Belanja Persiapan Lebaran Jangan Impulsif

by | Apr 19, 2023

Budaya | Idul Fitri | Ramadan

FOMOMEDIA – Siapa yang sudah belanja persiapan lebaran? Buat kamu yang mau berbelanja, ingat, jangan impulsif ya.

Belanja barang-barang baru sudah menjadi tradisi orang Indonesia dalam menyambut Idul Fitri dengan suka cita. Berbagai barang belanjaan serba baru diborong, mulai dari baju, sepatu, dan lainnya.

Uang tunjangan hari raya (THR) yang didapat dari tempat bekerja ataupun uang tabungan pun rela dihabiskan demi memiliki baju baru saat lebaran. Menurut temuan Bank Mandiri yang diterbitkan dalam  Mandiri Spending Index (MSI), semangat belanja masyarakat kembali meningkat pada Maret 2023 setelah mengalami normalisasi pada Februari lalu.

Hasil riset tersebut menunjukkan indeks nilai belanja pada akhir Maret 2023 mencapai 136,4. “Tren kenaikan belanja ini berlangsung sejak akhir Februari dan mengalami akselerasi seiring dimulainya bulan Ramadan di akhir Maret 2023,” kata Head of Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono.

Belanja persiapan lebaran (Sumber: Ahmed Ramzan/ Gulf News)

Riset yang dilakukan Telkomsel Enterprise melalui solusi tSurvey.id dengan judul Ramadan Consumer Behavior Insight 2023 juga menunjukkan data yang senada. Survei  yang melibatkan sekitar 2.500 responden dari pelanggan Telkomsel tersebut menemukan bahwa masyarakat sengaja menetapkan anggaran khusus untuk persiapan lebaran.

Adapun kategori barang yang dibeli mencakup tiga hal berikut: produk fesyen (74%), makanan/minuman (48%), dan barang elektronik (24%). Tren berbagi hampers turut menyuplai persentase belanja makanan/minuman yang cukup tinggi tersebut.

Baca juga: Buka Bersama, Tradisi Ramadan Pembawa Gembira

Sebenarnya, ketika semangat belanja masyarakat tinggi seperti saat ini, muncul  dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Akan tetapi, jika tak dapat dikontrol, hal tersebut malah berdampak negatif bagi si konsumen karena terjadi perilaku impulsive buying alias belanja pakai emosi yang berlebihan.

Walhasil, seseorang akan memborong berbagai barang yang ia mau, bukan yang ia butuhkan. Sehingga barang-barang tersebut belum tentu berguna atau dipakai saat lebaran, melainkan hanya menjadi tumpukan-tumpukan barang baru di lemari atau lainnya. Ditambah lagi, uang THR atau tabungan di dalam rekening yang tadinya membuat kita tersenyum, setelah itu tak lagi menarik untuk dilihat.

Oleh karena itu, kita perlu melakukan berbagai hal agar belanja impulsif tersebut tidak terjadi pada kita. Tim FomoMedia mengompilasi beberapa tips untuk kamu agar bisa have fun dalam berbelanja persiapan lebaran, namun tetap rasional dan tidak berlebihan.

Pertama, buat daftar barang-barang yang akan kita beli yang memang benar-benar sesuai kebutuhan. Karena zaman sudah canggih dengan berbagai teknologi seperti Google dan e-commerce, maka kita bisa melakukan riset terlebih dahulu untuk membandingkan harga, merek, dan model barang yang akan kita beli. Sehingga, kita bisa mengetahui terlebih dahulu berapa biaya yang kita butuhkan untuk membeli barang-barang tersebut.

Kedua, lihat barang dari sisi kesesuaian selera dan kualitas, bukan hanya dari segi mereknya saja. Karena bisa jadi, kita sebenarnya bisa mendapatkan barang dengan kualitas bagus dan tampilan yang memikat hati, tanpa harus merogoh kocek lebih dalam hanya karena merek tertentu.

Ketiga, buat perencanaan keuangan. Jadi, kita sudah menentukan terlebih dahulu, berapa pagu maksimal untuk anggaran belanja yang akan kita keluarkan. Kita juga sudah menentukan bahwa sebagian dari uang THR yang telah kita dapatkan memiliki tujuan lain seperti ditabung, investasi, bayar zakat, untuk THR keponakan, dan lainnya.

Keempat, hindari berbelanja bersama teman yang boros. Sebab, ketika kita berbelanja bersama teman yang impulsif, mereka sangat dapat memengaruhi keputusan kita. Jika seharusnya kita tidak membeli suatu barang, namun karena teman kita membelinya, kita bisa jadi tertarik untuk memiliki barang tersebut.

Dan terakhir, sebisa mungkin hindari berbelanja dengan menggunakan fitur paylater atau bayar nanti. Hal tersebut membuat kita merasa bahwa kita memiliki kemampuan untuk membeli suatu barang, padahal, kita hanya berutang dan akan membayarnya dengan tambahan biaya jasa dan bunga dari platform tersebut.

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments