Dari Taylor Swift Kita Belajar bahwa Karyamu Adalah Milikmu

by | Aug 3, 2023

Hiburan | Musik | Taylor Swift

FOMOMEDIA – Keputusan Taylor Swift merekam dan merilis ulang enam album pertamanya adalah upaya seorang seniman untuk tidak teralienasi dari moda produksinya.

Perjalanan Taylor Swift mengklaim semua yang seharusnya jadi miliknya sudah setengah jalan. Hal ini ditandai dengan dirilisnya album Speak Now (Taylor’s Version), 7 Juli 2023 lalu. Speak Now menjadi album Swift ketiga yang dirilis ulang dengan embel-embel Taylor’s Version.

Dengan demikian, Swift hanya perlu merekam dan merilis ulang album Taylor Swift (self-titled) dan Reputation untuk melengkapi koleksi Taylor’s Version-nya. Sebelum Speak Now, Swift telah merekam serta merilis ulang album Fearless dan Red.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan Taylor’s Version dengan album-album yang dulu sudah pernah dirilis oleh Swift?

Secara sederhana, Taylor’s Version adalah album yang benar-benar dimiliki oleh Swift. Taylor’s Version adalah upaya Swift untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari hasil karya serta tetes peluhnya sendiri. Taylor’s Version adalah cara musisi kelahiran 1989 itu untuk memastikan bahwa dia tidak teralienasi dari moda produksinya sendiri.

“Love Story (Taylor’s Version)” jadi trek pertama yang dirilis dari semua album Taylor’s Version.

Bagi Swift, alasan di balik keputusan merekam serta merilis ulang enam album perdananya itu bisa dilacak sampai awal kariernya dulu, ketika dia masih berusia belasan tahun.

Kontrak Pertama Berujung “Bencana”

Swift mendapat kontrak rekaman pertamanya pada 2005 ketika usianya baru 16 tahun. Dia menandatangani kontrak bersama sebuah label kecil bernama Big Machine. Kontrak itu sendiri merupakan kontrak jangka panjang yang mengikatnya hingga 2018.

Baik Big Machine maupun Swift, pada 2005, bukanlah nama tenar. Big Machine adalah label kecil yang berbasis di Nashville, Tennessee, yang biasa menangani artis-artis country. Sementara, Swift remaja adalah penyanyi country pendatang baru yang, tentu saja, punya kemungkinan besar untuk gagal “meledak”. Maka, kontrak yang aman pun disepakati kedua belah pihak. Swift bakal merekam albumnya di bawah naungan Big Machine, tetapi masteratau rekaman orisinalnyabakal menjadi hak milik label.

Kontrak macam itu sudah menjadi praktik umum di industri musik. Pasalnya, pihak labellah yang harus mengeluarkan modal untuk rekaman, menjalani tur, dan sebagainya. Dari sisi bisnis, mengamankan master rekaman adalah langkah yang paling masuk akal, khususnya jika artis atau band merupakan pendatang baru seperti Swift di 2005.

Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa Swift kemudian menjadi salah satu bintang pop terbesar di muka bumi. Angka penjualan albumnya meledak, konser-konsernya selalu ramai dipadati penggemar, merchandise-nya pun laku keras kendati harganya cukup mahal. Progres inilah yang membuat Swift kemudian merasa memiliki posisi tawar untuk mendapatkan kontrak yang lebih baik.

Taylor Swift di 2006, saat masih menjadi penyanyi pendatang baru. (Foto: Getty Images)

Misi Suci Taylor Swift

Jelang berakhirnya kontrak dengan Big Machine, Swift sudah ambil ancang-ancang. Dia sudah tahu bahwa destinasi berikutnya adalah Republic Records yang berada di bawah naungan Universal Music. Akan tetapi, langkah perempuan asal Pennsylvania itu tak berhenti sampai menemukan label baru saja.

Lebih dari itu, Swift berniat untuk membeli semua master yang sebelumnya jadi milik Big Machine. Dan sebetulnya, misi suci Swift tersebut sudah hampir terlaksana, sampai akhirnya “bencana” itu terjadi. Scott Borchetta, pendiri sekaligus pemilik Big Machine, memutuskan menjual label rekamannya itu pada 2018, tepat saat kontrak mereka dengan Swift habis.

Dengan banderol 330 juta dolar AS, Big Machine pun jatuh ke sebuah private-equity milik eksekutif musik ternama, Scooter Braun, pada 2019. Braun sendiri merupakan sosok yang memanajeri sejumlah musisi besar seperti Kanye West dan Justin Bieber. Olehnya, master enam album Swift tadi dijual kembali ke sebuah perusahaan bernama Shamrock Holdings dengan harga 405 juta dolar AS pula.

Langkah Braun ini, lagi-lagi dari sisi bisnis, sangatlah cerdas. Sebab, dalam perjanjian penjualan itu, Braun menulis klausul bahwa dia akan tetap mendapat profit manakala ada orang yang membeli album, mendengarkan lagu, atau bahkan memutar video klip Swift yang dulunya di-copyright oleh Big Machine.

Taylor Swift vs Scooter Braun

Sengketa ini sempat mendominasi pemberitaan dunia hiburan pada 2019. Kronologinya kurang lebih seperti ini:

Taylor Swift menghadiri acara penghargaan America Music Awards 2019. (Foto: Getty Images)

Swift sudah berkata kepada Borchetta bahwa dia hendak membeli semua master albumnya. Borchetta kemudian merespons dengan informasi bahwa Swift bukanlah satu-satunya peminat master tersebut. Namun, Borchetta tak memberi tahu kepada Swift bahwa peminat yang dia maksud adalah Braun. Sementara, Swift tak menyukai sosok Braun yang, menurutnya, merupakan “sosok perundung yang manipulatif”.

Pada akhirnya, master enam album Swifttermasuk video klip dan artwork—jatuh ke tangan Braun, seiring dengan dijualnya Big Machine. Setelahnya, Swift mengklaim bahwa Big Machine, yang sudah jadi milik Braun, melarang dirinya menggunakan footage apa pun dari karya-karyanya. Tak sampai situ, Big Machine pun merilis sebuah album live Swift tanpa persetujuan dari sang musisi.

Ketika Braun telah melego master Swift ke tangan Shamrock Holdings (yang merupakan salah satu unit usaha milik Disney), Swift sebetulnya mendapat tawaran untuk menjadi pemilik bersama. Namun, tawaran itu ditolak oleh Swift. Musisi yang memiliki gelar doktor honoris causa dari New York University (NYU) itu pun mengambil langkah drastis: Dia merekam sekaligus merilis ulang enam album yang sebelumnya sudah pernah diterbitkan melalui Big Machine.

Di sini, Swift sebetulnya cukup beruntung karena dalam kontrak pertamanya dengan Big Machine tadi dia tidak menyerahkan hak intelektual kepada pihak label. Dengan kata lain, semua notasi, progresi akor, melodi, harmoni, dan syair yang ada pada lagu-lagu dari enam album pertamanya masih menjadi miliknya. Dari situlah dia kemudian bisa merekam serta merilis ulang album-album laris tersebut.

Gerak Cepat Taylor Swift

Barangkali, ketika pandemi virus corona melanda, Swift justru jadi musisi paling sibuk di muka bumi. Selain merilis dua album yang kental dengan aroma folk, Folklore (2020) dan Evermore (2020) serta sebuah film dokumenter konser bertajuk Folklore: The Long Pond Studio Sessions (2020), Swift juga memulai proses perekaman ulang enam album perdananya.

“All too Well” versi 10 menit yang dijadikan film pendek oleh Taylor Swift.

Tak butuh waktu lama, Swift melepas dua album hasil rekaman ulang, Fearless (Taylor’s Version) dan Red (Taylor’s Version) pada 2021. Lalu, setelah menerbitkan album baru berjudul Midnights pada 2022, Swift merilis Speak Now (Taylor’s Version) pada 2023. Dengan kata lain, dalam tiga tahun terakhir, dia telah mengeluarkan enam album!

Semua lagu dalam Taylor’s Version direkam Swift saat dia jauh lebih dewasa. Kedewasaan itu pun tertuang dalam suaranya yang terdengar lebih matang. Selain itu, Swift juga semakin berani bereksplorasi, seperti merilis versi sepuluh menit dari lagu “All Too Well” dari album Red.

Swift pun makin banyak berkolaborasi, terutama dalam merilis lagu-lagu lama tapi baru. Di setiap rilisan Taylor’s Version, Swift selalu menyertakan lagu-lagu yang dulu belum sempat dirilis seperti “You All Over Me” (bersama Maren Morris), “Nothing New” (bersama Phoebe Bridgers), dan “Castles Crumbling” (bersama Hayley Williams).

Tentunya, dalam melakukan semua ini, Swift memiliki keuntungan tersendiri sebagai salah satu penyanyi terpopuler di dunia. Dia memiliki sumber daya besar serta posisi tawar tinggi. Tentunya pula, tidak semua musisi bisa melakukan apa yang dilakukan olehnya; bukan karena tidak mau tetapi karena situasi yang tidak memungkinkan.

Meski demikian, dari Swift kita bisa belajar bahwa sebuah karya sudah sepantasnya menjadi hak milik dari sang pencipta karya. Dan ini tidak cuma berlaku untuk musisi, tetapi juga pencipta karya lain seperti desainer, pelukis, penulis, atau pembuat film. Dari sini, kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam meneken kontrak karena satu kesalahan saja imbasnya bisa sangat, sangat panjang.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Total hingga Agustus 2023 ini, Swift telah merilis ulang enam album pertamanya. Langkah itu merupakan upaya sosok kelahiran 1989 itu untuk mengklaim hak penuh atas karya-karyanya. […]

[…] Dari Taylor Swift Kita Belajar bahwa Karyamu Adalah Milikmu […]

[…] Dari Taylor Swift Kita Belajar bahwa Karyamu Adalah Milikmu […]