Bahkan Cleopatra pun Jadi Berkulit Hitam, White Guilt Makin Kebablasan?

by | May 3, 2023

Film | Hollywood | Rasialisme

FOMOMEDIA – Pemberian peran pada aktor kulit hitam yang tidak pada tempatnya justru bisa membuat orang jadi antipati terhadap upaya menuju inklusivitas.

Rasialisme memang jadi salah satu momok yang dibenci banyak orang. Akan tetapi, white guilt, seperti yang belakangan makin kerap ditunjukkan oleh industri film, bukanlah jawaban atas permasalahan tersebut.

Sederhananya, white guilt bisa diartikan sebagai rasa bersalah orang kulit putih atas penindasan yang dilakukan oleh para pendahulunya. Sayangnya, white guilt ini justru menghadirkan problematika baru.

Contoh terbaru bisa disaksikan dalam pemilihan pemeran Cleopatra dalam dokumenter Netflix terbaru, Queen Cleopatra. Entah apa yang ada dalam pikiran para pembuat film, tiba-tiba saja muncullah sosok Cleopatra berkulit hitam (diperankan Adele James).

Sontak, hal ini pun memicu kontroversi. Bagaimana bisa, Cleopatra yang jelas-jelas merupakan Ratu Mesir, memiliki kulit hitam? Bahkan, Pemerintah Mesir pun sampai angkat bicara untuk menanggapi kontroversi yang merebak.

Dilansir The Independent, Kementerian Kepurbakalaan Mesir secara tegas menyebut bahwa “Cleopatra memiliki kulit putih dan karakteristik seperti orang Yunani. Relief dan patung Ratu Cleopatra jadi bukti yang paling kuat.”

Berdasarkan catatan sejarah yang tersedia, Cleopatra memang merupakan keturunan Yunani. Akan tetapi, informasi soal garis keturunan ini cuma tersedia dari pihak ayah. Sementara, identitas ibu dari Cleopatra memang tak pernah terungkap.

Barangkali, itulah yang membuat interpretasi atas warna kulit Cleopatra jadi terbuka. Meski demikian, bukan berarti siapa pun bisa seenaknya menentukan bahwa Cleopatra berkulit hitam, padahal sumber sejarah resmi menyatakan bahwa ia berkulit putih.

Contoh white guilt keblinger lainnya adalah pemilihan aktor untuk memerankan Ratu Anne Boleyn. Jika interpretasi atas warna kulit Cleopatra masih cukup terbuka mengingat ketiadaan identitas sang ibu, pemilihan aktor kulit hitam untuk memerankan seorang Ratu Inggris lebih sulit dimaafkan.

Anne Boleyn berkulit hitam.

Jika memang karakter yang diperankan adalah sosok fiksional seperti Hermione Granger, misalnya, ya, silakan saja. Akan tetapi, Anne Boleyn adalah tokoh sejarah yang benar-benar ada. Apalah gunanya mengubah warna kulit seorang tokoh sejarah?

Salah Kaprah White Guilt

Memang benar bahwa industri film Barat, terutama Hollywood, punya dosa yang tidak kecil dalam mempromosikan ketidakadilan rasial. 

Film-film Hollywood banyak yang menampilkan berbagai orang dengan kulit putih yang superior. Para aktor kulit putih ditampilkan sebagai karakter utama dan, biasanya, mereka menjadi tokoh penolong bagi orang kulit hitam.

Sudah begitu, kesempatan bagi aktor kulit hitam untuk memenangi penghargaan pun lebih kecil dibanding mereka yang berkulit putih. Sejak Academy Awards pertama kali diberikan, baru ada 22 aktor berkulit hitam yang menjadi pemenang.

Belakangan, Hollywood memang sudah tampak lebih inklusif, terbukti dengan makin banyaknya peraih Oscar berkulit hitam, terutama pada dekade 2010 ke atas. Akan tetapi, hal-hal seperti memberikan peran Cleopatra pada aktor berkulit hitam justru memiliki efek kontraproduktif pada kemajuan tersebut.

Memang benar, bahwa film-film yang menonjolkan aktor kulit hitam pun terkadang masih problematik. Green Book, misalnya. Film yang melejitkan Mahershala Ali itu disebut-sebut hanya dibuat untuk membuat orang kulit putih merasa lebih baik. Dengan kata lain, white guilt menjadi dasar utama dari pembuatan film tersebut.

Namun, wujud white guilt tidak cuma sampai di situ. Pemberian peran kepada orang kulit hitam tidak sesuai porsi pun bisa diartikan serupa. Ini menjadi kontraproduktif karena, pada akhirnya, membuat orang menjadi antipati pada inklusivitas.

Penulis: Sunardi

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments