Awas, Kecanduan Medsos Ternyata Bukan Mitos

by | Jun 22, 2023

Media Sosial | Psikologi | Sosial | Teknologi

FOMOMEDIA – Meski punya banyak manfaat, media sosial pun menyimpan segudang bahaya. Kalau sampai kecanduan medsos, hidup bisa berantakan.

Media sosial semestinya menjadi media komunikasi dengan orang yang nun jauh di sana. Tapi, teknologi itu bisa sewaktu-waktu berubah menjadi monster yang membunuh penggunanya, baik secara psikologis maupun fisik.

Belum lama ini selebgram bernama Fenella Fox (29 tahun) mengaku kecanduan media sosial Instagram. Ia menghabiskan waktu 14 jam dalam sehari hanya untuk bermain gawai. Seperti dilansir oleh Mirror, Fox mengakui, “Di tempat tidur, saya menggulirkan [media sosial] dari bangun hingga tertidur. Yang tidak saya sadari adalah itu membuat diri saya semakin terpuruk.”

Akibatnya, dia merasa pusing, disorientasi, dan hilang keseimbangan alias vertigo. “Saya mulai pusing. Saya ingat pernah berjalan pulang setelah membeli makanan dan saya pikir itu karena teriknya matahari atau semacamnya, saya merasa tidak enak badan,” ucapnya seperti dikutip dari Mirror. 

Kecanduan media sosial tidak saja terjadi di luar negeri—dan satu atau dua orang saja, tapi juga dialami oleh banyak orang Indonesia, bahkan juga menyasar anak-anak. Sebuah survei yang dilakukan selama pandemi pada Mei-Juli 2020 di 34 provinsi di Indonesia mendapati bahwa 19,3 persen remaja dan 14,4 persen orang dewasa muda kecanduan internet. 

Ilustrasi kecanduan media sosial. (Foto: Unsplash/Camilo Jimenez)

dr. Kristiana Siste, seorang ahli adiksi perilaku, mengatakan, “Sejumlah 2.933 remaja mengalami peningkatan durasi online dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam per hari. Itu meningkat 59,7 persen.”

Seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia, dr. Siste menyebutkan bahwa sebagian besar waktu yang dihabiskan anak-anak dan remaja di internet adalah untuk bermain game online serta bermedia sosial.

Kita kerap melihat anak-anak yang berjoget, baik sendiri maupun bersama teman-temannya, di depan gawai. Atau melihat balita telah pandai mengakses gawai orang tuanya dan berlama-lama bermain dengan gawai tersebut. 

Pada suatu momen yang lain, kita juga mendengar tangisan anak kecil yang begitu kencang hanya karena tidak diperbolehkan memegang gawai. Dan tangisan itu tidak sekali atau dua kali saja terjadi, tapi berkali-kali. Si anak hanya bisa berhenti menangis apabila tangannya sudah menyentuh gawai. 

Anak tidak lagi bermain bersama anak seusia mereka, tapi waktu mereka dihabiskan menatap layar gawai dengan mengakses banyak hal di YouTube dan TikTok tanpa pengawasan orang tua. Bahkan, tak sedikit orang tua tidak menyadari kalau anaknya telah kecanduan gawai dan media sosial.

Psikolog klinis Lathifah Utami—anggota Himpunan Psikologi Indonesia—menganjurkan agar menggunakan media sosial secukupnya agar bisa menjaga kesehatan mental.

BACA JUGA:

“Meskipun media sosial menyajikan banyak hal dan menawarkan kemudahan seperti bersosialisasi secara mudah dengan teman atau saudara yang berjauhan, sejatinya kita tidak bersosialisasi secara nyata dengan orang lain,” kata Lathifah yang dikutip dari Antara.

Isu kekerasan, kejahatan, serta hal-hal lain  yang menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran banyak berasal dari media sosial atau internet. Dan konten negatif itu akan berdampak pada psikologi seseorang. 

Untuk menghindari dampak negatif tersebut, Lathifah menyarankan agar secara bertahap dan pelan-pelan mengurangi mengakses media sosial atau membatasi durasi penggunaan gawai. Minimal satu jam sebelum tidur gawai sebaiknya dimatikan. 

Selain itu, cobalah sering-sering menyapa tetangga rumah atau teman kos. Tanyakan kabar dan ajak mereka ngobrol. Komunikasi langsung seperti itu melatih kepekaan seseorang, dapat melegakan perasaan, dan mengurangi tekanan emosional maupun fisik.

Tak bisa dipungkiri, pada era kiwari, gawai seolah telah menjadi organ baru dalam tubuh kita. Sekali ia tak ada, seakan satu organ tubuh hilang, dan kalau hilang maka terjadilah satu masalah. 

Itu dibenarkan oleh HC (32 tahun), seorang content writer di salah satu media daring. Menurutnya, gawai sudah tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari sehingga ketika tertinggal di rumah maka ada sesuatu yang hilang.

Ilustrasi media sosial. (Foto: Pixabay)

“Aku harus bawa HP ke mana-mana. Soalnya, selain untuk keperluan komunikasi dengan teman dan kerjaan, semua transaksi pembayaran ada di hape. Jadi, gak bawa HP, maka macet semua urusan,” kata HC. 

Walaupun begitu, HC masih bisa membatasi diri untuk mengakses media sosial. Menjelang tidur, ia akan mematikan perangkat gawai. “Jadi, HP itu aku gunakan untuk hal penting. Untuk skrol media sosial berjam-jam, itu hanya mengganggu pekerjaanku, apalagi ganggu jam tidurku. Aku bisalah mengaturnya. Kalau terlalu banyak main HP juga, kan, mengganggu kesehatan mental kita. Atur sebisanyalah.”

Hal nyaris serupa terjadi pada IN (24 tahun) yang tiap hari mengurusi media sosial sebuah agensi di bilangan Tebet. “Saya merasa tidak kecanduan, sih. Sehari-hari, saya banyak menghabiskan waktu di media sosial, sebab itu pekerjaan saya,” ucapnya.

“Tapi, di luar kerjaan, saya punya waktu lumayan banyak di HP. Lihat-lihat postingan teman di media sosial dan skrol video pendek di aplikasi TikTok. Tapi, itu gak membuat saya cemas. Untuk sekarang, saya masih merasa senang-senang saja menggunakan media sosial. Iya, sih, saya tahu akibatnya. Tapi, yah, pintar-pintarnya aja ngatur waktunya,” lanjut IN 

Media sosial bak punya dua sisi mata pisau. Kita akan mendapatkan benefit darinya apabila digunakan dengan baik, seperti belajar memasak dari TikTok, belajar bahasa Inggris di YouTube, mendapatkan endorse dari Instagram, atau mendapat pekerjaan yang berhubungan dengan penggunaan media sosial.

Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial juga berpotensi besar menyerang dan membunuh penggunanya. Maka dari itu, pengguna harus lebih bijak. Jangan sampai kita yang nantinya malah dikontrol dan dikuasai oleh media sosial.

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Awas, Kecanduan Medsos Ternyata Bukan Mitos […]

[…] Salah satunya topik yang sangat relatable dengan banyak orang adalah dalam tulisan “Dilema Smartphone”. Andina sangat gelisah dengan kebiasaannya menggunakan gawai. Sebelum gawai populer, ia memakai ponsel sederhana yang hanya bisa untuk menerima pesan dan telepon, dan tidak bergantung pada hp. Sekarang, dengan keberadaan gawai, ia harus skrol-skrol hingga lupa waktu. […]

[…] Mereka menggunakan fitur eksklusif Airdrop dari perangkat iOS untuk membagikan materi demo. Hal ini dilakukan untuk menghindari terlacaknya gerakan mereka oleh pihak berwajib melalui media sosial.  […]