Apakah Ngopi di Warung Kopi Masih Jadi Tren Anak Muda?

by | Jun 15, 2023

Kopi | Kuliner | Ruang Publik | Sosial

FOMOMEDIA – Ngopi di warung kopi bukan cuma soal menyesap minuman lezat. Lebih dari itu, ngopi adalah pemenuhan kebutuhan sosial.

Minum kopi sudah lama menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Kebiasaan itu tidak lepas dari dari sejarah ketika orang-orang Belanda membawa biji kopi ke Pulau Jawa, pada akhir abad ke-17 dan awal ke-18. 

Hasil kopi di Pulau Jawa meraup keuntungan besar dan karena itulah orang Belanda menanam biji kopi di pulau lain di Indonesia. Dari penanaman biji kopi itu sehingga sekarang kita mengenal beragam kopi nikmat dari banyak tempat. Misalnya, ada kopi Gayo di Aceh, kopi Kintamani di Bali, kopi Toraja di Sulawesi, hingga kopi Bajawa di Flores. 

Dalam buku Kopi Mana Kopi: Cerita Sejarah Kopi hingga Cara Menyeduhnya (2018), Harun Mahbub Billah menulis pada tahun 2000-an, kopi Indonesia melejit. 

Katanya, “Total produksi kopi Indonesia sejak itu diperkirakan 660.000 ton per tahun. Keanekaragaman cita rasa kopi yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia diakui oleh masyarakat internasional.” Oleh karena itu, Indonesia masuk di urutan keempat sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia.

Sebelum dinikmati oleh kalangan menengah di warung kopi di kota-kota, kopi dari berbagai daerah itu dihidangkan saat ada hajatan di kampung atau minuman yang kerap dikonsumsi di pagi hari oleh orang tua kita di rumah. 

Sajian Kopi Sanger, Cold Brew Arabika Gayo Wine, dan kopi tubruk di Seladang Kafe, Aceh. (Foto: KOMPAS/PRIYOMBODO)

Evolusi Kultur Ngopi

Di masa kecil, saya sendiri selalu lihat kakek saya menikmati kopinya di teras rumah sambil menatapi ombak yang taut-menaut di pinggir pantai. Minum kopi di cangkir jadul yang bermotif blirik itu menjadi ritualnya sebelum berangkat melaut atau berkebun.

Walaupun minuman kakek namanya kopi, rasa manis lebih dominan. Penyajian kopi dengan dominasi bulir gula pasir ketimbang bubuk kopi sudah menjadi kebiasaan masyarakat di kampung.

Bahkan ada satu stigma, kalau kopinya tidak manis maka kita disebut pelit gula atau kikir. Kelebihan gula itu pun bisa jadi menjadi salah satu pemicu banyak masyarakat Indonesia yang menderita penyakit diabetes melitus

Tradisi menyeruput kopi di pagi hari sebelum bekerja mungkin tidak relevan di kalangan anak muda sekarang, khususnya di perkotaan. Mereka minum kopi saat nongkrong di warung kopi atau minum kopi saat mengerjakan pekerjaan dari kantor. Waktunya lebih sering siang, sore ataupun malam.

Satu dekade terakhir, khususnya di perkotaan, ada sebuah tren ngopi di coffee shop atau warung kopi, yang bahkan sekarang telah menjadi gaya hidup. 

Salah satu gerai Starbucks di Jakarta. (Foto: The Jakarta Post)

Anak muda banyak menghabiskan waktu di warung kopi, yang dari sekadar nongkrong dengan teman, hingga menyelesaikan tugas kuliah dan pekerjaan pun dilakukan di warung kopi.

Hal itu tidak lepas dari keterjangkauan lokasi warung kopi, suasana yang nyaman, hingga ketersediaan jaringan internet gratis alias free wifi.

Walau diketahui beberapa coffee shop harga kopinya terbilang mahal, misalnya Starbucks dan warung kopi lainnya yang tak kalah mahalnya, tapi tak menyurutkan niat orang-orang untuk ngopi

Warung Kopi dan Ruang Kedua

Setelah rumah sebagai ruang pertama, kantor menjadi ruang kedua. Namun, ketika pandemi COVID-19 melanda banyak negara dan kasusnya mulai melandai, warung kopi menjadi ruang kedua. 

Orang-orang diminta untuk kerja dari rumah atau kerja dari mana saja. Sehingga, warung kopi menjadi pilihan untuk menyelesaikan pekerjaan. 

Seperti yang dialami GM (32 tahun), penulis konten di Jakarta Selatan. Sejak tahun 2021, GM banyak menghabiskan waktu kerja di warung kopi sebab kantornya mengizinkan work from anything. “Daripada pergi ke kantor, mending aku ke warkop terdekat rumah,” kata GM.

Warung kopi atau warkop, alternatif ngopi murah meriah. (Foto: Usaha Kuliner)

Sebelum COVID-19 datang, kebiasaan kerja di warung kopi sudah jamak di beberapa kota, misalnya di Kota Pelajar. SA (30 tahun), pekerja lepas di Yogyakarta, yang sehari-hari waktunya banyak dihabiskan di warung kopi.  

Selain untuk tempat nongkrong, bagi SA, warung kopi juga tempat kerja. “Di warkop biasanya aku milih waktu pagi hari, jam 8 sampai jam 3 sore. Ini sudah cukup. Lebih dari jam 3 sore, warkop dah ramai dan gak kondusif buat kerja,” kata SA. 

Sebagai pekerja lepas, SA cenderung memilih yang low budget. “Tapi ini juga dengan catatan, harga murah dan menu yang lumayan enak,” tutup SA dengan kelakar.

Sementara itu, FH (28 tahun) lebih suka nongkrong di warung kopi sambil membicarakan banyak hal bersama temannya. Akan tetapi, semenjak sibuk bekerja sebagai desainer sampul di salah satu penerbit besar di Jakarta, aktivitas nongkrong FH santai itu mulai berkurang, digantikan dengan bekerja. 

“Tapi untuk sekarang, aku lebih sering jadiin warung kopi buat kerja, terutama di tempat yang memang suasananya enak (musiknya tidak terlalu keras dan tempatnya tidak terlalu ramai/berisik),” tutur perempuan yang baru saja tinggal di Jakarta Selatan ini.

Ilustrasi kerja dari kafe. (Foto: Metamata)

Warung Kopi dan Ruang Ketiga

Menurut Narita Pratiwi dan Maria Regina Widhiasti, “Warung kopi merupakan identitas dan bentuk kepuasan penduduk urban dalam memenuhi kebutuhan sosialnya.”

Selain itu, tambah mereka, bahwa keberadaan warung kopi di beberapa kota penyangga Jakarta–seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi–merupakan sebuah tren yang harus diikuti. 

Apa benar hanya sebuah tren atau ada juga faktor lain sehingga anak muda banyak menghabiskan waktu di warung kopi?

Banyak anak muda menghabiskan waktu di warung kopi kemungkinan karena ruang ketiga benar-benar tidak hadir yang disediakan oleh negara. 

Misalnya, kehadiran taman yang memadai untuk berkumpul, sarana olahraga gratis untuk masyarakat kampung kota, layanan perpustakaan yang juga bisa menjadi tempat multifungsi, dan ruang ketiga lainnya yang mestinya disediakan gratis oleh negara. 

Ilustrasi ruang publik di Jakarta. (Foto: Kumparan)

Ketidaktersediaan ruang ketiga tersebut menjadi ceruk bagi pebisnis warung kopi agar warga kota untuk berlama-lama di warung kopi. Caranya, selain mempermantap racikan kopi, mereka juga menghadirkan fasilitas lainnya, seperti jaringan Wi-Fi, live music, dan yang terutama adalah keramahan pelayannya. 

Dalam bukunya, The Great Good Place (1989), Ray Oldenburg mengungkapkan bahwa ruang ketiga adalah tempat ruang kumpul yang informal setelah rumah sebagai ruang pertama dan kantor sebagai ruang kedua. Warung kopi, toko buku, dan bar masuk dalam kategori ruang ketiga.

Coba kita tengok lagi fenomena Citayam Fashion Week di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, pada medio 2022. Banyak anak muda berkumpul di sana karena trotoarnya lebar membuat nyaman pejalan kaki dan juga sistem transportasi publik sudah terintegrasi.

Bagi kalangan bawah, ruang ketiga seperti di kawasan Dukuh Atas adalah sebuah vakansi yang menyenangkan. 

Artinya, warung kopi tidak saja sebagai tren, tetapi juga mengisi kekurangan ruang ketiga yang belum dihadirkan oleh negara di tengah masyarakat.

Penulis: Safar

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
83 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
ufabet

There is definately a lot to find out about this subject. I like all the points you made

I just like the helpful information you provide in your articles

This is really interesting, You’re a very skilled blogger. I’ve joined your feed and look forward to seeking more of your magnificent post. Also, I’ve shared your site in my social networks!