Disinformasi AI: Ancaman Serius Jelang Tahun Politik

by | Jul 20, 2023

Artificial Intelligence | Disinformasi | Internasional | Politik | Teknologi

FOMOMEDIA – Para ahli memperingatkan ancaman disinformasi AI menghadapi pemilihan umum. Propaganda politik dalam berbagai bentuk bakal semakin masif.

Sebentar lagi pemilihan presiden (pilpres) 2024 Amerika Serikat (AS) akan segera digelar. Salah satu yang sedang disoroti oleh para ahli adalah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menjadi ancaman.

Kemajuan teknologi AI bisa berpotensi meningkatkan pembuatan propaganda antarkubu politik yang bersaing. Menurut laporan The Guardian, AI memiliki potensi mengambil cara penyebaran disinformasi di masa lalu dan menghidupkannya lagi.

Sebelumnya, pada pilpres 2016, berbagai platform media sosial (medsos) jadi salah satu wadah disinformasi yang disebarkan oleh para aktivis sayap kanan. Mereka menyebarkan kampanye pengaruh “asing” dan berbagai berita palsu. Dampaknya, disinformasi tersebut memicu hoaks yang berseliweran ke masyarakat.

Empat tahun kemudian, pemilu 2020 dibanjiri adanya teori konspirasi dan klaim tak berdasar tentang penipuan jumlah pemilih yang mencapai jutaan. Dampaknya, dari konspirasi tersebut akhirnya memicu gerakan anti-demokrasi untuk membatalkan pemilu.

Kini, dalam beberapa bulan terakhir, perkembangan AI sangat luar biasa. Berbagai perusahaan berlomba-lomba untuk mengembangkan model AI paling unggul. Namun, hal tersebut juga berpotensi sebagai ancaman, termasuk pemilu 2024 mendatang.

The Guardian menyebut bahwa disinformasi yang dihasilkan oleh AI tidak hanya menipu audiens, tetapi juga bisa mengikis ekosistem informasi yang sudah diperangi selama ini. Risiko ketidakakuratan data dan penipuan bisa semakin besar.

“Tingkat kepercayaan akan turun, pekerjaan jurnalis dan lainnya yang berusaha menyebarkan informasi aktual akan menjadi lebih sulit,” kata Ben Winters, penasihat senior di Electronic Privacy Information Center, dikutip dari The Guardian.

AI Wadah Baru Disinformasi

Bentuk propaganda dan kampanye politik pada pemilu-pemilu sebelumnya memang masif terjadi di medsos. Namun, kini AI pun bisa menjadi alat produksi propaganda itu.

Keberadaan AI memang bak pisau bermata dua. Selain sebagai perkembangan teknologi kiwari, eksistensi AI juga menjadi ancaman. Salah satunya sebagai wadah baru disinformasi.

AI bisa menghasilkan foto yang realistis, meniru suara seseorang, dan menuliskan teks manusia. Seperti yang dikembangkan oleh OpenAI dengan teknologi ChatGPT-nya. Keberadaan ChatGPT sendiri, selain merusak berbagai industri, juga bisa memiliki peran dalam menciptakan konten berbau politik.

Salah satu yang sempat ramai di Negeri Paman Sam tersebut yakni geger perkara adanya foto ledakan di Pentagon yang dihasilkan oleh AI. Gara-gara foto tersebut, media luar AS langsung menyimpulkan bahwa ledakan itu terjadi sungguhan. Padahal, setelah dikonfirmasi, foto yang muncul pada Mei 2023 tersebut adalah palsu dan buatan AI.

Selain itu, AI juga bisa membuat iklan propaganda politik. Komite Nasional Republik merilis telah merilis adanya iklan dengan bantuan AI yang menunjukkan adanya berbagai bencana jika Joe Biden terpilih lagi sebagai presiden.

Iklan propaganda yang dibuat dengan AI. (YouTube/GOP)

Keberadaan foto dan video yang sempat viral di AS tersebut semakin menunjukkan bahwa AI berpotensi disalahgunakan. Para ahli pun mendorong dibutuhkannya regulasi dan batasan penggunaan AI.

Selain AS, negara-negara yang akan mengadakan pesta demokrasi pun bisa jadi sasaran empuk disinformasi yang diciptakan AI. Termasuk Indonesia 2024?

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments