Ketika Aplikasi Kencan Tak Lagi Dipakai Buat Cari Pasangan

by | Sep 26, 2023

Aplikasi Kencan | Bumble | Gaya Hidup | Hiburan | Tinder

FOMOMEDIA – Aplikasi kencan sudah pernah dimanfaatkan oleh warga dunia lainnya untuk kebutuhan tertentu yang tentu saja tidak terkait dengan mencari jodoh. 

Nama Tri Wahyudi mendadak terkenal di media sosial. Pria berusia 24 tahun lulusan Universitas Airlangga ini viral karena membuat akun di aplikasi kencan populer, Bumble. Keberadaan akunnya sendiri sebenarnya tidak menjadi masalah. 

Yang jadi perhatian justru tujuan pembuatan akunnya tersebut. Bukannya cari jodoh, ia malah “mengiklankan” dirinya sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Daerah Pemilihan 6 Kab. Pasuruan Jawa Timur. 

Aplikasi Kencan
Cari timses kok begini banget?

Ia bahkan dengan terang-terangan mendeskripsikan tujuannya di Bumble untuk mencari teman dan dukungan, bukan mencari pasangan.

“Visi saya sebagai Caleg DPRD Kab. Pasuruan Dapil 6 (Pandaan, Prigen, Sukorejo) yaitu dapat menjadi perwakilan rakyat yang Terpercaya, Bersahabat dan Sayang pada rakyatnya. Yuk, dadi Koncone Cak Yud di IG @Yahyudiii!” tulisnya dalam bio Bumble-nya. 

Bisa dipahami, pemilu legislatif (pileg) yang makin dekat bikin calon legislatif harus putar otak untuk mendapat suara. Apalagi membangun persona butuh waktu yang lama, supaya bisa mendapat perhatian dari khalayak. 

Dan di tahap ini, Yudi mungkin dapat dibilang berhasil “mencuri start” dibandingkan dengan kompetitornya. Mengingat sesuai regulasi yang ada, kampanye legislatif baru bisa diadakan pada November 2023, kurang lebih dua bulan lagi.

Tak Selalu untuk Cari Jodoh

Apa yang dilakukan Yudi sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sebelum Yudi, aplikasi kencan sudah pernah dimanfaatkan oleh warga dunia lainnya untuk kebutuhan tertentu yang tentu saja tidak terkait dengan mencari jodoh. 

Dilansir Vice, pada tahun 2019, demonstran Hong Kong mengumpulkan massa menggunakan aplikasi kencan Tinder. Secara terang-terangan, para koordinator meminta agar orang-orang yang memiliki pandangan politik yang sama dan ingin turun ke jalan untuk men-swipe kanan. 

Salah seorang jurnalis Financial Times bernama Gavin Huang bahkan membagikan tangkapan layar Tinder miliknya yang berisi agenda demo Hong Kong. 

Akun yang ditutupi namanya  tersebut bahkan menulis ketertarikannya pada “laki-laki yang bertanggung jawab,” yang secara tak langsung merujuk ke tanggung jawab terhadap negara melalui partisipasi demo Hong Kong.

Swipe kanan untuk ikut demo Hong Kong

South China Morning Post bahkan menulis bahwa demo yang terkoordinir ini tidak hanya menggunakan Tinder saja. Tetapi juga aplikasi dan fitur populer lainnya untuk mengelabui polisi. 

Mereka menggunakan fitur eksklusif Airdrop dari perangkat iOS untuk membagikan materi demo. Hal ini dilakukan untuk menghindari terlacaknya gerakan mereka oleh pihak berwajib melalui media sosial

Sementara itu, di lokasi kejadian pada hari H, partisipan demo diminta untuk menggunakan Pokemon Go. Sehingga, apabila aksi demo terendus dan polisi mendatangi mereka, para partisipan dapat berdalih bahwa mereka tengah berkumpul untuk bermain bersama dan mencari pokemon.

Cari Pasien lewat Aplikasi Kencan

Ilustrasi dokter gigi (Sumber: UI Update)

Contoh lain adalah dokter koas gigi yang biasanya dibebani kewajiban untuk membawa pasien sesuai dengan kebutuhan praktik. Beberapa perawatan gigi dan mulut yang ditawarkan oleh mahasiswa koas antara lain gigi patah, goyang, berlubang, perawatan akar, pembersihan karang, dan masih banyak lagi. 

Pendekatannya beragam, ada yang memang mencantumkan kebutuhan pasien gigi di bionya, tapi ada juga yang baru menawarkan perawatan tersebut setelah match dengan targetnya. Umumnya, pasien tidak dikenakan biaya perawatan, hanya saja diberi syarat untuk hadir sesuai dengan waktu dan tempat yang telah dijanjikan. 

BACA JUGA:

Buku tuh Dibaca, Gak Cuma Dipamer-pamerin

Tak cuma cari pasien, rupanya ada yang juga menggunakan aplikasi kencan untuk mendapatkan nasabah. Sebuah akun di media sosial yang menamakan dirinya sebagai @bumblesupremacy baru-baru ini mengunggah tangkapan layar dari sebuah akun yang disensor namanya.

Unggahan tersebut bahkan viral dan menuai 754,7 ribu likes dari warganet. Karena bio yang tertera dalam akun tersebut secara terang-terangan mempromosikan jasanya untuk membuat rekening di salah satu bank swasta kenamaan. Dalam bio tersebut juga tertera bahwa yang empunya akun bekerja sebagai Customer Service dan merupakan lulusan Universitas Esa Unggul 2023. 

Akun Bumble yang terlihat ‘nyeleneh’ itu lantas kebanjiran komentar dari warganet. Banyak yang menduga pemilik akun nampaknya sudah putus asa mengejar target mendekati waktu closing. Emang boleh se-kejar tayang itu~  

Titip CV Lewat Ordal

Sementara itu, sebuah agensi internasional Havas Worldwide Chicago malah menggunakan aplikasi kencan untuk merekrut kandidat untuk program magang musim panas yang mereka adakan. 

Apabila pengguna men-swipe kanan profile mereka, tim Havas akan memulai percakapan. Tim tersebut akan melakukan interview singkat. Isinya tentang skill dan ketertarikan pengguna. Hasilnya akan digunakan untuk memilih match yang dianggap cocok untuk gabung dalam tim mereka pada program tersebut. 

Mencari kandidat yang tepat melalui aplikasi kencan tidak hanya terjadi di luar negeri. Di Indonesia pun begitu. Dede misalnya, menceritakan bahwa ia pernah mendapat match seorang pria yang merupakan recruiter (perekrut)  di salah satu perusahaan teknologi di Jakarta. 

“Soalnya kadang amazed aja, ada banyak developer yang main Bumble. Jadi mending cari di sini daripada di LinkedIn,” kata pria tersebut pada Dede. 

Ilustrasi pasangan bertemu dari aplikasi kencan
Ilustrasi Kencan (Sumber: Pixabay/StockSnap)

Selain Dede, pengalaman yang hampir sama juga pernah didapatkan Ira. Ira ditawari pekerjaan freelance sebagai kru produksi untuk iklan produk pasta gigi lewat Bumble. Kebetulan, pria yang menawarkan pekerjaan tersebut mengaku sudah sering jadi freelancer untuk produksi iklan. 

“Sudah koordinasi soal tanggal dan nego gaji, tapi ternyata enggak jadi karena ada jadwal yang tabrakan,” pungkas Ira. 

Tak hanya Dede dan Ira, Vina pun demikian. Kilas balik ke tahun 2017, saat ia baru lulus kuliah, salah seorang match-nya di Tinder pernah meminta CV-nya untuk dititipkan ke kantor tempat pria itu bekerja. Sayangnya, Vina tidak menerima respons apa pun dari kantor yang dimaksud. 

“Kalau dipikir, kok, dulu berani sembarangan nitip CV. Mana enggak pernah ketemu lagi sama orangnya. Terakhir, malah ketemunya setelah aku keterima di kantor baru, tapi enggak aku sapa juga, hahaha,” ucapnya sambil terkekeh. 

Lantas, Efektifkah?

Dilansir Resource Corner, rekrutmen menggunakan media sosial dianggap dapat meminimalisasi usaha yang harus dilakukan dalam tahapan-tahapan rekrutmen konvensional. Sehingga dapat menemukan potensi yang tepat dan kandidat yang passionate, yang sering kali terlewatkan ketika proses rekrutmen konvensional dilakukan. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Staff.com, sebanyak 92% perusahaan aktif mencari karyawan melalui media sosial. Tingkat keberhasilan rekrutmen dengan cara ini juga bisa dibilang cukup menjanjikan. Penelitian yang sama mengungkapkan bahwa 73% recruiter  merasa bahwa mereka berhasil mendapatkan kandidat yang tepat.  

Wall Street Journal dalam sebuah artikelnya yang dipublikasikan di Mintz menuliskan bahwa rekrutmen dan pencarian jodoh memiliki esensi yang sama. Baik calon kandidat maupun pemberi kerja sama-sama berusaha menemukan orang yang tepat dan cocok satu sama lain. 

Perbedaannya adalah pencarian jodoh merupakan tahap awal untuk sebuah komitmen jangka panjang yang disebut sebagai pernikahan. Sehingga dibutuhkan pengetahuan yang benar-benar dalam dan menyeluruh mengenai calon pasangan. Waktu pengenalannya pun bisa jadi relatif lebih lama. 

Sebaliknya, rekrutmen memaksimalkan waktu yang terbatas untuk mencari tahu calon kandidat. Hasilnya, baik recruiter maupun kandidat tidak sepenuhnya saling mengenal, tetapi  harus berperilaku profesional di tengah situasi serbakasual. 

Sejatinya, aplikasi kencan tak selamanya buruk jika digunakan secara bertanggung jawab, apa pun tujuan penggunanya. Di tengah dunia serbasibuk dan ruang lingkar pertemanan yang kian mengecil, aplikasi kencan menawarkan cara termudah serta termurah untuk mendapatkan teman baru. 

Peran manusia hanya membantu algoritma menyesuaikan persona akun mereka sesuai dengan preferensi masing-masing. Sehingga, algoritma dapat bekerja secara maksimal untuk mendapatkan calon pasangan yang paling sesuai dengan kebutuhan pengguna. 

Selebihnya, apa yang terjadi di luar aplikasi mau pun di dalam aplikasi setelah pengguna mendapat match berada di luar kendali pengembang maupun founder aplikasi itu sendiri. Lantas, sisanya tergantung kamu. Mau dikenal jadi orang yang seperti apa?

BACA JUGA:

Ekonomi dan Pendidikan Jadi Dua Penyebab Perceraian Dini Terbanyak

Penulis: Elin

Editor: Yoga

Ilustrator: Salsa

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Ya, saat ini media sosialnya “kaum profesional” itu sedang menghadapi fenomena baru. Pelantar yang telah digunakan oleh ratusan juta orang itu justru digunakan sebagai pencari pasangan. Ini merupakan kebalikan dari fenomena yang mulai kerap terjadi di Indonesia, di mana dating app justru dijadikan tempat merekrut karyawan. […]

[…] Ketika Aplikasi Kencan Tak Lagi Dipakai Buat Cari Pasangan […]