Dear K-popers, Ini yang Perlu Kamu Lakukan Biar Gak Jadi Korban Penipuan

by | Mar 27, 2023

K-Pop | Musik | Psikologi | Sosial
Dear K-popers, Ini yang Perlu Kamu Lakukan Biar Gak Jadi Korban Penipuan

FOMOMEDIA – Soal fanatisme dan militansi, K-popers memang nyaris gak ada lawan. Namun, di sisi lain, hal itu pun kerapkali jadi bumerang.

Seperti jelang konser akbar BLACKPINK di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 11-12 Maret 2023, penipuan tiket marak terjadi. Salah satunya dialami oleh artis Audi Marissa yang mengaku ditipu oleh seorang remaja berusia 19 tahun.

Aku ketipu tiket BLACKPINK sama nih bocah. Untung masih bayar setengah tapi tetep saja nyesek,” tulis Audi di akun Twitter pribadinya, Rabu (8/3).

Audi juga menyebut bahwa orang yang menipu dirinya itu ternyata sudah kerap melakukan penipuan. “Ini anak udah pergi dari rumahnya sampe ortunya aja udah capek karena anaknya sering nipu dari 2022 dan banyak korbannya ke rumah minta pertanggung jawaban,” sambung perempuan 27 tahun tersebut.

Audi bukan satu-satunya korban penipuan tiket konser BLACKPINK. CEO Kopi Chuseyo, Daniel Herlambang, bahkan mengaku ada temannya yang rugi Rp172 juta setelah ditipu penyedia jastip dengan akun Instagram @mbajastip_.

Temen gue beli 64 tiket Blackpink di mbajastip total 172 juta. Gue nitip 8 tiket juga huhu gimana nih nggak dapet tiketnya, refundnya juga belom, help😭,” tutur Daniel lewat akun Twitter-nya, @danielhermans10, Jumat (11/3).

Audi bisa dibilang lebih beruntung dari Daniel. Selain karena baru membayar setengah, Audi pun akhirnya berhasil mendapatkan tiket dan menyaksikan idol group favoritnya. Sementara itu, Daniel urung menyaksikan Lisa, Jennie, Jisoo, dan Rosé manggung di Jakarta lantaran tak kunjung mendapatkan respons dari pemilik akun @mbajastip_ tadi.

Udah DM dan mention mbajastip, tapi belom direspon. Nih gw beli 8 tiket Blackpink (Rp) 12 juta, dan ini udah hari konser. Kena scam kah aku? 😭,” keluh Daniel.

Kejadian yang menimpa Audi dan Daniel bukan yang pertama kali terjadi di fandom K-pop. Gak perlu jauh-jauh melongok ke belakang. November tahun lalu, banyak calon penonton konser NCT 127 yang juga tertipu. Para korban mengira telah membeli tiket, tetapi yang mereka dapatkan ternyata tiket palsu.

Selain itu, penipuan pembelian album dan merchandise pun sudah berulang kali dilaporkan tetapi belum juga bisa dihentikan. Pada 2021, misalnya, seorang penggemar K-pop asal Karawang, Jawa Barat, bernama Imelda ditipu seorang pelajar SMP dari Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan kerugian mencapai Rp13 juta. Konon, pelajar SMP berinisial LAU itu sudah melakukan penipuan hingga ratusan juta rupiah.

Pada 3 Januari 2023, Tirto menerbitkan sebuah laporan yang menyebut bahwa 16,27 persen penggemar K-pop pernah mengalami penipuan berkaitan dengan K-pop. Temuan ini didapat Tirto melalui sebuah riset bersama Jakpat.

Maraknya penipuan di fandom K-pop ini sulit dipisahkan dari karakteristik para penggemar yang loyal sekaligus royal. Survei Katadata Insight Center (KIC) bersama Zigi.id yang dilakukan Juni 2022 mendapati bahwa penggemar K-pop dan K-drama di Indonesia rata-rata menghabiskan Rp1,3 juta per tahun untuk aktivitas yang berkaitan dengan fandom.

Indonesia sendiri, menurut data Bea Cukai Korea Selatan, menjadi salah satu tujuan ekspor utama penjualan album K-pop. Gak mengherankan, karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penggemar K-pop (serta K-drama) terbesar di dunia menurut survei Twitter.

Fans Black Pink memadati GBK menjelang konser Born Pink (Sumber: Liputan6)

Dengan kata lain, pasar fandom K-pop dan K-drama di Indonesia memang luar biasa besar. Celakanya, di situasi seperti ini, bakal selalu ada manusia-manusia tak bertanggung jawab yang doyan mencari kesempatan dalam kesempitan. Pertanyaannya sekarang, kenapa sering banget terjadi penipuan di fandom K-pop dan apa yang bisa dilakukan K-popers buat menghindari hal tersebut?

Icha (25), seorang penggemar K-pop asal Jakarta, berpendapat bahwa penipuan di fandom K-pop terjadi karena kombinasi dua hal sekaligus. “Menurutku, penipu mikir K-popers itu banyak duitnya, dia akan melakukan apa pun biar bisa nonton konser atau beli merchandise. Sedangkan, K-popers banyak juga yang gegabah beli merchandise atau tiket konser dengan alasan takut gak dapet tiket atau merchandise yang dia pengenin banget,” tuturnya kepada FomoMedia.

Fear of missing out (FOMO) tampaknya memang jadi benang merah di sini. Sebab, menurut K-poper lain, Syifa (19), orang-orang yang tertipu saat membeli tiket konser ialah mereka yang takut tidak kebagian.

“Istilahnya panic buying. Ketika di website udah bacaan “sold”, penggemar langsung cari WTB tiket di Twitter, di mana banyak banget yang nawarin, tapi mereka gak ngecek dulu apakah itu penipuan atau bukan. Jadinya banyak yang sering kena tipu juga. Semakin lama membeli tiket, makin mahal harganya. Kadang bisa lebih dari dua kali lipat, makanya mereka langsung buru-buru beli,” papar mahasiswi sebuah kampus swasta di Jakarta itu.

Sebetulnya, setiap kali terjadi penipuan, proses edukasi secara otomatis dilakukan, khususnya oleh para korban yang membuat utas di Twitter atau bercerita melalui kanal media sosial lain. Dari sana, street justice pun biasanya langsung ditegakkan. “Biasanya orang-orang yang kena tipu ini bikin thread dan menyebar nomor rekening para penipu biar segera di-blacklist,” ujar Syifa.

Dari kisah Audi dan Daniel, kita juga mengetahui bahwa orang yang menipu para K-popers sebetulnya sudah memakan banyak korban. Akan tetapi, sepertinya memang tidak semua K-popers memiliki akses informasi yang sama. Korban seperti Audi dan Daniel biasanya baru mengetahui rekam jejak si penipu setelah membagikan pengalaman mereka di media sosial.

Oleh karena itu, menurut Icha, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh para K-popers. Pertama, mengikuti akun-akun fanbase yang tersebar di berbagai media sosial. Kedua, bergabung dengan group order (GO). Dari dua sumber inilah biasanya informasi-informasi seputar idol akan disebarkan. Karena beranggotakan banyak orang, informasi yang beredar di dalam forum-forum ini pun bakal mengalami proses cek dan ricek alias verifikasi sebelum bisa diterima sebagai sebuah kebenaran.

Meski demikian, masih kata Icha, bergabung dengan GO sendiri butuh kehati-hatian. Sebab, perempuan yang mengidolai Kim Seok-jin (BTS) ini pernah melihat kawannya sendiri jadi korban penipuan salah satu admin GO. “Dulu teman satu GO-ku ada yang pernah ketipu beli merchandise gitu di sebuah GO. Admin GO-nya selalu punya alasan barangnya belum sampai, padahal emang gak dibeli itu merchandise,” kisahnya.

“Masuk GO juga harus hati-hati. Jadi, ya, dicek dulu tuh riwayat GO, kalau perlu nanya ke base Twitter, ada yang join GO itu apa gak? Dicek notes-nya, pembelinya, medsosnya, gitu-gitu,” sambung Icha lagi.

Pada prinsipnya, yang terpenting adalah kehati-hatian. Sebelum membeli apa pun, mengecek reputasi penjual adalah hal yang tidak boleh dilewatkan.

“Kalau emang gak bisa ikut [ticket] war, ikut jastip tepercaya saja. Fee sekitar 300-450 ribu rupiah juga worth it daripada keluarin duit untuk tiket tapi ternyata penipuan dan duitnya gak bakal balik. Biasakan juga untuk tidak panic buying,” papar Syifa.

“Cara ngecek jastip tepercaya atau gak, bisa dilihat di TikTok. Ada banyak. Biasanya mereka kasih bukti sampai tiketnya udah di tangan mereka, jadi bukan e-ticket doang. Mereka ngurusin sampai penukaran tiket sekalian. Contohnya @erinnaaputri sama @racerlaoban,” tambahnya.

Perkara kehati-hatian ini pun diamini oleh Icha. “Untuk terhindar dari penipuan, yang pertama adalah jangan gegabah! Dicek dengan detail online shop-nya, Instagram-nya, Shopee-nya, riwayat pembelinya, nomor HP-nya dicek di Get Contact. Kalau udah dicek semua dan yakin dia oke, baru beli,” terang perempuan yang bekerja sebagai social media specialist itu.

“Buat beli merchandise atau tiket konser juga lebih baik nanya dulu ke base di Twitter bagusnya beli di mana. Biasanya manusia di base bakal jawab dengan beragam testimoni. Kalau beli tiket dari #wtb (want to buy) Twitter, coba usahain buat kepoin isi Twitter-nya, minta akun medsos lainnya, minta proof tiket, tanya dia domisili mana, kenapa dijual, dan lain-lain.”

“Kalau udah telanjur beli dan orangnya hilang, bawelin aja di semua medsosnya, minta ganti rugi, share online shop-nya atau akunnya biar jera!” tandas Icha.

Dengan melakukan cara-cara di atas, baik Icha maupun Syifa sama-sama belum pernah mengalami penipuan. Supaya terhindar dari penipuan—baik saat membeli album, merchandise, maupun tiket konser—K-popers yang lain bisa juga ngikutin cara mereka. Stay safe, ya, K-popers!

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Dear K-popers, Ini yang Perlu Kamu Lakukan Biar Gak Jadi Korban Penipuan […]

nimabi

Thank you very much for sharing, I learned a lot from your article. Very cool. Thanks. nimabi

[…] Baca juga: Dear K-popers, Ini yang Perlu Kamu Lakukan Biar Gak Jadi Korban Penipuan […]