bioskop sangat laku. Film-film yang menampilkan bintang macam Fred Astaire dan Ginger Rogers pada masa itu meraup keuntungan sangat besar.

“Dari sudut pandang konsumen, menonton film lebih cocok untuk konsumsi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah,” terang Xuguang Chen, seorang profesor di Fakultas Seni Universitas Beijing.

Menurut Dengta, aplikasi utama pelacak box office di China, separuh dari demografi penonton bioskop di China adalah pemuda berusia 20-29 tahun. Industri ini didorong oleh kekuatan konsumsi anak-anak muda yang lahir pada dekade 1990-an dan 2000-an.

“Kami ingin hidup pada saat ini, bukan memikirkan masa depan. Beberapa dari kami bahkan tidak mau melakukan pembayaran jaminan sosial. Kami hanya ingin menikmati hidup selagi bisa dan memanfaatkan hari ini,” kata Perry Peng, seorang asisten galeri di Shanghai, dikutip CNN.

“Hal-hal seperti rumah dan mobil terlalu jauh bagi kita, atau rasanya seperti sesuatu yang berada di luar kendali kita. Hidup kita sudah sengsara, kenapa kita tidak bisa menikmati hal-hal yang membuat kita bahagia?” tambah perempuan 24 tahun itu.

Film Lokal Makin Oke

Jumlah penonton film-film box office lokal melampaui film-film Hollywood yang juga tayang di periode itu. Di China, Barbie hanya menghasilkan 246 juta yuan, sedangkan Mission: impossible–Dead Reckoning Part One menghasilkan 350 juta yuan.

Sebagai perbandingan, No More Bets, film penipuan yang merupakan tema kegemaran masyarakat, meraup 3,52 miliar yuan. Sementara One and Only, film bergenre olahraga yang biasanya tak terlalu diminati penonton China, meraup 850 juta yuan.

“Kami sudah lama tidak melihat film dalam negeri sebaik ini. Kami terkejut mereka bisa sebagus itu,” kata Peng, yang juga seorang sinefil.

“Saya adalah penggemar berat film-film Amerika dan Eropa. Tapi tiba-tiba saya merasa China sepertinya punya Lord of the Rings sendiri,” tambah Peng, yang sangat menyukai Creation of the Gods I: Kingdom of Storms, sebuah adaptasi dari fiksi China abad ke-16.

Lebih Relevan dari Hollywood

Sebelum pandemi, China adalah salah satu pasar film terbesar Hollywood karena penduduknya yang banyak dan infrastruktur bioskop yang merata. Setelah pandemi, minat terhadap film-film blockbuster Hollywood tak sebesar sebelumnya. Kini, penonton lebih tertarik menonton film lokal.

Shi Chuan, wakil kepala Asosiasi Film Shanghai, menjelaskan bahwa perubahan ini terkait dengan kondisi ekonomi. Saat perekonomian Tiongkok tertinggal dibanding negara-negara lain, masyarakat hanya bisa mengakses hiburan sederhana. Maka secara alami, mereka tertarik pada teknologi dan budaya dari wilayah yang ekonominya lebih maju.

Kini, perekonomian memang lesu. Namun, kondisi masyarakat sudah bertumbuh. Penonton Tiongkok lebih berpikiran terbuka dan percaya diri. Selera terhadap film pun meningkat.

“Mereka tak perlu Hollywood lagi untuk memenuhi kursi bioskop. The Battle at Lake Changjin bisa melakukannya” ucap Chris Fenton, produser film dan penulis novel, dilansir Insider. Ia merujuk film lokal yang pada 2021 menjadi salah satu judul terlaris di dunia.

Bagi penonton China hari ini, film-film box office Hollywood dianggap terlalu sibuk menangkap audiens lewat nostalgia dan kemegahan efek visual tanpa serius menggali ekspresi kreatif tentang situasi yang relevan dengan masyarakat.

Lost in the Stars tercatat sebagai film box office dengan persentase penonton perempuan tertinggi, yakni 67%. Film ini memuat pesan feminis dan mencerminkan situasi yang relevan dengan para penonton perempuan.

Semakin banyaknya perempuan yang datang ke bioskop merupakan faktor besar mengapa box office tahun ini memecahkan rekor.

“Jumlah laki-laki mungkin melebihi jumlah perempuan di China, tetapi peningkatan daya beli kelompok perempuan membenarkan adanya investasi lebih lanjut yang ditujukan untuk melayani mereka,” tulis Kevin Tran, analis senior di Morning Consult, dikutip CNN.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] China bernama Kwon Pyong berhasil melarikan diri dari negaranya menggunakan kendaran air jetski. Ia […]