Ekonomi dan Pendidikan Jadi Dua Penyebab Perceraian Dini Terbanyak

by | Sep 12, 2023

Ekonomi | Perceraian | Sosial

FOMOMEDIA – Tingginya angka perceraian dini adalah imbas dari rendahnya kualitas sumber daya manusia. Artinya, dibutuhkan sebuah upaya kolektif.

“Paling dua atau tiga tahun lagi udah cerai.”

Mungkin kamu pernah mendengar orang-orang di sekitarmu berkata seperti itu ketika ada seseorang yang menikah.

Sepintas, ucapan itu terdengar doa yang buruk untuk seseorang  yang baru saja merajut kebahagian. Akan tetapi, bisa jadi, pernyataan itu keluar karena perceraian dini semakin sering terjadi di masyarakat.

Kalau melihat data dari laporan Statistik Indonesia, pada 2022, jumlah kasus perceraian di Indonesia menembus  angka 516.334 kasus. Lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang “hanya” 447.743 kasus. Dengan kata lain, ada kenaikan sekitar 15,31 persen. 

Kenaikan itu pun bisa dilihat jika kita melihat data dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2019 ada 439.002 kasus, 2018 ada 408.202 kasus, dan 2017 ada 374.516. Jelas, semakin ke sini, angkanya semakin meningkat.

BACA JUGA:

Anomali hanya terjadi pada 2020, di mana angka perceraian mencapai titik terendah, yaitu 291.677 kasus. Namun, perlu diingat, waktu itu sedang terjadi pandemi COVID-19. Sehingga, mungkin saja orang-orang mengurungkan niat untuk bercerai atau berpisah dengan pasangannya.  

Artinya, angka perceraian tahun 2022 adalah paling tertinggi lima tahun terakhir. Jelas angka tersebut bukan angka yang mesti dibanggakan. Jumlah yang tinggi itu semakin menguatkan bahwa pernikahan bukan lagi hal yang amat sakral. Muncul sebuah pertanyaan, mengapa orang mau menikah kalau pada akhirnya berpisah?

Gugatan Istri Lebih Banyak Ketimbang Suami

Melihat data pada 2022, mayoritas kasus perceraian merupakan cerai gugat.  Artinya, perkara gugatan cerainya diajukan oleh pihak istri yang telah diputuskan oleh pengadilan. Jumlahnya mencapai 388.358 kasus atau 75,21 persen. 

Sementara sisanya, sebanyak 127.986 kasus atau 24,78 persen perceraian terjadi karena cerak talak, artinya perkara permohonan cerainya diajukan oleh pihak suami yang telah diputuskan oleh pengadilan. 

Adapun, provinsi dengan jumlah perceraian tertinggi adalah dipegang oleh Jawa Barat, disusul Jawa Timur, lalu Jawa Tengah. 

Ilustrasi perceraian. (Foto: Unsplash)

Angka perceraian tinggi tersebut, menurut psikolog Kassandra Putranto, disebabkan oleh pernikahan dini. Seperti dikutip dari Okezone.com, Kassandra mengatakan, “Kondisi ini disebabkan karena ketidaksiapan mental pasangan. Dalam usia fisik dan mental yang masih muda, mereka belum memiliki kematangan emosional. Akhirnya mereka menjadi tidak siap dengan berbagai konsekuensi dari pernikahan dini.”

Pernikahan Dini Penyebab Perceraian Dini

Mestinya, pernikahan dini bisa ditekan dengan aturan baru melalui Pasal ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur bahwa batas usia perkawinan baik laki-laki maupun perempuan adalah minimal 19 tahun.

Sebelum perubahan pasal itu, undang-undang mengizinkan perempuan menikah ketika sudah berusiar 16 tahun. Padahal, umur seperti itu masih dalam tahap sekolah dan menuju kuliah. Hari-hari yang semestinya diisi untuk meningkatkan kualitas diri, justru dihabiskan untuk hal-hal domestikasi. Artinya, di sini perempuanlah yang menjadi korban. 

Revisi pasal itu sebenarnya sangat terlambat dalam merespons kondisi masyarakat Indonesia. Sebab, sebelum pasal itu diubah pada 2019, sudah ada berapa anak perempuan yang dinikahkan di usia dini? 

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan satu dari empat anak perempuan di Indonesia telah menikah di bawah usia 18 tahun pada 2008 hingga 2015. 

Jelas, anak berusia di bawah 18 tahun belum memiliki mentalitas matang yang mengakibatkan perceraian dini. Selain itu, ketidaksiapan ekonomi yang baik juga sangat berpengaruh terhadap perceraian. 

Faktor-Faktor Pernikahan Dini

Karena salah satu penyebab perceraian dini adalah pernikahan diri, maka pencegahan untuk menikah dini perlu dilakukan. Untuk itu apa saja faktor yang memengaruhi orang-orang mau menikah di usia dini?

Pertama, faktor budaya. Di zaman yang serba modern ini, tidak bisa dipungkiri masih banyak orang tua yang memegang erat adat istiadat. Merekalah yang cepat-cepat menikahkan anaknya, bahkan sudah menjodohkan anaknya pada usia di bawah 16 tahun. 

Kedua, faktor ekonomi. Penelitian yang dilakukan oleh UNICEF menyebutkan bahwa kemiskinan salah satu penyebab utama yang mendorong pernikahan usia dini di banyak negara berkembang seperti Indonesia. 

Keluarga yang miskin ini berharap apabila anaknya sudah menikah, anaknya akan dibiayai oleh suaminya, tidak lagi bergantung kepada orang tua. Nyatanya, hal itu malah memunculkan keluarga miskin yang baru. 

Ketiga, faktor Married by Accident (MBA). Kehamilan yang tak direncanakan  juga berperan penting terhadap pernikahan dini. Ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya tidak ada atau minimnya pendidikan seks, baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. 

Ilustrasi kehamilan. (Foto: Unsplash)

Berdasarkan data Komnas Perempuan, total permohonan dispensasi perkawinan anak pada 2021 mencapai 59.709. Dan menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mayoritas permohonan itu tidak bisa ditolak karena sudah hamil duluan. 

“Kenapa kita banyak anak hamil di luar nikah? Karena pengetahuan kita tentang kesehatan reproduksi rendah,” terang Hasto, seperti dikutip dari CNN Indonesia

Keempat, faktor media sosial. Media sosial banyak mengubah pola hidup dan pikir manusia. Konten-konten yang seharusnya dikonsumsi untuk usia dewasa, makin mudah dikonsumsi anak-anak. Di sinilah pentingnya pendidikan dan pengontrolan orang tua terhadap anak. 

Dari beberapa faktor yang memengaruhi pernikahan dini di atas bisa diperas lagi menjadi dua faktor, yakni pendidikan dan ekonomi. Jika dua hal itu diatasi oleh pemerintah, setidaknya angka pernikahan dini bisa ditekan. Secara otomatis, angka perceraian dini pun diharapkan ikut turun. 

Mencegah Perceraian Dini

Selain karena pernikahan dini, ada faktor lain yang menyebabkan perceraian dini meningkat di Indonesia. Misalnya, di Kudus, Jawa Tengah. Di Kota Santri itu perceraiannya lebih banyak diajukan oleh pihak istri. Dan alasan utamanya adalah suami tidak bekerja dan perselingkuhan. 

Ilustrasi perselingkuhan. (Foto: Pixabay)

“Suami tidak bekerja” dan “perselingkuhan” ini jelas penyakit semua hubungan suami-istri. Tidak kenal usia pernikahan, yang dini maupun lama. Tak sedikit kita lihat usia pernikahan yang belasan atau puluhan tahun kandas karena  perceraian. 

Untuk mencegah perceraian (dini) tersebut, Kementerian Agama telah menerapkan prosedur preventif, seperti memberikan bimbingan sebelum ijab kabul. 

Dikutip dari Media Indonesia, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan, “Yang jelas kita harus pikirkan langkah preventifnya. Kemenag telah menyediakan fasilitas untuk pembinaan keluarga Sakinah, melakukan bimbingan calon pengantin.”

Bimbingan semacam ini sebetulnya sudah eksis cukup lama. Bahkan, dulu hal ini sempat diwajibkan. Akan tetapi, angka perceraian tetap saja terus mengalami peningkatan. Ini berarti, upaya tidak bisa hanya dilakukan oleh Kemenag.

Bisa dibilang, tingginya angka perceraian ini adalah imbas dari rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kalau sudah bicara soal ini, berarti kita bicara soal upaya kolektif. Bukan cuma pemerintah yang punya tugas melakukan perbaikan, tetapi masyarakat sendiri juga harus rajin-rajin berintrospeksi.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Ekonomi dan Pendidikan Jadi Dua Penyebab Perceraian Dini Terbanyak […]