Anak Muda Urban Harus Lebih Dekat dengan Mitigasi Bencana

by | Sep 21, 2023

Bencana | Mitigasi Bencana | Urban

FOMOMEDIA – Risiko bencana ada di mana saja, termasuk di lingkungan urban. Maka, mitigasi bencana mestinya jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Siapa bilang hidup di lingkungan urban atau perkotaan bisa lepas dari bencana?

Sebaliknya, hidup di lingkungan perkotaan justru sangat rawan terhadap bencana. Mulai dari banjir, polusi udara, polusi suara, polusi cahaya, krisis air bersih, gempa, longsor, kebakaran, kecelakaan, dan lain sebagainya. Ihwal bencana, lingkungan urban punya kompleksitas tersendiri. 

Seiring dengan pesatnya pembangunan gedung-gedung dan pusat perekonomian, wilayah urban di Indonesia seakan-akan terlihat menjanjikan untuk masa depan. Dari ujung Sumatera sampai Papua, banyak kota-kota besar yang tumbuh seraya menjadi magnet kepadatan penduduk.

Menurut Badan Pusat Statistik, 56,7 persen dari total sekitar 271 juta jiwa penduduk Indonesia kini tinggal di perkotaan. Dengan demikian, tentu risiko yang muncul akibat bencana akan lebih terasa karena kepadatan penduduk yang tinggi.

Indonesia Rawan Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dari tahun 2012 sampai 2022 terjadi 30.771 bencana. Dalam rentang waktu tersebut, 44,95 juta jiwa telah menjadi korban dan 1,03 juta fasilitas umum rusak.

Dari catatan satu dekade itu, BNPB mencatat terjadi peningkatan rata-rata jumlah bencana 6 persen tiap tahunnya. Misalnya, pada 2018, terdapat 3.521 kasus bencana nasional. Tahun berikutnya jumlah tersebut meningkat menjadi 3.904 kasus. Memasuki 2020 peningkatan terus terjadi dengan total 5.003 kasus. Jumlah tersebut sekaligus menjadi paling tinggi dalam satu dekade terakhir.

Tren penurunan bencana nasional baru terjadi saat memasuki tahun 2021 dengan total 3.515 kejadian. Tren penurunan juga kembali terjadi pada tahun 2022 dengan total 2.390 kejadian. Sementara itu, per 10 Mei 2023, telah tercatat 436 kejadian bencana. Jumlah yang terakhir itu hampir bisa dipastikan bakal terus bertambah mengingat tahun 2023 belum berakhir.

Ilustrasi bencana alam. (Foto: Unsplash)

Dalam rentang satu dekade terakhir tersebut, dari lima provinsi dengan kejadian bencana terbanyak, tiga di antaranya berada di Pulau Jawa. Peringkat pertama ditempati Jawa Tengah dengan 7.868 kejadian, disusul Jawa Barat dengan 4.948 kejadian, dan Jawa Timur 3.671 kejadian.

Sedangkan, provinsi lainnya yang memiliki kejadian bencana terbanyak dalam satu dekade terakhir adalah Aceh dengan total 1.400 kejadian dan Sumatera Utara 1.034 kejadian.

Lingkungan Urban Berbahaya

Dari uraian data di atas, BNPB mencatat sebagian besar bencana terjadi di lingkungan urban. Para korban tersebut terdiri dari korban meninggal, terluka, hilang, mengungsi, dan menderita. Sementara, untuk fasilitas umum yang rusak meliputi rumah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, jembatan, pabrik, dan lain sebagainya.

Bencana yang dimaksud BNPB sendiri, secara umum bisa dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah bencana yang disebabkan oleh alam, dan yang kedua adalah bencana yang disebabkan ulah manusia. 

Mengutip dari laporan Kompas, bahaya dari bencana alam maupun bencana karena ulah manusia bisa dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Mulai dari bahaya geologi, hidrometeorologi, biologi, teknologi, penurunan kualitas lingkungan, kerentanan yang tinggi dan kapasitas rendah dari berbagai komponen masyarakat, serta infrastruktur dan elemen-elemen di dalam kota atau kawasan yang berisiko bencana.

Lalu, dengan melihat berbagai risiko bencana yang terjadi di lingkungan urban tersebut, bagaimana langkah para anak muda menghadapinya? Apakah anak muda peduli dan sadar akan risiko bencana itu?

Anak Muda dan Mitigasi Bencana

Dua dekade lebih Maria telah merasakan tinggal di tiga lingkungan urban. Ia yang kini berdomisili di Yogyakarta mengaku juga pernah tinggal Jakarta dan Bekasi. Di tiga tempat tersebut Maria telah merasakan berbagai bencana.

Banjir Jakarta. (Foto: Pemprov DKI Jakarta)

“Dulu aku sudah pernah ngalamin gempa tektonik, gempa vulkanik, banjir, dan kebakaran. Semua di tempat berbeda tapi sama-sama di tempat tinggal aku [Bekasi, Jakarta, dan Jogja],” kata Maria saat dihubungi via WhatsApp, Selasa (27/6/2023).

Bencana yang pernah Maria alami pertama kali adalah banjir. Pada waktu itu Maria masih kecil dan tinggal di Bekasi. Dari bencana banjir tersebut, Maria pun harus libur sekolah dan mengungsi bersama orang tuanya ke tempat yang lebih aman.

“Kebetulan ketika banjir aku mengalaminya waktu masih kecil. Jadi kurang ingat betul risiko-risikonya kecuali sekolah dibatalkan dan satu komplek harus mengungsi sementara karena, ya, gak mungkin kita stay di rumah kecuali keturunan ikan,” kata perempuan yang berusia 23 tahun tersebut berseloroh.

“Namun, untuk yang gempa dan kebakaran, ya, sudah sadar betul akan risiko-risiko yang harus dihadapi karena dua jenis bencana tersebut membawa risiko yang murni. Selain mengancam rusaknya bangunan dan benda-benda di rumah, risiko nyawa yang lebih dipikirkan oleh kami yang pernah mengalami,” lanjut Maria.

Tak Ingin Terulang

Dengan berbagai pengalaman itu, Maria berharap lingkungan urban yang ia tempati setidaknya bisa tertata, sehingga mitigasi bencana pun bisa dilakukan dengan baik. Berbagai fasilitas seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan bantuan lainnya diharapkan Maria bisa diakses dengan mudah. 

Terkait mitigasi bencana, Maria sudah sadar sedari kecil. Maka, ketika membangun rumah nanti, pondasi yang kuat dan tinggi adalah barang mutlak supaya air tidak masuk ke dalam bangunan. Trauma akan datangnya banjir tidak ingin Maria rasakan lagi. 

Tak hanya itu saja, Maria juga sadar ihwal pentingnya menyiapkan asuransi jiwa dan properti. Hal tersebut adalah bentuk mitigasi bencana ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan.

Mitigasi bencana dengan latihan evakuasi. (Foto: Antara)

“Aku gak tahu ini termasuk tindakan mitigasi atau nggak, tapi kami punya alat dan stok makanan emergency di dalam satu tas khusus. Tidak besar dan banyak, masih kurang sebenarnya untuk mode ‘survival’ tetapi cukup untuk membantu diri sendiri. Beberapa barang kami beli di toko online. Ini karena terinspirasi dari cara orang Jepang ketika menghadapi bencana. Tas itu berisi alat-alat P3K, serta makanan dan minuman darurat yang bisa tahan bertahun-tahun,” ujar Maria.

Bisa karena Biasa

Tak jauh berbeda dengan Maria, Nugrah juga pernah merasakan dampak bencana sedari kecil. Ia yang tinggal di lingkungan urban di Yogyakarta pernah menjadi korban gempa dan erupsi Gunung Merapi. 

“Sudah pernah merasakan bencana karena tinggal di Jogja. Seringnya mengalami gempa bumi dan erupsi gunung. Oleh karena itu, aku dari kecil sudah dapat ajaran soal mitigasi bencana di sekolah,” kata perempuan yang berusia 21 tahun saat dihubungi via telepon WhatsApp, Kamis (22/6/2023).

Bahkan, terkait mitigasi tersebut, Nugrah sudah memiliki pengetahuan mengenai persiapan dan langkah seperti apa ketika bencana terjadi. Ia pun memberikan beberapa contoh mitigasi bencana yang sudah pernah ia terapkan.

“Mitigasi yang sudah aku lakukan lebih mengarah pada pengetahuan mengenai persiapan dan langkah yang harus diambil jika terjadi bencana. Misal kalau gempa, langsung lari ke luar rumah dan cari tempat lapang. Kalo erupsi, langsung siap masker dan berlindung di rumah, menyiapkan dokumen penting dan barang-barang yang perlu dibawa kalau perlu mengungsi,” ujar Nugrah.

“Seharusnya, wilayah urban bukan jadi suatu hal yang dipermasalahkan kalau membicarakan soal bencana. Jika mitigasi bencana sudah dilaksanakan dengan baik, tentu tingkat kerusakan dan korban yang muncul akibat bencana bisa diminimalisir. Misalnya dengan memperkuat bangunan untuk tahan bencana. Seperti kota-kota di Jepang, bangunan yang kuat membantu mereka meminimalisir kerugian akibat gempa, karena aspek geografis Jepang rentan terhadap gempa,” pungkas Nugrah.

Terkait dampak bencana yang ada di lingkungan urban, seorang pria bernama Andretti mengaku juga pernah menjadi terdampak letusan Gunung Merapi pada 2006 dan 2010. 

Erupsi Merapi. (Foto: Kompas)

“Erupsi Gunung Merapi 2006 dan 2010. Paling tidak hanya erupsi 2010 yang benar-benar berdampak langsung pada saya,” kata Andretti saat dihubungi via WhatsApp, Minggu (25/6/2023).

Peran Penting Sekolah

Berbeda pengalaman dengan Nugrah, Andretti yang kini berusia 23 tahun sewaktu kecil merasa kurang mendapatkan pelajaran mitigasi bencana dari sekolah. Tumbuhnya kesadaran akan bencana dilalui Andretti secara bertahap dan empiris. Menurut Andretti, ia akan tetap memilih tinggal di kawasan urban lantaran kedatangan bencana tidak hanya terjadi di lingkungan urban saja.

“Sejujurnya, saya tidak memiliki langkah mitigasi. Saya merasa ‘dimanjakan’ dengan lingkungan yang tampaknya aman dari bencana di kawasan urban itu. Namun, penjelasan Anda mengingatkan saya untuk selalu siaga dan waspada,” ujar Andretti.

Sementara itu, adanya risiko bencana di lingkungan urban juga dirasakan seorang perempuan bernama Celli. Ia adalah salah satu anak muda yang rumahnya terdampak luapan lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Celli yang kini berusia 21 tahun mengaku sudah sejak kecil terdampak lumpur lumpur lapindo. Ia berkisah bagaimana sewaktu dia masih umur 4 tahun sudah merasakan bau semburan lumpur Lapindo.

Tepat pada 29 Mei 2006, untuk pertama kalinya semburan gas berwarna putih keluar dari rawa yang berjarak 150 meter dari permukiman warga Desa Siring, Porong, Sidoarjo. Semburan itulah kemudian meluas ke rumah warga. Bahkan, per tanggal 13 Juni 2006, Jalan Tol Surabaya-Gempol di Kilometer 38 ditutup sepanjang 400 meter akibat digenangi lumpur panas setinggi 10-15 sentimeter.

“Bencana yang saya alami adalah lumpur Lapindo yang terjadi di tahun 2006 silam. Walaupun gak terdampak yang rumahnya tenggelam, tapi bau lumpurnya itu sampai di tempatku hingga 5 tahunan dan itu cukup mengganggu,” kata Celli saat dihubungi via pesan WhatsApp, Minggu (2/7/2023).

“Dulu aku masih ingat betul, jalanan raya Porong, yang sekarang jadi jalan arteri, itu dialiri lumpur. Abu-abu, kental, gelembung di sepanjang alirannya dan asap yang mengepul. Baunya benar-benar pekat, dan aku bingung jelasinnya gimana,” jelas Celli.

Belajar dari Pengalaman

Celli menjelaskan bagaimana dampak lumpur Lapindo sangat berpengaruh terhadap masyarakat di sekitar rumahnya. Meski jarak rumahnya 5 kilometer dari semburan lumpur, banyak korban lumpur yang kehilangan rumah berdatangan ke kampung rumah Celli berada.

Akibat bencana tersebut, Celli memiliki kesadaran bahwa ancaman dan kerentanan dari lumpur Lapindo masih ada. Menurut Celli, rumahnya yang berjarak beberapa kilometer dari semburan lumpur tersebut tentu masih menghadapi risiko tersendiri. Ia pun memiliki beberapa langkah mitigasi.

“Mitigasi yang saya lakukan adalah membuat peta kerawanan bencana, yang salah satunya adalah bencana banjir dan kebakaran. Kemudian, secara sadar saya juga mempelajari akan risiko dan ancaman bencana yang ada di sekitar saya,” kata Celli.

“Lingkungan urban selalu erat dengan kepadatan, baik penduduk maupun bangunan. Dan tentu, hal tersebut berisiko menimbulkan dampak yang besar ketika suatu bencana terjadi. Nah, saya rasa dampak tersebut bisa dikurangi/ditekan dengan membentuk coping capacity yang kuat di lingkungan urban tersebut,” pungkas Celli.

Itulah beberapa keterangan dari para anak muda yang sekarang tinggal di lingkungan urban. Mereka mayoritas sudah pernah terdampak bencana. Kesadaran terhadap mitigasi bencana bisa tumbuh dengan berbagai pengalaman empiris masing-masing.

Selain dari pengalaman empiris, kesadaran terhadap mitigasi bencana juga perlu dibangun dari pendidikan di lingkungan sekitar. Peran sekolah dan masyarakat sekitar yang mengajarkan soal risiko bencana juga penting untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana para anak muda.

Penulis: Sunardi

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] 2.000 orang dikabarkan terkubur dalam bencana tanah longsor di Papua Nugini, Jumat (24/5/2024) pekan lalu. Bencana alam ini menjadi perhatian publik […]

[…] 2.000 orang dikabarkan terkubur dalam bencana tanah longsor di Papua Nugini, Jumat (24/5/2024) pekan lalu. Bencana alam ini menjadi perhatian publik […]

[…] Anak Muda Urban Harus Lebih Dekat dengan Mitigasi Bencana […]