Saking Panasnya Brasil, “Lucifer Aja Pakai Kipas”

by | Sep 27, 2023

Brasil | El Nino | Krisis Iklim

FOMOMEDIA – Brasil dilanda suhu panas tak kenal ampun saat memasuki musim semi. Pakar menyebut ini kejadian sistematis.

Beberapa bulan belakangan, Brasil mengalami musim dingin paling hangat sejak 1961. Kini saat musim berganti, suhu melonjak menuju 40°C, bahkan lebih.

Di Kota São Romão, negara bagian Minas Gerais, suhu mencapai 43°C pada hari Senin. Koran lokal Otempo menyebutnya “hanya dua derajat lebih rendah dibanding gurun Sahara”.

Bahkan São Paulo, yang disebut sebagai “Tanah Gerimis”, juga terik dengan suhu mencapai 36,5°C pada hari Minggu—hari terpanas keenam sejak 1943.

Juninho Thybau, seorang sambista berusia 36 tahun, berkomentar, “Ini amat menyedihkan. Lucifer aja pakai kipas. Dia pun nggak akan tahan sama panas ini.”

Tyhbau merupakan keponakan musisi samba paling terkenal di Brasil, Zeca Pagodinho. Ia tinggal di Iraja, bagian utara Rio De Janeiro yang terkenal dengan bintang-bintang sambanya serta panas yang bukan main.

Juninho Thybau. (Foto: Washington Post)

“Aku nggak tahu banyak soal meteorologi, tapi … jelas ini semakin panas. Seluruh dunia begitu, ‘kan? ” kata Thybau, dikutip The Guardian.

Pada berita petang, pembawa acara ramalan cuaca Priscila Chagas memberi peringatan bahwa rabu akan menjadi hari terpanas pada 2023. “Ini musim semi yang gila,” ucapnya, merujuk perkiraan suhu yang mencapai 41°C.

Selagi mengalami hari yang dirasa “paling panas selama ini”, penduduk Brasil harus mempersiapkan diri menghadapi hari esok yang mungkin lebih panas lagi.

Cuaca Ekstrem adalah Kejadian Sistematis

Menurut ahli iklim Karina Bruno Lima, rangkaian peristiwa cuaca belakangan ini, di mana rekor suhu terpecahkan berkali-kali, “sangat mengkhawatirkan”.

Karina Bruno Lima

Pakar dari Universitas Federal do Rio Grande do Sul itu yakin, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan secara tepat bagaimana perubahan iklim mempengaruhi suatu peristiwa cuaca.

Namun, Lima menegaskan pada The Guardian, “Kita sudah dalam konteks perubahan iklim, di mana atmosfer dan lautan sudah lebih hangat, dan kita harus memahami bahwa peristiwa cuaca ekstrem yang lebih sering dan lebih intens sekarang merupakan kejadian sistematis.”

Sebagian ahli menyalahkan cuaca panas ini pada peristiwa El Niño, yang juga menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. “Tapi itu bukan faktor utama,” sanggah Lima.

“Faktor utama sebenarnya adalah pemanasan global antropogenik,” jelasnya, merujuk teori soal peningkatan jangka panjang suhu rata-rata atmosfer Bumi sebagai efek industri. Baik industri pertambangan, transportasi, hingga pertanian.

“Di sebagian besar belahan dunia, kita bisa mengamati semakin seringnya peristiwa ekstrem terkait suhu panas. Dan di Brasil, serta Amerika Selatan secara keseluruhan, kecenderungannya makin memburuk,” tambahnya.

Irajá, Panas, dan Samba

Itu kabar buruk bagi 100.000 penduduk Irajá. Terlebih lagi, wilayah yang hampir dihanguskan cuaca itu juga dibelah oleh Avenida Brasil, salah satu jalan raya tersibuk dan paling berpolusi di Rio de Janeiro.

“Anda berkeringat di tempat teduh, dan jika Anda tetap di bawah sinar matahari, Anda meleleh seperti es,” kelakar Geraldo Lima, tunawisma berusia 56 tahun di Irajá, dikutip The Guardian .

Kendati teramat panas, Thybau bersikeras bahwa Irajá tetap tempat terbaik untuk tinggal di kota itu dan masih ada wilayah lain yang lebih panas di Rio de Janeiro.

Thybau mengelola sesi samba bulanan di luar rumahnya. Meski terik di atas wajar tengah membakar Irajá, ia masih memikirkan cara untuk mengadakan sesi samba.

“Kami mesti menyewa tanker air untuk menyiram kerumunan – atau menyewa salah satu penggemar yang memompa air,” jelas Thybau.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] ini muncul dari seorang perempuan yang tiba-tiba mengaku sebagai putri dari mantan Menteri Olahraga Brasil […]