Anak Muda Penjaga Gerbang Toleransi Indonesia

by | Jul 25, 2023

Budaya | Gen Z | Millennial | Sosial

FOMOMEDIA – Toleransi Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. Akan tetapi, masih ada sejumlah PR yang mesti diselesaikan, khususnya oleh anak muda.

Indonesia tidak saja memiliki kekayaan alam yang luar biasa melimpah, tetapi juga kekayaan ragam suku, bahasa, agama, kepercayaan, adat istiadat, dan lainnya.

Akan tetapi, menjaga keberagaman latar belakang tersebut memiliki tantangan tersendiri. Tak jarang, kebhinekaan tersebut malah menjadi renggang karena isu-isu intoleransi di tengah masyarakat.

Kita tentu pernah dengar, di beberapa tempat, masih ada yang menghina sesama saudara yang memiliki warna kulit berbeda. Mahasiswa Papua yang disebut monyet di Surabaya pada 2019, misalnya, atau saat mahasiswa Papua kesulitan mencari kos-kosan di Yogyakarta. j

Begitu juga yang dirasakan oleh WNI keturunan Tionghoa di beberapa tempat yang mengalami diskriminasi. Di Yogyakarta, bahkan, ada peraturan bahwa etnis Tionghoa tidak boleh punya kepemilikan tanah di wilayah DIY Yogyakarta.

Isu keberagaman sempat menyita publik Indonesia saat Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Di media sosial, para pendukung kandidat meributkan masalah agama salah satu kandidat gubernur saat itu. Hal tersebut menimbulkan ekses yang besar dan jangka panjang, bahkan masih terasa hingga sekarang. 

BACA JUGA:

Namun, apakah masyarakat Indonesia secara umum memiliki pemikiran dan tindakan intoleran? Tidak elok kasus intoleran di beberapa wilayah dan hanya oleh sebagian masyarakat dijadikan barometer bahwa masyarakat Indonesia intoleran. 

Survei yang dilakukan Litbang Kompas pada November 2022 menunjukkan toleransi di Indonesia masih terjaga dengan baik. Buktinya, sekitar 62,2% responden menganggap masyarakat Indonesia cukup toleran, sedangkan sebanyak 10,4% responden menilai masyarakat Indonesia sangat toleran. 

Sementara itu, yang menyebut masyarakat Indonesia tidak toleran sebanyak 18,7% responden dan sekitar 4,3% responden yang menyatakan masyarakat Indonesia sangat tidak toleran.

Terlebih lagi, kita bisa cukup tersenyum lebar. Ternyata, Indonesia memiliki generasi muda yang cukup baik dalam bertoleransi dan menjaga keberagaman di masyarakat.

Sebagaimana hasil survei yang dilakukan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebutkan anak muda Indonesia cenderung toleran

Survei tersebut dilakukan di 36 kabupaten/kota dan 18 provinsi dengan responden sebanyak 1.200. Menurut Abdul Waidl—Senior Program Officer HAM dan Demokrasi INFID—dikutip dari CNN Indonesia, “Hasilnya, ada indikasi sikap positif terhadap inklusivitas agama.” 

Ilustrasi toleransi Indonesia.

Responden milenial sebanyak 65 persen dan z sebanyak 70 persen menyatakan mendukung keberadaan tempat ibadah bagi agama minoritas di sekolah. 

Sementara itu, ada 97 persen yang setuju kalau semua warga negara harus memiliki hak yang sama di hadapan negara, apa pun agamanya, termasuk kesempatan bekerja atau membuka usaha.

Meskipun begitu, masih ada pemikiran eksklusivitas dalam beragama. Ditemukan sekitar 40 persen responden setuju bahwa peraturan berpakaian sekolah disesuaikan dengan mayoritas agama yang dianut siswa.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Andre Notohamijoyo, Asisten Deputi Mitigasi Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, mengatakan bahwa keluarga kunci dalam membentuk sikap toleran pada generasi muda di tengah informasi berlimpah seperti sekarang. Menurutnya, “Ruang terkecil untuk membangun toleransi, kebhinekaan dan kebebasan beragama dapat dimulai dari keluarga.”

Selain keluarga atau rumah, bisa jadi kota/wilayah tempat mereka tinggal menjadi inkubator belajar toleransi. Sesuai riset terakhir yang dikeluarkan Setara Institute 2021, Singkawang berada di posisi pertama sebagai kota paling toleran di Indonesia pada 2021

BACA JUGA:

Selain kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat itu, ada 9 kota lain yang juga meraih predikat kota paling toleran. Seperti Kota Manado, Salatiga, Kupang, Tomohon, Magelang, Ambon, Bekasi, Surakarta, Kediri. 

“Kota Singkawang adalah kota yang multietnis. Kami ada 17 paguyuban, dan kami adalah miniaturnya Indonesia,” kata Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie.

Membaca data di atas, redaksi FomoMedia mencoba bertanya kepada generasi z untuk mendapatkan gambaran sikap toleransi mereka. Menurut AH (25 tahun), yang sehari-hari berkantor di Jakarta Selatan, “Toleransi itu sederhana seperti menghargai, tidak merendahkan orang lain, dan membiarkan orang lain menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. Intinya, kita mempunyai sikap menghargai atas perbedaan yang ada.” 

Tambahnya, “misalnya di bulan Ramadan sekarang. Kita saling menghargai saja yang berpuasa dan yang tidak. Warung makan tidak perlu tutup, toh iman seseorang gak akan berkurang hanya karena melihat orang makan di warung. Tapi, orang yang gak puasa juga jangan kelewatan makan di jalan. Sebenarnya tidak makan di jalan saat puasa Ramadan sudah menjadi budaya di beberapa wilayah di Indonesia.”

Sementara itu, menurut SA (editor/31 tahun), menyebutkan, “Toleransi itu kata kerja dan dapat dirasakan, terutama oleh minoritas. Jika teman-teman minoritas masih merasa tidak aman, berarti toleransi masih sekadar kosakata. Dan juga, toleransi itu kalau kita bisa hidup dengan berbagai identitas suku bangsa, pilihan gender, agama, serta keyakinan dan bahkan yang tidak beragama.”

Bonus Demografi dan Masa Depan Keberagaman Indonesia

Banyak hal yang berpotensi mengakibatkan terjadi konflik horizontal dalam masyarakat. Itu terjadi karena banyak gangguan, apalagi di era digital sekarang, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan materi-materi ajaran ekstremisme. 

Ilustrasi budaya Indonesia.

Untuk menangkal tersebut, semua kalangan mesti ikut terlibat menjaga keberagaman, khususnya kalangan muda di Indonesia. Syukurnya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2022, Indonesia memiliki anak muda sekitar 65,82 juta jiwa atau 24% dari total penduduk. 

Dengan jumlah yang sebanyak itu anak muda punya sumbangsih besar terhadap menjaga pintu gerbang toleransi di Indonesia.

Lalu, bagaimana cara memupuk sikap toleran dalam hidup bermasyarakat dan lingkungan sekolah? 

Dikutip dari Kemdikbud, ada delapan sikap yang dipupuk: 1) Bergaul dengan semua teman tanpa membedakan agamanya. 2) Menghargai dan menghormati perayaan hari besar keagamaan umat lain. 3) Tidak menghina dan menjelek-jelekkan ajaran agama lain. 

4) Memberikan kesempatan kepada teman yang berbeda agama untuk berdoa sesuai agamanya masing-masing. 5) Memberikan rasa aman kepada umat lain yang sedang beribadah.  6) Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. 7) Menjaga silaturahmi dengan tetangga yang berbeda agama. 8) Menolong tetangga beda agama yang sedang kesusahan.

Penulis: Safar

Editor: Irwan

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments