Bagaimana Makna Natal bagi Generasi Muda?

by | Dec 23, 2022

Makna Natal Bagi Generasi Muda

FOMOMEDIA.ID – Hari raya Natal telah tiba! Sebagai generasi muda, apa makna Natal bagimu?

Saya harus memulai tulisan ini dengan sebuah pengakuan. Saya bukan orang Kristen. Maka dari itu, pengetahuan saya tentang Natal pun terbatas meskipun dulu saya pernah menimba ilmu di salah satu sekolah Katolik di Solo.

Mengenyam pendidikan di sekolah Katolik tak lantas membuat saya paham dengan apa itu Natal. Malah, apa yang saya tahu tentang Natal lebih banyak saya dapatkan dari produk-produk budaya populer, seperti lagu, film, dan serial televisi. Bergaul dengan pemeluk agama Kristen juga sebenarnya sedikit banyak memberi saya pengetahuan soal Natal, walaupun tetap tidak sebanyak ilmu dari produk budaya populer tadi.

Tentunya, saya bukannya sama sekali awam soal Natal. Meski bukan orang Kristen, ada sedikit budaya Natal yang sempat “diadopsi” oleh mendiang ayah saya dulu. Ketika Desember tiba, saya sudah bisa berharap bahwa ayah saya bakal membelikan hadiah mainan. Menjelang penghujung tahun, almarhum ayah seringkali menjadi “Santa Claus” bagi saya dan adik-adik saya.

Ketika masih bocah dulu, tentu saja, makna Natal bagi saya yang sebenarnya tidak merayakan ini adalah menunggu hadiah dari ayah. Namun, belakangan, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Natal, pada hakikatnya, adalah soal berbagi.

Tapi, bagaimana sebenarnya makna Natal bagi anak-anak muda yang merayakannya?

Vito (27/Desainer Grafis)

Buatku, Natal itu punya dua makna. Kumpul-kumpul sama keluarga dan berbagi ke orang lain, baik yang dikenal ataupun tidak. Makanya, di setiap Natal, aku biasanya ibadah di gereja, terus makan-makan bareng keluarga. Kadang aku juga ikut bagi-bagi kado tapi gak selalu, tergantung ada yang ngajak atau gak.

Agata (32/Dokter Kecantikan)

Makna Natal, buatku, gak bisa dipisahin dari tradisi keluarga, ya. Selama ini Natalan di keluargaku itu isinya kumpul-kumpul sama berbagi ke orang yang membutuhkan. Jadi, ya, itu yang sampai sekarang kurasain. 

Marini (35/Penulis)

Buatku makna Natal itu klasik aja, sih. Natal itu penanda awal karya penebusan Tuhan. Jadi, ya, Natal itu tentang sukacita dan damai. Cara merayakannya, kalau dulu kumpul-kumpul sama keluarga. Sekarang, karena aku merantau, jauh dari keluarga, ya, kumpulnya sama teman-teman gereja yang sama-sama gak pulang kampung.

Kishino (31/Dosen)

Makna Natal untuk aku sekarang itu bukan lagi soal merayakan agama ataupun ajarannya, tapi lebih utamanya adalah tentang kumpul dengan keluarga, teman, atau yang tersayang dan terdekat. Jadi, secara pribadi, ritual agamanya lebih menjadi fasilitas untuk ada kegiatan bersama setelah biasanya gak sekota selama sekian bulan.

Terus, ada gak sih bedanya Natal ketika masih bocah dengan Natal sekarang ketika sudah beranjak dewasa?

Vito

Bedanya paling kalau dulu aku dikasih kado, sekarang aku sudah bisa ngasih kado. Bertukar peran aja.

Agata

Waktu kecil dulu, tiap Natal, aku sering dikasih baju sama sepatu baru sama bapak & ibu. Tapi, sekarang aku malah hampir gak pernah beli pakaian baru buat Natalan. Sekarang ini pengeluaran Natalku lebih banyak buat Christmas dinner sama suami dan beli hampers buat dikirim-kirim. Sama-sama keluar duit, sih, tapi sekarang yang keluar duitku sendiri, hahaha.

Marini

Ada dua bedanya. Pertama, kumpul-kumpulnya udah gak sama keluarga lagi. Karena merantau, ya, akhirnya cuma kumpul sama teman yang gak pulang kampung itu tadi. Kedua, sekarang ini biasanya perayaan Natalnya gak bisa lama-lama, soalnya banyak deadline akhir tahun, hahahaha.

Kishino

Buat aku pribadi, mungkin perbedaannya adalah bagaimana aku mengimani iman Katolik Roma dan pandanganku terhadap institusi Gereja Katolik. Aku merasa bahwa perubahan pandanganku pada dua hal tadi sedikit banyak yang mengubah perayaan Natal buat aku.

Mungkin, dulu aku lebih mengimani, tapi proses refleksi dan mengolah imanku membuat aku kemudian tidak terlalu dekat dan sejalan dengan Gereja. Ada daftar hal-hal yang bisa dan seharusnya dikritik oleh pemeluk Katolik Roma kepada Gereja Katolik. Makanya, sekarang Natal buat aku itu lebih soal kumpul keluarga. Misa itu cuma metode kumpul.

Terakhir, ada gak tradisi yang dibuat sendiri, untuk membedakan Natal masa kecil dengan Natal sebagai orang dewasa?

Vito

Gak ada, sih, kalau aku. Cuma, paling aku mengusahakan gimana caranya supaya makin banyak waktu kumpul sama keluarga.

Agata

Tradisi yang kubikin sendiri? Ada! Sekarang ini aku gak mau lagi bikin pohon Natal. Bikin pohon Natal itu ‘kan lumayan mahal, ya. Sejutaan lah kira-kira. Nah, udah mahal-mahal bikin pohon Natal, eh, anakku suka banget motek-motekin hiasannya. Sejak itu, aku gak pernah lagi bikin pohon Natal, hahaha.

Marini

Karena aku suka yang tenang-tenang, di malam Natal aku ibadah sendiri dulu. Kalau istilah Kristen, namanya saat teduh. Jadi lebih mengucap syukur dan ngingat-ngingat kebaikan Tuhan aja. Toh, kalau dipikir-pikir, Tuhan sering nolong dengan cara yang ga terduga. Jadi, ya, lebih appreciate kebaikan-kebaikan itu.

Kishino

Kalau bicara tradisi baru yang aku ciptakan, aku gak bisa bilang ada, sih. Aku gak kepikir tentang suatu kebaruan yang aku bawa dibandingkan budaya Natal yang sudah ada sekian lama.

Nah, dari jawaban anak-anak muda tadi, saya bisa menyimpulkan bahwa ada dua makna utama dari perayaan Natal. Yakni, berkumpul dengan orang-orang tercinta dan berbagi kasih. Bentuknya mungkin bisa berbeda-beda, tetapi esensinya akan selalu sama karena itu semua memang sudah jadi tradisi turun temurun.

Akhir kata, kami redaksi Fomomedia mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman yang merayakan. Semoga damai dan kebahagiaan selalu menyertai kita semua. Amin.

Penulis: Yoga

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments