Bagaimana Mau Membaca? Buku Saja Tidak Ada…

by | May 25, 2023

Buku | Literasi | Pendidikan

FOMOMEDIA – Kita langsung pesimistis ketika mendengar minat baca masyarakat Indonesia. Apakah benar minat baca Indonesia rendah atau jangan-jangan itu mitos belaka?

Kita mungkin langsung pesimistis saat membaca berita bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Bayangkan, menurut berita yang beredar luas, UNESCO menyebut bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca.

Akan tetapi, apakah angka itu valid?

Well, menurut analis kebijakan di Kemendikbudristek, Lukman Solihin, faktanya tidak demikian. Dalam tulisannya di The Conversation, Lukman menyatakan bahwa dia tidak menemukan data tentang minat baca itu di basis data UNESCO—yang dikutip banyak media dan pegiat literasi.

Selain mencari basis data di situs web UNESCO, Lukman juga meminta data tersebut secara langsung ke kantor UNESCO di Jakarta. Namun, permintaannya itu tidak digubris hingga tulisannya terbit. 

Angka lain yang kerap disebut-sebut berasal dari PISA—Program for International Student Assessment—yang mensurvei kemampuan siswa dalam sains, membaca, dan matematika. Hasilnya dirilis oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD).  

Menurut temuan PISA pada 2015 skor Indonesia untuk kategori sains adalah 403; membaca 397; dan matematika 386. Dari skor tersebut, Indonesia berada di rangking ke-62 dari 70 negara, di atas Brasil dan di bawah Yordania.

Anak-anak sedang baca buku
Ilustrasi anak-anak di perpustakaan keliling.

Lalu, di mana posisi Indonesia pada PISA 2018? Apakah skor Indonesia membaik atau malah memburuk?

Jawabannya adalah memburuk. Skor Indonesia untuk sains berada di angka 396; matematika 379; dan membaca 371. Semua hanya berada di angka 300-an. 

Hasil itu membuat Indonesia hanya berada di urutan ke-65 dari 69 negara, di bawah Georgia dan di atas Maroko. Sebagai perbandingan, negara tetangga kita, Malaysia, berada jauh di atas, tepatnya di rangking 51. Bagaimana? Makin ngenes mendengarnya?

Nah, kalau faktanya memang kemampuan membaca orang Indonesia rendah, jangan-jangan—terlepas dari valid tidaknya data UNESCO yang kerap dikutip itu—minat membaca kita memang rendah juga?

Baca juga: Suara Gen Z untuk Kebebasan Pers di Indonesia

Free Cargo Literacy: Program Joko Widodo Satu-satunya yang Revolusioner

Dari Mei 2017 hingga November 2018, gerakan literasi Indonesia diterpa angin segar yang membuat aktivis pustaka lumayan masif bergerak ke pelosok-pelosok daerah. Hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menggratiskan pengiriman buku (Free Cargo Literacy) sejak 20 Mei 2017—dan selanjutnya tiap tanggal 17—di Pos Indonesia.

Kebijakan tersebut diambil oleh Presiden Jokowi setelah mengundang dan mendengar langsung keinginan dari pegiat literasi dan pustaka dari penjuru pelosok Indonesia. 

Dalam pertemuan di Istana Negara, Selasa (2/5/2017), itu Presiden Jokowi berkata, “Saya ingin mendengar perjuangan-perjuangan yang banyak tidak diperkirakan sebelumnya. Saya kira ini jadi sebuah perjuangan yang harus diangkat.”

Presiden Joko Widodo meninjau Pustaka Bergerak Indonesia.

Setelah mendengar keluh kesah dari pegiat pustaka itu, tercetuslah program pengiriman buku gratis lewat PT Pos Indonesia. 

Tiap tanggal 17, orang-orang mendatangi kantor pos sambil membawa kardus berisi buku dengan berat maksimal 10 kg. Gerakan ini, pada akhirnya, jadi milik seluruh masyarakat Indonesia. 

Semua warga yang memiliki koleksi buku di rumahnya tergerak untuk menyumbang ke kerabatnya yang jauh di seberang lautan atau di kabupaten/kota yang tidak memiliki infrastruktur buku yang baik. Selagi ada kantor pos, buku tersebut tiba dengan selamat.

Dalam sejarah perbukuan di Indonesia, gerakan berbagi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Maka, boleh dikatakan Free Cargo Literacy ini adalah kebijakan Presiden Jokowi yang revolusioner.

Sayangnya, gerakan ini terhenti pada November 2018. Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan infrastruktur buku minim, khususnya di pedesaan, pun jadi kembali kesulitan memperoleh bacaan.

Nirwan Ahmad Arsuka, Presiden Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), meyakini bahwa minat baca masyarakat Indonesia tinggi, tetapi bukunyalah yang tidak ada. Menurutnya, kawan-kawan di Pustaka Bergerak selalu melihat minat baca dari masyarakat itu tinggi sekali. Begitu disodorkan buku-buku yang sesuai, mereka sangat antusias.

Dengan keyakinan itu, Nirwan bersama penggerak pustaka lainnya bergerak ke seluruh pelosok Indonesia. Langkah ini juga dilakukan gerakan-gerakan pustaka lain macam Perahu Pustaka, Becak Pustaka, Kuda Pustaka, dll. Mereka mendatangi pulau, memasuki hutan, menyusuri gang-gang sempit perkotaan, semua demi membagikan buku ke anak-anak—bahkan, kadang ibu-ibu juga ikut nimbrung membaca. 

Ilustrasi anak-anak yang rajin membaca, (Foto: Taman Baca Baraoui)

Pegiat Pustaka Bergerak percaya bahwa buku harus diantar, bukan berdiam di ruangan dan tertata rapi di rak. Ucapan Nirwan dan gerakan Pustaka Bergeraknya seakan melawan hasil penelitian UNESCO dan PISA.

Sebenarnya, program Free Cargo Literacy sempat diadakan kembali pada 2019. Akan tetapi, pengiriman tidak semeriah sebelumnya. Buku-buku harus dikurasi oleh Badan Bahasa di Jakarta atau Balai Bahasa di tingkat provinsi.

Namun mekanisme seperti ini kurang ideal. Sebab, buku-buku yang bisa dikirim hanyalah buku yang sesuai dengan selera dan keinginan Badan Bahasa, alih-alih masyarakat umum. Selain itu, para pegiat literasi tidak lagi seleluasa ketika mereka tinggal datang langsung ke Kantor Pos terdekat.

Penghentian pengiriman buku gratis ini sangat disayangkan pegiat literasi karena sebagian besar buku (66,7%) yang biasa mereka bagikan bersumber dari donasi. Dengan  demikian, para pegiat literasi sangat berharap agar pemerintah menghidupkan kembali program Free Cargo Literacy.

Syarif Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka, dalam kolomnya di Kumparan, menulis, “FCL sangat penting untuk taman bacaan. Agar para donatur buku bacaan lebih tergerak untuk mendonasikan buku-buku yang dimilikinya. Tanpa perlu terbebani dengan biaya pengiriman. Maka, FCL selayaknya ‘dihidupkan kembali’ di Indonesia.”

Pegiat literasi Rumah Baca Komunitas, Yogyakarta
Aktivis literasi Yogyakarta.

Begitu juga dengan para pegiat literasi di Yogyakarta, seperti Rumah Baca Komunitas yang konsisten membuka lapak bacaan di Alun-Alun Kidul. Menurut mereka, pemilihan tanggal 17 itu sesuai dengan spirit kemerdekaan. Dalam hal ini, tentu saja, kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan literasi bagi seluruh anak bangsa.

“Dengan adanya pengiriman buku gratis telah mengikat tali silaturahmi antara para pegiat literasi di berbagai daerah hingga muncul solidaritas bersama saudara-saudara literasi. Rakyat di luar sana butuh buku, anak-anak butuh buku, bukan tutup buku,” tulis Rumah Baca Komunitas dalam pernyataan sikapnya.

Kesadaran membaca buku tidak bisa hadir begitu saja. Kesadaran muncul dari berbagai aspek, terutama bagaimana penyediaan infrastruktur buku yang memadai, seperti perpustakaan di rumah, sekolah, desa, taman, dan tempat strategis lainnya.

Artinya, untuk meneliti tingkat literasi Indonesia dengan lebih akurat, yang harus dinomorsatukan adalah infrastruktur buku. Apa yang dibaca masyarakat apabila tak ada buku di kampung mereka?

“Jika ditanya soal faktor apa yang berpengaruh terhadap minat baca yang kurang, maka bisa karena ketersediaan akses untuk membaca (buku, toko buku, perpustakaan di sekolah, perpustakaan umum, dll.) dan pembiasaan membaca secara rutin,” jelas Lukman Solihin ketika kami hubungi.

Seharusnya, buku tidak jadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh kalangan berada, tetapi semua warga negara Indonesia. Apabila buku mudah dijangkau, kebiasaan membaca buku dengan sendirinya tumbuh.

Memang, infrastruktur yang baik tidak akan secara otomatis menumbuhkan minat baca. Misal, sudah ada perpustakaan dengan koleksi memadai tetapi sepi pengunjung. Namun, justru di situlah kolaborasi semua pihak dibutuhkan.Misal, mesti ada kolaborasi antara sekolah, komunitas literasi, dan keluarga. Komitmen yang baik dari tiga elemen ini akan membuka pembiasaan minat baca terhadap anak. Sekali lagi, minat baca tidak ujug-ujug hadir, tetapi mesti diusahakan bersama-sama.

Penulis: Safar

Editor: Irwan

Visual: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Bagaimana Mau Membaca? Buku Saja Tidak Ada… […]

[…] itu senada dengan ucapan Lukman Solihin, peneliti literasi Indonesia, yang menyebut bahwa ketersediaan akses untuk membaca (buku, toko buku, perpustakaan di sekolah, perpustakaan umum, dll.) dan pembiasaan membaca secara […]