Benarkah Program IISMA Hanya Diperuntukkan bagi Keluarga Elite?

by | Jan 2, 2024

Beasiswa | IISMA | Pendidikan

FOMOMEDIAPara penerima program IISMA dianggap berasal dari kalangan elite karena memiliki perangkat iPad. Benarkah demikian?

Program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) kembali menjadi sorotan. Program yang telah berjalan sejak 2021 itu menjadi salah satu wadah populer pertukaran mahasiswa ke kampus luar negeri selama satu semester.

Namun, salah satu sorotan program itu yakni justru si penerima program. Tak sedikit warganet yang menganggap bahwa mahasiswa penerima program itu selalu dari kalangan keluarga elite.

Seperti yang dikritisi oleh akun X @alpukatperas. Akun tersebut mengkritisi seorang penerima IISMA yang sedang belajar di depan laptop sembari menggunakan perangkat iPad yang dijadikan sebagai timer.

Memang tidak salah apa yang dilakukan oleh anak IISMA tersebut. Namun, tak sedikit warganet yang mencibir gara-gara membeli iPad digunakan untuk timer saja.

Muncul Stereotipe

Sejak unggahan @alpukatperas pada Sabtu (30/12/2023) ramai, banyak warganet yang mempertanyakan latar belakang mahasiswa penerima IISMA itu. Bahkan, tak sedikit yang menduga bahwa para penerima program tersebut berasal dari kalangan elite.

“Tiba-tiba kepikiran, banyak orang yang gue kenal mau IISMA/pertukaran pelajar pasti kebeli iPad entah itu sesudah atau sebelum berangkat wkakakka sebuah tren,” tulis akun X bernama @aristoughteles.

Gara-gara iPad yang dijadikan timer, stereotipe lainnya pun muncul. Para penerima program IISMA dianggap selalu memiliki perangkat elektronik itu dan terdepan dalam pembelian iPad di Tanah Air.

Anggapan dari kalangan elite itulah yang kemudian membuat bahwa citra IISMA untuk kalangan tertentu saja. Mulai dari persyaratan untuk mengikuti seleksi program itu juga dinilai tidak murah.

Untuk bisa mengikuti program IISMA, setidaknya para mahasiswa harus melakukan pendaftaran tes TOEFL atau TOEIC. Dari tes itu, calon pendaftar membutuhkan paling tidak Rp2-Rp3 juta. Dana segitu saja tidak cukup. Jika peserta lolos, maka perlu mengurus visa yang menghabiskan jutaan rupiah lagi.

“Ayah saya harus mengambil pinjaman untuk visa 6 juta dan ielts 3 juta saya, jika Universitas Edinburgh tidak membayar dimuka untuk karantina hotel saya di Inggris (21 juta) saya tidak akan bisa pergi sama sekali, melihat rekan-rekan penerima beasiswa saya biasanya membuatku iri, kuharap aku punya iPad untuk menggambar juga,” tulis akun X ber-handle @vela2789234892.

Anak IISMA Gak Tapak Tanah?

Gara-gara masalah penggunaan iPad sebagai timer itu, anak-anak penerima program IISMA kena rujak warganet. Mereka dianggap tidak pernah menapak tanah.

Para penerima IISMA dianggap sebagai orang-orang terpilih lantaran mampu keluar negeri. Padahal, uang yang digunakan dari program tersebut berasal dari pajak rakyat.

Para penerima IISMA ini sebenarnya mirip-mirip dengan program LPDP. Banyak penerima LPDP tidak mau pulang setelah menyelesaikan studi.

Warganet pun menanyakan esensi dari keberadaan program semacam IISMA. Sebenarnya, untuk apa dan siapa program ini ditujukan?

Penulis: Sunardi

Editor: Safar

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments