Demi “Kehormatan”, YouTuber Irak Dibunuh Ayahnya

by | Sep 6, 2023

Internasional | Irak | Kekerasan terhadap Perempuan | Kriminal | Perempuan

FOMOMEDIA – Pembunuhan terhadap YouTuber Irak Tiba al-Ali menunjukkan betapa lemahnya perlindungan terhadap perempuan di negara tersebut.

Masih ingat dengan kasus pembunuhan yang menimpa YouTuber Tiba al-Ali? Perempuan yang berusia 22 tahun itu tewas di tangan ayahnya sendiri.

Kasus pembunuhan yang terjadi pada 31 Januari 2023 itu hingga kini masih menjadi sorotan di Irak. Pasalnya, pembunuhan yang dilakukan oleh sang ayah, Tayyip Ali, itu dilakukan dengan motif “pembunuhan demi kehormatan”.

Sosok Tiba sendiri memang tidak asing bagi penjelajah jagat maya. Ia memulai kariernya sebagai seorang YouTuber ketika pindah dari Irak ke Turkiye di usia 17 tahun pada 2017. Namun, kepindahan Tiba itu hanya seorang diri.

Tiba menampilkan berbagai konten video tentang tunangannya, tata rias, bahkan berbicara mengenai kemerdekaannya. Setelah mendapatkan ketenaran, awal tahun ini Tiba mengunjungi orang tuanya yang tinggal di Irak. 

Namun, ketika mengunjungi orang tuanya itu, Tiba justru dibunuh oleh Tayyip. Sang ayah diketahui tidak senang dengan keputusan Tiba yang tinggal sendirian di Turkiye.

Menurut Daily Mail, Tiba dibius dan dibawa kembali ke rumah keluarganya, Ketika sadar, Tiba langsung ribut dengan Tayyip dan kemudian terjadilah pencekikan yang membuat Tiba mengembuskan napas terakhir.

Setelah membunuh anaknya, Tayyip langsung menyerahkan diri ke polisi. Mengutip laporan BBC, Tayyip dijatuhi hukuman penjara singkat pada bulan April 2023 lalu.

Memicu Gelombang Protes

Semenjak pembunuhan terhadap Tiba itu, ratusan perempuan terjun ke jalan di Irak. Mereka memprotes undang-undang terkait “pembunuhan demi kehormatan” atau dikenal dengan istilah honor killing.

Kematian YouTuber Irak tersebut telah memicu kegemparan publik Irak. Baik di media sosial dan di jalanan, gelombang protes dilakukan. Warga setempat berkumpul dan menyuarakan protes di Baghdad dan beberapa lokasi lain.

Perempuan di masyarakat kita tersandera oleh adat istiadat yang terbelakang karena tidak adanya pencegahan hukum dan tindakan pemerintah–yang saat ini tidak sepadan dengan besarnya kejahatan kekerasan dalam rumah tangga,” kata politisi veteran Ala Talabani, dikutip dari Daily Mail.

Sementara, Amnesty International pun ikut mengecam tindakan pembunuhan terhadap Tiba. Kejahatan dengan dalih sebuah kehormatan masih dianggap sebagai sesuatu yang sepele di negara Timur Tengah itu.

Melansir BBC, KUHP Irak mengizinkan “kehormatan” sebagai meitigasi atas kejahatan kekerasan yang dilakukan terhadap anggota keluarga. Dengan menggunakan dalih itu, pelaku pembunuhan bisa mendapatkan hukuman yang ringan.

“Sebuah kecelakaan terjadi pada Tiba al-Ali. Dalam perspektif hukum, ini adalah kecelakaan kriminal, dan dalam perspektif lain, ini adalah kecelakaan pembunuhan demi kehormatan,” kata Jenderal Saad Maan, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Irak, dikutip dari BBC.

Kebencian Terhadap Perempuan

Pembunuhan terhadap Tiba seakan telah menjadi puncak protes kaum perempuan di Irak. Negara itu dianggap tak ramah terhadap hak-hak kaum perempuan.

Dalam perkara hukum, perempuan tidak memiliki posisi yang kuat atau setara. Menurut BBC, hal itu tercermin dalam Pasal 41 KUHP Irak yang menyebut “hukuman terhadap istri dilakukan oleh suaminya”.

Selain itu, beberapa pasal yang sering diprotes oleh aktivis yakni Pasal 409 yang berbunyi: “Barangsiapa menemukan istrinya dalam perbuatan zina atau mendapati kekasihnya tidur bersama orang lain lalu langsung membunuh mereka atau salah seorang di antara mereka, atau menganiaya salah seorang di antara mereka sehingga ia mati atau menjadi cacat permanen, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga tahun.”

Impunitas yang Harus Diakhiri

Kematian Tiba memang menjadi sorotan banyak pihak. Gelombang demonstrasi di Irak pun terus muncul untuk menuntut keadilan terhadap kaum perempuan. 

Kasus Tiba itu dianggap hanya salah satu yang disorot oleh banyak media dan menimbulkan protes. Padahal, para aktivis lokal menyebut banyak kasus serupa atas nama “pembunuhan demi kehormatan”.

Bahkan, PBB pun sudah mendesak Irak untuk memberikan keadilan bagi kaum perempuan. Namun, sampai kini masyarakat Irak masih dihadapkan dengan undang-undang yang masih mendiskriminasi.

Lantas, akan sampai kapan impunitas kejahatan terhadap perempuan di Irak terus terjadi? 

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments