AS & China Kompak Absen di KTT Aksi Iklim PBB

by | Sep 21, 2023

Amerika Serikat | China | Iklim | Internasional | KTT Iklim | PBB

FOMOMEDIA Amerika Serikat dan China tidak menghadiri KTT Aksi Iklim PBB, padahal mereka adalah penyumbang emisi terbesar di dunia. Mau sampai ini dibiarkan?

KTT Iklim yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal menghadirkan para pemimpin negara-negara penyumbang emisi terbesar. Acara yang digelar di New York, Amerika Serikat (AS), Rabu (20/9/2023) kemarin, bertujuan untuk menghasilkan beberapa kemajuan dalam upaya mengatasi krisis iklim.

Menurut The Guardian, KTT Aksi Iklim tersebut justru tidak dihadiri oleh dua kepala negara penghasil emisi terbesar di dunia, China dan AS. Acara yang diselenggarakan oleh António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, rencananya akan menampilkan lebih dari 100 perwakilan pemerintah berbagai negara.

Namun, acara tersebut dianggap gagal karena tidak mampu menghadirkan Xi Jinping dan Joe Biden. Selain dua tokoh itu, beberapa pemimpin negara-negara dengan tingkat polusi tinggi seperti Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga tidak hadir.

“Ini adalah tantangan terbesar yang pernah dihadapi peradaban, tetapi kita belum bisa mendapatkan respons yang kita perlukan. Saya tidak bisa memberi tahu Anda bagaimana perasaan saya tentang mereka yang tidak muncul. Sulit untuk bersikap optimistis, kita berada dalam kondisi yang buruk,” kata Sir David King, mantan kepala penasihat ilmiah Inggris, dikutip dari The Guardian.

Dengan tidak hadirnya para pemimpin negara-negara penyumbang emisi terbesar itu, bumi sedang benar-benar menghadapi masa-masa yang sulit. Apalagi, sudah saatnya butuh langkah konkret untuk mengurangi kerusakan iklim akibat emisi yang berlebihan.

Susahnya Menghapus Bahan Bakar Fosil

Dalam pertemuan puncak tersebut, salah satu yang dibahas adalah penghapusan bahan bakar fosil. Bahan bakar yang tidak ramah lingkungan itu sampai dewasa ini masih diproduksi dan digunakan masif di banyak negara.

“Ada stagnasi di antara para pemain besar sehingga ada jurang antara apa yang diminta oleh Sekjen PBB dan apa yang siap dilaksanakan oleh para pemimpin nasional,” ujar Alden Meyer, pakar negosiasi iklim internasional di E3G.

“Ini adalah kesenjangan yang memalukan. Para pemimpin nasional hanya saling menyalahkan atas kurangnya kemajuan. Mengingat peristiwa musim panas ini, ketika segala sesuatunya menjadi tidak terkendali, Anda mungkin berpikir hal itu akan memusatkan pikiran,” lanjutnya.

Ketidakseriusan para pemimpin negara-negara penyumbang emisi terbesar itu seakan mengindikasikan bahwa penghapusan bahan bakar fosil semakin sulit dilakukan. Apalagi, saat ini diketahui bahwa Bank Dunia dianggap berkontribusi besar dalam penggelontoran dana produksi bahan bakar itu.

Ke Mana Joe Biden?

Amerika sebagai tuan rumah dalam konferensi iklim tersebut dianggap bermain-main dan tidak serius dalam menanggapi isu perubahan iklim. Padahal, sebelum KTT Aksi Iklim tersebut berlangsung, terdapat gelombang protes dari masyarakat di jalanan New York. Mereka menuntut aksi nyata dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan perubahan iklim.

Menurut Reuters, setidaknya terdapat ribuan massa berunjuk rasa dalam menyambut KTT Aksi Iklim PBB, Minggu (17/9/2023). Massa menuntut supaya bahan bakar fosil dihentikan supaya pemanasan global tidak semakin parah.

Lalu, dalam pertemuan puncak yang terjadi pada Rabu (20/9/2023) kemarin, Biden justru absen. Biden dianggap tidak ingin bertemu Guterres yang menetapkan bahwa para pemimpin harus melakukan “aksi iklim yang kredibel, serius, dan baru”.

Biden akhirnya tidak menghadiri acara puncak iklim itu. Dia hanya mau berbicara di depan PBB pada Selasa (19/9/2023). Dalam momen pertemuan itu, Biden mengaku menyesal pada tahun ini negaranya dilanda gelombang panas, kebakaran, dan kekeringan.

“Secara keseluruhan, gambaran-gambaran ini menceritakan sebuah kisah penting tentang apa yang menanti kita jika kita gagal mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil dan mulai membuat dunia kita tahan iklim,” kata Biden. 

“Sejak hari pertama pemerintahan saya, AS telah menganggap krisis ini sebagai ancaman nyata, tidak hanya bagi kita, tetapi juga bagi seluruh umat manusia,” lanjutnya.

AS Tidak Serius

Pernyataan Biden tersebut dianggap hanya dalih belaka. Bahkan, dalam unjuk rasa yang berlangsung beberapa hari kemarin, massa mendesak pemerintahan Biden supaya berhenti tidak mengorbankan masyarakat AS.

“Banyak orang Amerika tidak menginginkan hal ini. Kita berhak mendapatkan planet yang bebas dari polusi dan dampak buruk yang ditimbulkannya. Berhenti menyetujui proyek bahan bakar fosil yang merugikan komunitas seperti saya, baik di dalam dan luar negeri,” kata Ebony Twilley Martin, direktur eksekutif Greenpeace AS.

Dengan ketidakpastian sikap pemimpin negara-negara penyumbang emisi terbesar di dunia, rasanya masih muskil untuk melihat bumi akan baik-baik saja. Oleh karena itu, berbagai elemen masyarakat pun harus semakin bersatu untuk melawan ketidakpastian itu.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments