Azerbaijan Bombardir Nagorno-Karabakh, Armenia Murka

by | Sep 20, 2023

Azerbaijan | Internasional | Nagorno-Karabakh | Perang

FOMOMEDIA – Armenia dan Azerbaijan kembali berkonflik. Musababnya masih sama. Yakni, tentang hak kepemilikan atas Nagorno-Karabakh.

Selasa, 19 September 2023, Azerbaijan melancarkan operasi militer ke Stepanakert, wilayah yang dijadikan ibu kota oleh Republik Nagorno-Karabakh. Video dari warga Stepanakert yang diunggah ke media sosial memperdengarkan alarm peringatan serangan bom, serta suara baku tembak yang menggelegar.

“Kami mendengar banyak ledakan di Stepanakert, itu suara tembakan artileri dan serangan UAV, serangan drone, ” kata Artak Beglaryan, mantan penasihat pemerintahan Nagorno-Karabakh, dikutip The Guardian . Ia memperkirakan telah mendengar puluhan atau ratusan ledakan pada hari Selasa.

“Mereka menyasar objek militer maupun objek sipil,” katanya. “Mereka menyerang sepanjang garis kontak, tak hanya di sekitar Stepanakert, tapi di semua wilayah.”

Pihak berwenang di Nagorno-Karabakh mengungkapkan melalui unggahkan Facebook bahwa lima orang telah tewas dan 80 lainnya luka-luka imbas operasi militer itu.

Baku, ibukota Azerbaijan, menyebut operasi itu sebagai “tindakan anti-teroris” untuk memulihkan ketertiban dan sebagai komitmen terhadap perdamaian. Negara itu menuntut agar seluruh pasukan Armenia ditarik total dari Nagorno-Karabakh. Azerbaijan juga meminta agar pemerintahan di Stepanakert dibubarkan.

“Satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan itu adalah penarikan angkatan bersenjata Armenia tanpa syarat dan sepenuhnya dari wilayah Karabakh di Azerbaijan dan pembubaran rezim boneka,” kata Kementerian Pertahanan Azerbaijan, seperti dikutip CNN International, Rabu (20/9/2023).

Bagi orang yang tak memahami situasi Armenia-Azerbaijan, peristiwa ini mungkin menimbulkan sejumlah pertanyaan.

Untuk apa Azerbaijan menyerang Nagorno-Karabakh? Sedang apa tentara Armenia di wilayah itu? Kenapa pemerintah Stepanakart disebut rezim boneka?

Sengketa yang Tak Kunjung Usai

Republik Nagorno-Karabakh, disebut juga sebagai Republik Artsakh oleh penduduknya, adalah negara pengakuan terbatas. Artinya, eksistensinya tidak diakui dunia internasional.

Wilayah Nagorno-Karabakh secara de jure merupakan bagian dari Azerbaijan, sebab letak geografisnya terkurung di batas wilayah negara itu. Namun secara de facto, wilayah itu dikontrol oleh orang-orang beretnis Armenia yang merupakan penduduk mayoritas di sana. Secara historis, wilayah itu juga bagian dari Kerajaan Armenia.

Wilayah itu sudah diperebutkan sejak runtuhnya Kekaisaran Rusia selama Perang Dunia I. Saat Armenia dan Azerbaijan berkonflik, Uni Soviet datang mengambil alih kekuasaan di wilayah itu dan membentuk oblast, semacam otonomi daerah, bernama Nagorno-Karabakh Autonomous Oblast (NKAO). Wilayah yang hanya seluas 4.403 km² itu pun jadi wilayah dengan otonomi sendiri, di bawah Republik Sosialis Soviet Azerbaijan.

Peta Nagorno-Karabakh (sumber)

Sejak runtuhnya Uni Soviet, wilayah itu ingin memisahkan diri dari Azerbaijan. Armenia mendukung dan memberi sokongan pada NKO untuk berkampanye pada 1988. Sejak itu, konflik berlangsung antara Azerbaijan dengan Armenia dan separatis Nagorno-Karabakh.

Armenia memenangi perang dengan membombardir Agdam, kota di Nagorno-Karabakh yang menjadi basis militer Azerbaijan. Tiga puluh ribu orang kehilangan nyawa, dan ratusan ribu lainnya yang kehilangan tempat tinggal mengungsi ke Baku, ibukota Azerbaijan. Agdam menjadi kota hantu, tapi kota-kota lain di Nagorno-Karabakh tak lagi berada di bawah kekuasaan Azerbaijan.

Republik Nagorno-Karabakh, yang telah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1991 itu, menjadi negara pengakuan terbatas. Sampai sekarang, PBB tetap mengakuinya sebagai bagian Azerbaijan. Tapi pada praktiknya, republik itu menyelenggarakan pemerintahan sendiri.

Rusia berhasil memaksakan gencatan senjata pada Armenia dan Azerbaijan dengan perjanjian Protokol Bishkek. Namun secara teknis, konflik mereka tak pernah berakhir.

Kembali Tegang karena Blokade

Armenia dan Azerbaijan kembali bersitegang pada 2020. Mereka berperang selama 44 hari sebelum Rusia datang menengahi.

Untuk mencegah konflik baru, Rusia mendatangkan 2.000 pasukan penjaga perdamaian ke perbatasan. Salah satu tugas pasukan itu adalah menjaga Koridor Lachin, yaitu jalan kecil pegunungan pada perbatasan Azerbaijan, yang merupakan rute terpendek untuk menghubungkan Armenia dengan Nagorno-Karabakh.

Namun meskipun berjaga, pasukan Rusia tidak mencegah pasukan Azerbaijan mendirikan pos pemeriksaan militer di sepanjang koridor tersebut. Imbasnya, terjadi blokade. Impor makanan dari Armenia untuk 120.000 penduduknya daerah sengketa itu pun terhenti.

Rusia Minta Berhenti

Terkait tuntutan untuk menarik pasukan, Kementerian Luar Negeri Armenia memberi bantahan. Ia menyatakan, tak ada tentara Armenia di Nagorno-Karabakh.

“Bantuan Armenia ke Nagorno-Karabakh bersifat kemanusiaan, kebutuhan akan bantuan ini semakin diperkuat dengan krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh blokade ilegal di koridor Lachin,” Kementerian Luar Negeri Armenia, dikutip CNBC Indonesia.

Menurut Armenpress, kantor berita Armenia, perlawanan terhadap operasi militer Azerbaijan dilakukan oleh tentara Nagorno-Karabakh, dan bukan angkatan bersenjata Armenia.

Dikutip Reuters, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berkomentar, “Sehubungan dengan meningkat secara tajam konfrontasi bersenjata di Nagorno-Karabakh, kami mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan pertumpahan darah, menghentikan permusuhan dan mencegah korban sipil.”

Di sisi lain, pihak Azerbaijan telah menegaskan bahwa untuk menghentikan operasi yang mereka sebut “tindakan anti-teroris”, kelompok bersenjata ilegal Armenia harus mengibarkan bendera putih, menyerahkan semua senjata, dan rezim ilegal harus membubarkan diri. Jika tidak, tindakan anti-teroris akan dilanjutkan sampai akhir.

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments