Anak Sekolah di Rempang Jadi Korban Penembakan Gas Air Mata

by | Sep 8, 2023

Anak | Gas Air Mata | Kekerasan Aparat | Polisi | Sosial

FOMOMEDIA – Seakan tak belajar dari Tragedi Kanjuruhan, penggunaan gas air mata secara semena-mena terus dilakukan aparat kepolisian. Kali ini di Rempang, Kepri.

Penggunaan gas air mata oleh aparat kembali menimbulkan korban. Kali ini, gas air mata digunakan aparat dalam bentrokan dengan warga di Kepulauan Rempang, Kepulauan Riau.

Anak-anak yang berada di sekolah ketika sedang belajar pun menjadi korban gas air mata itu. Sebanyak 11 siswa dari SMP Negeri 33 Galang dan SD 24 Galang pun harus dilarikan ke rumah sakit.

“Ketika di sekolah, warga dan guru meminta tidak ada penembakan gas air mata karena ada anak SD. Tiba-tiba [asap gas air mata] sudah sampai di atap sekolah,” kata Bobi, salah seorang warga yang menyaksikan bentrokan, dikutip dari BBC News Indonesia.

Seperti terlihat dalam video yang beredar di media sosial (medsos), para siswa dan guru yang berada di dalam kelas pun terbirit-birit keluar. Bahkan, beberapa siswa langsung ditandu karena pingsan.

Kronologi Bentrokan

Kejadian tersebut bermula ketika warga Rempang bentrokan dengan aparat pada Kamis (7/9/2023). Para warga menolak adanya proyek pengembangan kawasan ekonomi baru Rempang Eco-City.

Proyek tersebut diketahui sudah mencuat sejak 2004 silam. Namun, barulah pada tahun ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional 2023. Proyek itu pun masuk dalam Permenko Bidang Perekonomian RI Nomor 7 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional.

Menurut laporan CNN Indonesia, beleid tersebut telah diteken oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Senin (28/8/2023) lalu. Dengan begitu, 7.572 hektare, atau sekitar 45,89 persen dari total luas Pulau Rempang, akan dijadikan Rempang Eco-City.

Tak hanya itu, kawasan Rempang juga akan dijadikan lokasi pabrik kaca terbesar kedua di dunia. Perusahaan di balik pabrik itu adalah China Xinyi Group yang diperkirakan telah berinvestasi mencapai 11,6 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp174 triliun.

Belum dua minggu sejak disahkannya beleid tersebut, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam), ditemani aparat gabungan dari TNI, Polri, dan Ditpam Badan Pengusahaan (BP) Batam serta Satpol PP, turun untuk melakukan pengukuran. Mendengar kabar tersebut, para warga yang terdampak pun langsung mengadang.

Terjadilah bentrok antara warga dengan aparat. Para aparat gabungan pun memaksa masuk ke kampung. Namun, warga melakukan perlawanan.

“Kami imbau kepada warga jangan melawan petugas, karena itu melanggar hukum, sekarang dorong maju jalan,” kata Kapolresta Barelang, Kombes Pol. Nugroho.

Beberapa warga yang melakukan perlawanan itu pun ditangkap. Sementara, puluhan warga juga mengalami luka-luka akibat gas air mata.

Dari kejadian itulah gas air mata dipakai oleh aparat untuk membubarkan massa dari warga setempat. Namun, gas air mata yang ditembakan ke arah warga pun ternyata masuk ke kawasan sekolah.

Gara-gara Angin?

Semenjak kejadian penembakan gas air mata yang ditujukan kepada warga pun menjadi viral di medsos. Aparat disorot lantaran gas air mata lagi-lagi digunakan untuk membubarkan massa.

Menurut Kabid Humas Polda Kepulauan Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, penggunaan gas air mata ke arah massa sudah sesuai dengan prosedur.

“Gas air mata sudah sesuai prosedur karena mereka lempar batu,” kata Zahwani, dikutip dari CNN Indonesia.

Sementara itu, Zahwani membantah bahwa aparat telah mengarahkan gas air mata ke anak-anak di sekolah. Menurutnya, gas air mata mengenai anak-anak di sekolah lantaran lokasi bentrokan berdekatan dengan sekolah.

Tuai Kecaman

Penggunaan gas air mata untuk membubarkan aksi warga Rempang kini menjadi sorotan. Apalagi, gas air mata sendiri memiliki riwayat buruk dan menjadi penyebab hilangnya ratusan nyawa dalam Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur.

Gas air mata yang digunakan aparat pun sedang dikecam banyak pihak. Salah satunya adalah Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Stop penggunaan gas air mata pada saat berhadapan dengan masyarakat!” kata Susi melalui akun Twitternya.

Senada dengan Susi, Alissa Wahid juga ikut mengkritik penggunaan gas air mata itu. Menurutnya, gas air mata tidak boleh digunakan sembarangan.

Gas air mata tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi ke rakyat yang sedang mempertahankan kelangsungan hidup. Harus ada alasan kuat,” kata Alissa melalui akun Twitternya.

Putri sulung Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu juga menyangkal pihak kepolisian yang menganggap gas air mata mengarah ke sekolah gara-gara angin. Menurutnya, jika memang gara-gara angin, maka polisi kurang terampil.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] pekan lalu warga Rempang didatangi oleh aparat gabungan dari TNI, Polri, dan Ditpam BP Batam serta Satpol PP yang hendak melakukan pengukuran tanah. […]