Di Tengah Gempuran Narasi “Cuan dan Sultan”, Anak Muda Tetap Mau Jadi PNS?

by | Jan 17, 2023

Karier
Di Tengah Gempuran Narasi “Cuan dan Sultan”, Anak Muda Tetap Mau Jadi PNS?

FOMOMEDIA – Memiliki karir sebagai pegawai negeri sipil atau PNS memang menjadi impian banyak orang. Tapi, di era saat ini ketika cuan berlimpah dan hidup mewah menjadi tujuan generasi muda, apa anak muda masih mau jadi PNS?

Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, memotivasi anak muda di program acara Kick Andy untuk tidak jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Katanya, jika mau kaya, sebaiknya tidak menjadi karyawan atau PNS.

Pesan itu bukan baru pertama kali disampaikan olehnya. Jika kita ketik di kotak pencarian Google kata kunci “Bahlil Lahadalia jangan jadi PNS”, maka, berita terkait kalimat-kalimat motivasi dari mantan ketua PB Hipmi itu telah dimuat di banyak media dengan kurun waktu berbeda-beda.

Artinya, “jika mau kaya, jangan jadi PNS” adalah salah satu kampanye personal Bahlil yang kerap ia suarakan. Wajar saja, hal itu muncul dari latar belakang keberhasilannya sebagai pengusaha yang dinilai dapat lebih menghasilkan cuanketimbang jadi PNS.

Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia (Sumber: Instagram Bahlil Lahadalia)

Tampaknya harapan Bahlil tersebut mulai menuju titik terang. Total pendaftar pada seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) tahun 2021 hanya sekitar 4 juta orang, menurun dari tahun 2019 yang berjumlah sekitar 4,2 juta. Bahkan nominal tersebut jauh di bawah target Badan Kepegawaian Negara (BKN), yakni 5 juta pendaftar CASN yang terdiri dari pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

Walaupun, BKN berdalih bahwa penurunan jumlah pendaftar CASN tersebut karena pandemi Covid-19. “Sebetulnya kalau lihat trennya ini berkurang sih dari penerimaan CPNS tahun sebelumnya. Tahun 2019 itu hanya CPNS saja pendaftarnya sekitar 4,2 juta. Kalau dilihat, karena ini PPKM, dan berdampak pada seluruh sektor,” kata Direktur Pembangunan dan Pengembangan Sistem Informasi ASN BKN, Heni Sri Wahyuni.

Lebih parah lagi, pasca pengumuman penerimaan CASN tersebut, ada kurang lebih 100 orang yang memilih untuk mengundurkan diri dan tidak melanjutkan proses tersebut. Kendati begitu, angka tersebut tidak bertambah setelah munculnya pemberitaan masif di media massa dengan narasi “CPNS yang mengundurkan diri bisa didenda puluhan hingga ratusan juta.”

Beberapa media pun mencoba untuk mendalami motivasi dari para peserta pendaftaran CASN yang mengundurkan diri tersebut dan mendapatkan jawaban yang senada, “gaji PNS kecil”

Saat ini, generasi muda tengah digempur oleh narasi cuan dan sultan. Terlebih lagi, kita terus disuguhi dengan tontonan flexing atau pamer harta yang menggiurkan. Begitu kata Rhenald Kasali pada channel YouTube-nya yang berjudul “Inilah Kaya Boong-boongan yang Dipamerkan & Dipercaya Milenial dan Ditiru Luas”. Menurut Rhenald, tren pamer kekayaan, barang mahal, dan istilah panggilan sultan yang digaungkan di media sosial membuat generasi muda percaya dan terpengaruh, sehingga, mereka memiliki mental jadi ingin cepat kaya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh TD Ameritrade pada 2018 mengungkapkan, generasi milenial sangat yakin dan percaya diri bahwa mereka akan menjadi kaya raya. Lebih dari 70 persen milenial laki-laki menyatakan bahwa suatu saat mereka akan kaya, dan 38 persen milenial wanita menyampaikan optimis yang sama.

Artinya, “birahi” untuk menjadi kaya raya sepertinya memang sudah mengalir di dalam denyut nadi gen z dan milenial saat ini. Keinginan untuk memiliki barang branded, rumah dan mobil mewah, hingga gaya hidup sultan yang kerap pamer kekayaan menjadi mimpi yang ingin diwujudkan. 

Akan tetapi, apa benar generasi muda kita saat ini sudah tak memiliki ‘syahwat’ untuk menjadi PNS atau saat ini lebih dikenal dengan istilah Aparatur Sipil Negara (ASN) karena ingin hidup kaya?

Baca juga: Agar Milenial Tak Terjebak di Tengah (Middle Income Trap)

PNS, Masih di Hati

Tahun 2021 lalu, sebuah studi dilakukan oleh Tim Penelitian Pusat Karir di Universitas Andalas dan Tanoto Foundation untuk memahami preferensi kerja Gen Z. Sekitar 1.157 responden mahasiswa semester lima sampai sembilan dari 23 provinsi di Indonesia di-interview untuk mencari tahu gambaran pekerjaan impian generasi muda ini yang kerap diasumsikan tak tertarik menjadi PNS lagi.

Hasilnya, ternyata, asumsi generasi muda tak minat menjadi PNS terbantahkan. Dua posisi tertinggi untuk pekerjaan favorit audiens adalah PNS (27,66 persen) dan pegawai BUMN (27,57 persen). Kemudian diikuti dengan pegawai perusahaan multinasional (13,66 persen), pegawai swasta (11,84 persen), pekerja NGO (1,56 persen), anggota TNI (1,38 persen), dan kepolisian (1,21 persen). Bahkan, narasi yang kerap digaungkan bahwa anak muda saat ini sangat bersemangat untuk menjadi pengusaha tidak terbukti, dengan persentase hanya sekitar 7,9 persen.

Tim Penelitian Pusat Karir Universitas Andalas (2022) (sumber: the conversation)

Kami pun coba melakukan “deep talk” dengan beberapa PNS dari beberapa latar belakang dan wilayah untuk mendapatkan gambaran kondisi dan motivasi mereka untuk jadi PNS. Rata-rata menyatakan bahwa karier sebagai PNS dapat memenuhi kebutuhan hidup dan sebagian gaya hidup, walaupun mereka juga mengamini bahwa profesi tersebut tidak memberi kesempatan untuk menjadi kaya raya.

Zai (27), seorang dosen PNS di salah satu universitas negeri di Provinsi Aceh mengatakan bahwa gaji dan tunjangan kinerja cukup untuk kehidupan, gaya hidup, bahkan untuk memiliki kendaraan dan rumah pribadi. Setelah tiga tahun bekerja dan menempati golongan III.a, ia mengaku akan tetap menjadi abdi negara walaupun berada di tengah kondisi gaya hidup flexing teman-temannya di media sosial. “Dengan jadi PNS, walaupun tidak kaya, tapi bisa menikmati kehidupan,” pungkasnya.

Hal senada diucapkan Andhika (28), yang menurutnya menjadi PNS berarti menjadi pelayan masyarakat. Menurut pria yang berprofesi sebagai guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Mandailing Natal, Sumatera Utara itu, gaji sebagai PNS sangat cukup, terlebih dirinya tinggal di daerah yang tak menuntut terlalu banyak pengeluaran untuk gaya hidup seperti di kota-kota besar.

Namun, untuk PNS yang berdomisili di wilayah Jakarta dan sekitar, tentu testimoni mengenai gaji yang cukup untuk hidup, gaya hidup, dan memiliki tempat tinggal seperti di atas tak relevan. Seperti Ainun (30) yang sudah lima tahun bekerja sebagai PNS di salah satu Kementerian di Jakarta. Katanya, gaji dari profesi PNS di wilayah Jakarta memang cukup untuk kebutuhan hidup. Namun, untuk memenuhi gaya hidup, memiliki kendaraan, rumah, dan lainnya, tentu tidak bisa kecuali ada side income dan pendapatan lainnya dari pasangan.

“Makanya saya punya usaha sampingan, selain suami juga punya penghasilan dari kerjaannya. Jadi, saya tetap bisa mengabdi sebagai PNS, dan juga memenuhi kebutuhan hidup, gaya hidup, dan lainnya. Karena jam kerja sebagai PNS juga tidak se-ngoyo pekerjaan di perusahaan swasta,” ujar wanita yang saat ini sudah berada di golongan III.b PNS itu.

PNS Generasi Muda Harus Berani Beda

Kata PNS dan korupsi tampaknya sulit untuk dipisah. Bagai lepat dengan daun, begitu kata peribahasa. Hampir setiap tahunnya, aktor yang paling banyak terjerat kasus korupsi berasal dari latar belakang PNS. Contohnya, Laporan Indonesian Corruption Watch (ICW) bertajuk Hasil Pemantauan Tren Penindakan Korupsi Semester 1 2021 menunjukkan sebanyak 162 orang PNS terjerat kasus korupsi dalam durasi satu semester. Posisi tersebut diikuti oleh pihak swasta sebanyak 105 orang, kepala desa 61 orang, dan posisi lainnya.

“Kalau dari 2010 sampai 2018 kami melihat bahwa bukan hanya terjadi kenaikan, tapi PNS jadi aktor yang paling banyak terjerat kasus korupsi. Rata ratanya ada 350-an tiap tahun,” kata Staf Investigasi ICW, Wana Alamsyah (20/2/2019).

Namun, sistem dan kondisi birokrasi lembaga pemerintah yang kerap dianggap sebagai “sarang koruptor” memang menjadi ujian idealisme dan keimanan bagi PNS untuk dapat terhindar dari aktivitas koruptif. Laporan Global Competitiveness Report 2017-2018 oleh World Economic Forum menunjukkan, inefisiensi birokrasi menjadi alasan kedua tertinggi sebagai hambatan bisnis dan investasi di Indonesia dengan skor 11,1, di bawah korupsi dengan skor 13,8. Artinya, sistem birokrasi kita masih dinilai kurang efisien yang pada akhirnya dapat memberi kesempatan terjadinya korupsi.

Oleh karena itu, melepas image dan menghindari sistem serta lingkungan negatif merupakan tantangan terbesar bagi PNS generasi muda. Anak muda harus berani tampil beda walau godaan besar dan dikucilkan dari circle di kantor menjadi risiko yang harus dihadapi.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan PNS generasi muda untuk dapat menghindar dari lingkaran setan birokrasi koruptif. Pertama, anak muda harus punya idealisme. Artinya, nilai-nilai anti-korupsi harus tertanam di dalam pikiran dan jiwa kita dan wajib bersikap “radikal” dalam mengamalkan keyakinan ini. Sebagaimana kata Albert Einstein, “The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.” (artikan sendiri ya pakai Google Translate).

Kedua, jauhi circle korup di kantor. Walau ujungnya bakal diceng-cengin dan jadi bahan gibah di kantor, tapi, demi prinsip anti-korupsi, kita gak boleh kendur. Udah korup, tukang gibah lagi, fix itu namanya toxic circle. Ada nih, kata-kata bijak anonim yang cocok, “Jangan hanya karena kamu kesepian membuatmu berhubungan kembali dengan orang yang toxic. Kamu tidak seharusnya minum racun hanya karena kehausan.”

Terakhir, kalau kamu udah pede, coba deh untuk jadi pahlawan anti-korupsi. Sebisa mungkin, dengan caramu yang paling aman dan ampuh, coba untuk kurangi atau bahkan hentikan tindakan korupsi di tempat kerjamu. Bisa melalui edukasi ke teman-teman terdekat, atau tidak mengerjakan permintaan-permintaan dari rekan atau atasan yang “nitip” sesuatu yang terindikasi sebagai aktivitas koruptif. Nih, quote terakhir ya. “Selesaikan tugas dengan kejujuran, karena kita masih bisa makan dengan garam,” kata Jend. Pol. Hoegeng Iman Santoso.

Penulis: Irwan

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
nimabi

Thank you very much for sharing, I learned a lot from your article. Very cool. Thanks. nimabi