‘Barbie’ + ‘Oppenheimer’ = Barbenheimer

by | Jul 17, 2023

Barbenheimer | Barbie | Film | Hiburan | Oppenheimer

FOMOMEDIA – Barbenheimer adalah sebuah jukstaposisi dua produk budaya populer yang tidak bisa lebih bertolak belakang lagi, Barbie dan Oppenheimer.

Barbie dan Oppenheimer. Praktis, tak ada satu persamaan pun yang mengikat kedua film ini kecuali satu hal: Keduanya dirilis pada tanggal yang sama.

Di Indonesia, baik Barbie maupun Oppenheimer sama-sama bakal dirilis secara resmi 19 Juli 2023 mendatang. Kesamaan tanggal rilis ini menjadi hal besar karena, itu berarti, di hari yang sama para penikmat film bisa menyaksikan opus dari dua kutub berseberangan itu secara simultan.

Barbie karya Greta Gerwig adalah sebuah upaya menghidupkan salah satu mainan sekaligus ikon fesyen paling populer sepanjang masa. Sementara, Oppenheimer bikinan Christopher Nolan adalah ikhtiar untuk memahami isi kepala ilmuwan pencipta senjata paling mematikan di muka bumi.

Perbedaan Barbie dan Oppenheimer tak sampai di situ. Kedua film diproduksi dua studio berbeda—Barbie diproduksi Universal, Oppenheimer diproduksi Warner Brothers. Keduanya mengusung genre berbeda—Barbie komedi, Oppenheimer drama horor. Kedua film pun menampilkan atmosfer dan warna berbeda—Barbie penuh keceriaan dengan tone warna neon pink, Oppenheimer kelam dengan tone warna oranye dan kelabu.

Namun, terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, baik Barbie maupun Oppenheimer adalah film “kelas berat”. Keduanya sama-sama dibintangi aktor-aktor nomor wahid, keduanya disutradarai sosok bergelimang penghargaan, dan reviu-reviu yang sudah muncul sama-sama memberikan ponten positf bagi kedua film terebut.

Tak pelak, hype yang muncul untuk menyambut Barbie dan Oppenheimer pun jadi begitu masif, terutama karena kedua film ini dirilis pada tanggal yang sama. Antisipasi publik itulah yang kemudian menciptakan sebuah fenomena kultural baru, yang muncul secara organik di media sosial, bernama Barbenheimer.

Lahirnya Barbenheimer

Berbagai meme soal Barbenheimer mulanya beredar di media sosial. Meme-meme itu berisikan jukstaposisi (penyandingan dua hal bertolak belakang dalam satu situasi) kedua opus. Meme-meme itu pun kemudian berkembang menjadi karya-karya lain seperti peta elektoral, kaus, sampai nail art. Barbenheimer, pada akhirnya, menjadi seperti “monster Frankenstein” yang terbuat dari “bagian tubuh” Barbie dan Oppenheimer.

“Poster” film Barbenheimer. (Foto: Medium)

Menariknya, Margot Robbie sebagai pemeran Barbie sendiri mengakui keberadaan fenomena Barbenheimer tersebut. Dalam sebuah sesi promosi Barbie, Robbie setuju ketika diminta menandatangani sebuah kaus Barbenheimer. “Oke, aku harus menandatangani di sisi sebelah sini. Semoga kamu bisa bertemu Cillian Murphy dan minta tanda tangannya di sisi yang lain,” kata Robbie kepada penggemar tersebut.

Tentu saja, sisi yang ditandatangani Robbie adalah sisi Barbie, sementara sisi yang diharapkan bisa ditandatangani Murphy adalah sisi Oppenheimer.

Nolan sendiri menyambut “rivalitas” Barbie vs Oppenheimer ini dengan antusias. Menurutnya, Barbenheimer adalah kemenangan bagi orang-orang yang mencintai film. “Kami sudah menanti-nantikan momen ketika pasar film ramai kembali dan sekarang semua orang antusias. Kupikir ini hal yang luar biasa,” ucap Nolan, dilansir IGN.

Barbie Dulu atau Oppenheimer Dulu?

Bagi para moviegoers, tentu saja Barbenheimer adalah sebuah privilese karena, di hari yang sama, mereka bisa menikmati dua film berkualitas sekaligus. Akan tetapi, pertanyaannya sekarang, bagaimana cara paling tepat untuk mendapatkan sensasi optimal dari Barbenheimer?

Well, sebelum menjawab pertanyaan itu, kita harus ingat apa yang dikatakan Nolan soal Oppenheimer. Dalam sebuah wawancara, sutradara asal Inggris itu menyebut bahwa film kedua belasnya itu merupakan film “horor”. Tak cuma itu, mereka yang sudah menyaksikan Oppenheimer pun meninggalkan teater dengan perasaan terguncang.

Artinya, Oppenheimer adalah film yang lebih berat untuk dicerna secara mental. Secara fisik pun film ini bakal menguras energi lantaran durasinya yang disebut-sebut hampir mencapai 3 jam. Dengan demikian, idealnya, Oppenheimer disaksikan pada siang hari setelah sarapan dan minum kopi ketika fisik dan mental kita masih dalam keadaan segar.

Setelah Oppenheimer rampung, kita bisa kembali mengisi energi, sekaligus membiarkan otak, hati, dan tubuh beristirahat, dengan makan, ngemil, atau nongkrong. Setelah itu, kita bisa menutup aktivitas seharian dengan menyaksikan Barbie yang menggaransi pengalaman membahagiakan.

Namun, tentu saja, semua kembali pada preferensi masing-masing. Kami tidak akan menghakimi orang-orang yang memilih menonton Barbie terlebih dahulu baru kemudian ditutup dengan Oppenheimer. Akan tetapi, kalau kalian menutup hari dengan perasaan kelam karena menonton Oppenheimer setelah Barbie, itu adalah risiko yang mesti kalian tanggung masing-masing. Hehe.

Penulis: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] film Barbie dan Oppenheimer di bioskop sempat menjadi polemik. Sebab, sutradara Oppenheimer, Christopher Nolan, dikabarkan jengkel […]