Bisa-bisanya Pertunjukan Butet dan Agus Noor Diintimidasi Polisi

by | Dec 6, 2023

Agus Noor | Butet Kartaredjasa | Kesenian | Politik

FOMOMEDIA – Butet dan Agus Noor mendapat intimidasi dari kepolisian. Seharusnya di era kebebasan berpendapat seperti sekarang ini tidak perlu terjadi.

Seniman Butet Kartaredjasa dan penulis naskah teater Agus Noor diduga mengalami intimidasi dari kepolisian dalam pertunjukan satire politik bertajuk Musuh Bebuyutan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (1/12/2023).

Sebelum pertunjukan dimulai, datang pihak kepolisian yang mengaku dari Polsek Cikini. Polisi tersebut tiba-tiba datang dan meminta penyelenggara membuat surat pernyataan untuk menghindari unsur politik maupun kampanye mendukung pasangan capres dan cawapres tertentu.

Gara-gara hal itu, Agus pun merasa bahwa polisi telah melakukan intimidasi. Apalagi, selama 40 tahun berkecimpung dalam pertunjukan seni, baru kali ini pihak kepolisian bergerak meminta surat pernyataan supaya tidak membahas isu politik dalam pentas.

“Padahal, sebagaimana biasanya, semua prosedur formal perizinan sudah kami penuhi,” kata Agus, dikutip dari Jawa Pos.

“Itulah yang membuat kami seakan diintimidasi karena tak boleh menyampaikan humor atau konten politik dalam pementasan Musuh Bebuyutan itu,” lanjutnya.

Menurut Agus, setiap pertunjukan yang diadakan oleh Indonesia Kita selalu bermuatan politis. Bahkan, selalu ada muatan kritik terhadap pemerintah. Unsur politis itulah, kata Agus, yang menjadi sebuah cara untuk berkomedi.

Enam Poin Pelarangan

Dalam surat pernyataan yang diberikan kepolisian tersebut, kata Butet, ada enam poin larangan. Ia pun akhirnya bersedia untuk menandatangani surat pernyataan itu.

Enam poin tersebut berisi larangan kepada para penyelenggara pentas, seperti kampanye pemilihan umum, menyebarkan bahan kampanye pemilu, memasang alat peraga kampanye pemilu, menggunakan atribut politik. 

Selain itu, ada juga larangan untuk tidak menggunakan atribut bakal calon presiden dan wakil presiden, bakal calon anggota legislatif DPR, DPRD, dan DPD, serta hal yang termasuk dalam kegiatan politik lainnya.

Jika kami melanggar ketentuan tersebut, maka kami siap menerima sanksi sesuai aturan-aturan hukum yang berlaku,” tulis aturan surat pernyataan itu, dikutip dari Tempo.

Orde Baru Datang Lagi?

Senada dengan Agus, Butet bercerita bahwa selama 41 kali mengadakan pentas di Indonesia Kita, baru kali ini ia membuat surat pernyataan tertulis kepada polisi. Dengan adanya surat itu pun membuat Butet teringat pada masa Orde Baru.

“Bahwa saya harus berkomitmen tidak ada unsur politik di dalam pertunjukan. Oh, keren. Selamat datang Orde Baru,” ujar Butet.

Pertunjukan bertajuk Musuh Bebuyutan itu sendiri merupakan bentuk penghormatan kepada legenda musik Indonesia, Koes Plus. Agus Noor berperan sebagai penulis dan direktur artistik, sementara Butet tampil sebagai pemeran utama.

Dalam penceritaan, Musuh Bebuyutan berkisah tentang hubungan anak muda yang bertetangga. Anak muda yang berteman baik tersebut hidup di kampung. Namun, keduanya berseteru lantaran berbeda pilihan politik.

Perseteruan politik dua anak muda itu akhirnya membuat suasana kampung penuh kasak-kusuk. Di situlah unsur politik yang termuat dalam Musuh Bebuyutan.

Lantas, apakah pertunjukan-pertunjukan seni ke depannya bakal selalu melibatkan pihak kepolisian? 

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments