Anak Muda dan Relevansi Doktrin Amerika Negara Superpower

by | Mar 13, 2023

Amerika Serikat | Budaya | Politik

FOMOMEDIA – Sebetulnya, pengaruh Amerika Serikat di dunia masih sekuat apa, sih? Apakah Amerika Serikat masih bisa disebut sebagai negara adidaya atau superpower?

Rasanya, tak ada yang dapat menaklukkan Amerika Serikat. Bahkan, alien, monster, hingga bencana alam maha dahsyat pun tak mampu menundukkan negara superpower itu. Karena, mereka memiliki persenjataan yang teramat canggih, teknologi paling mutakhir, hingga berbagai macam tokoh pahlawan dengan beragam kostum dan kekuatan super yang dapat mengalahkan musuh dengan mudah. Begitulah gambaran Amerika di berbagai film pabrikan Hollywood. Sungguh menakjubkan.

Dalam bukunya “Hollywood Propaganda: How TV, Movies, and Music Shape Our Culture”, Mark Dice menyatakan bahwa film dan acara televisi bukan sekadar hiburan. Hal tersebut, katanya, dapat menjadi media yang kuat yang memengaruhi kecenderungan sosial dan politik, yang pada akhirnya membentuk perspektif dan budaya, baik nasional maupun global.

“Ada berbagai agensi yang bekerja di belakang layar di Hollywood yang memanfaatkan kekuatan ini untuk memengaruhi persepsi publik seperti soal isu legalisasi pernikahan sesama jenis, isu perubahan iklim, hingga isu-isu politik,” kata Dice.

Jadi, menurut Mark, kolaborasi antara penguasa dan industri perfilman di Amerika memang menjadi bagian dari produksi propaganda Negeri Paman Sam. Hal tersebut d2ilakukan dengan tujuan-tujuan tertentu baik di dalam dan juga di luar negara mereka.

Penulis dan kritikus asal Amerika, Martha Bayles, dalam tulisannya di The American Interest mengungkapkan perihal adanya perjanjian antara pemerintah Amerika dan industri perfilman di sana atau yang dikenal dengan istilah The Washington-Hollywood Pact. Katanya, hal tersebut bermula saat Amerika memasuki Perang Dunia I dan Presiden Woodrow Wilson saat itu membentuk Committee on Public Information (CPI) yang diketuai oleh seorang jurnalis bernama George Creel.

Saat itu, Creel meminta agar studio-studio film membantu Amerika dalam peperangan. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuat film anti-Jerman seperti Escaping the Hun and The Kaiser, The Beast of Berlin, dan lainnya yang mempropaganda dengan menyebarkan cerita kekejaman musuh. Walhasil, usai peperangan, Washington “menghadiahi” Hollywood dengan Undang-Undang Perdagangan Ekspor Webb-Pomerene, yang mengizinkan studio untuk membangun bisnis di luar negeri. Sehingga, dibentuklah Motion Picture Association of America (MPAA) dan Motion Picture Export Association (MPEA) untuk mewadahi hal tersebut.

Kata Bayles, setelah perang berakhir, tugas utama MPEA adalah mendistribusikan kisah masa perang ke dalam lebih dari 2.000 film ke sebanyak mungkin pasar luar negeri. Pemerintah Amerika pun membantu Hollywood membuka pasar luar negeri, dengan syarat film-film tersebut berfungsi untuk mengingatkan penonton akan banyaknya kebaikan Amerika untuk dunia dan pesan-pesan lainnya.

Bukit Hollywood, Los Angeles, Amerika Serikat.

Propaganda dan indoktrinasi Amerika Serikat tidak hanya dilakukan melalui film-film Hollywood. Berbagai macam media lain juga digunakan seperti media massa, iklan, hingga media sosial.

Agaknya kita masih ingat, bagaimana media-media Barat membingkai Irak sebagai  “negara teroris” yang memiliki senjata pemusnah massal, dan Amerika sang pahlawan harus menyelamatkan dunia. Hingga pada akhirnya, sebanyak 150.000 pasukan AS menduduki negara penghasil minyak terbesar kedua tersebut secara paksa dari tahun 2003 sampai 2011. Dan, hingga saat ini, keberadaan weapon of mass destruction tersebut tak pernah bisa dibuktikan oleh sang invader.

Masih banyak lagi penggalan sejarah dunia yang dapat menjadi gambaran bagaimana Amerika menggunakan berbagai media untuk memengaruhi sudut pandang warga dunia tentang apa yang negara itu inginkan.

Akan tetapi, dengan perkembangan zaman dan pergantian generasi, apakah pesan-pesan propaganda dan indoktrinasi tersebut masih relevan bagi kehidupan saat ini, khususnya generasi muda?

Secara statistik, persepsi dunia internasional terhadap Amerika Serikat semakin menurun. Gallup, perusahaan konsultansi manajemen asal Negeri Paman Sam yang kerap melakukan jajak pendapat publik secara global, mengeluarkan hasil survei terbaru mereka mengenai posisi Amerika di mata dunia. Tingkat kepuasan negara-negara terhadap Amerika Serikat tahun 2022 berada di poin 37 persen, turun drastis dari posisi tertingginya pada tahun 2002 sebesar 71 persen.

Secara ekonomi, persepsi negara global terhadap kepemimpinan ekonomi global tidak lagi ada pada Amerika Serikat. Survei tersebut menampilkan bahwa Tiongkok adalah negara superpower dalam konteks ekonomi saat ini, dan Amerika berada di posisi setelahnya. Wajar saja, per Agustus 2022, utang Amerika kepada Tiongkok  pun mencapai sekitar Rp14.500 triliun.

Akan tetapi, masih dalam survei yang sama, persepsi dunia terhadap kekuatan militer Amerika Serikat masih yang tertinggi. Sekitar 51 persen menganggap kekuatan militer AS pada 2022 masih yang terkuat di bumi. Walaupun sebenarnya angka tersebut menurun dari tren pada tahun 1990-an yang sempat berada di angka 60 persen.

Militer Amerika Serikat masih dipandang sebagai yang terkuat di dunia.

Di Indonesia sendiri, pengaruh Amerika masih cukup signifikan. Buktinya, negara yang menjadi basis lokasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Bank Dunia, dan lembaga-lembaga vital dunia lainnya tersebut masih menjadi ‘kiblat’ utama bagi kita dalam menentukan banyak hal. Misalnya, kebijakan politik, ekonomi, tren fesyen, dan lain sebagainya.

Namun, suatu fenomena unik muncul saat negara Rusia menginvasi tetangganya, Ukraina. Mayoritas narasi dukungan terhadap Rusia dan “anti-Barat” pun muncul di berbagai platform media sosial, begitu hasil pemantauan perusahaan analis big data, Evello.  Warganet Indonesia beramai-ramai me-yel-yelkan kata “Ura!” sebagai bentuk dukungan kepada negara presiden Vladimir Putin tersebut. Narasi dan meme yang menggambarkan bagaimana peran Amerika dan NATO sebagai aktor yang “mengadu domba” antara Rusia dan Ukraina tersebut juga mewarnai jagat media sosial.

Tetap Superpower, tapi Gaya Baru

Untuk mendapatkan perspektif anak muda mengenai isu ini, kami coba berbincang dengan Nara Indra Prima Satya, seorang dosen dari generasi milenial, di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan.

Nara berpendapat, hingga saat ini, pengaruh Amerika Serikat terhadap Indonesia dalam konteks politik, ekonomi, budaya, dan lainnya masih sangat kuat. Dari sisi politik, adanya sengketa perbatasan di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan Tiongkok membuat Amerika akan terus membayangi negara kita sebagai “guardian angel” untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

“AS juga bakal cukup sering “mampir” karena fokus politik luar negeri dan keamanan mereka, menurut dokumen National Security Strategy 2022, bakal ada di kawasan Indo-Pasifik di mana posisi geografis kita cukup penting,” kata lulusan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Sekolah Pascasarjana, Universitas Gajah Mada itu.

Sedangkan bagi generasi muda kita, menurut Nara, Amerika tetaplah negara “superpower”. Namun, katanya, makna superpower di sini bukanlah sebagaimana yang kita pahami saat dunia pasca-Perang Dunia II  dulu. Di mana, pada saat itu, makna kata tersebut adalah negara kuat yang suka menginvasi negara-negara lainnya.

“AS sendiri pelan-pelan ingin lepas dari posisi (superpower) itu. Lihat saja, misalnya, Donald Trump dengan America First-nya yang cenderung mengutuk posisi superpower itu. Sekarang pun, Joe Biden juga tidak terlalu antusias dengan status itu, kok,” jelasnya.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Lagi pula, kata Nara, saat ini tidak ada negara yang ingin menjadi negara superpower dengan konsep jadoel itu. “Soalnya, menjadi superpower itu adalah proyek yang mahal dan belum tentu ada manfaatnya dalam jangka panjang. Butuh biaya yang sangat besar, mulai dari militer, ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya. Bahkan Tiongkok pun sekarang sangat berhati-hati untuk tidak terjebak menjadi “superpower” semodel AS dulu.”

Menurut dosen HI dengan konsentrasi kawasan Amerika Utara dan Tengah itu, makna superpower bagi generasi muda saat ini lebih pada referensi tren dan budaya. “Salah satu contohnya adalah fenomena hypebeast yang masih booming sampai sekarang di kalangan anak muda,” katanya.

Inilah konsep superpower gaya baru yang saat ini tengah dimiliki oleh Amerika Serikat. Untuk menyebarkan pengaruh dan indoktrinasinya, AS pun menggunakan berbagai macam media, termasuk media-media jenis baru seperti Netflix. Menurutnya, Netflix menawarkan cara baru untuk mengonsumsi tontonan, sekaligus isu yang tengah menjadi perdebatan di domestik AS sendiri. Misalnya, isu kesetaraan gender, pernikahan sesama jenis, hak-hak minoritas, sampai isu kesehatan mental, dan lainnya.

“Ketika para generasi muda melihat hal-hal tersebut, mereka mendapatkan alternatif dari apa yang selama ini diajarkan oleh lingkungan terdekatnya seperti keluarga, sekolah, dan lingkar pertemanannya,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Putra, seorang lulusan S2 di Amerika Serikat. Menurutnya, selama dua tahun dia di negara tersebut, tidak ada satu indoktrinasi pun yang dia dapatkan untuk menganggap AS sebagai negara adikuasa.

Katanya, semua berjalan normal dan masyarakat di Amerika pun tidak pernah mengatakan bahwa mereka adalah warga negara kelas satu yang hidup di negara paling berkuasa di dunia. “Apalagi waktu saya di sana tahun 2018 sampai 2020, saat itu masa kepemimpinan Trump. Saya melihat banyak masyarakat di sana yang resah dengan kebijakan luar negeri Trump yang dirasa merugikan negara lain. Seperti pembangunan tembok Meksiko, keluar dari Perjanjian Paris, dan lainnya.”

“Menurut saya, Amerika tentu akan terus berupaya untuk menjadi negara yang paling berpengaruh di dunia. Akan tetapi, dengan kondisi dunia yang teknologi informasi sudah sangat maju dan inklusif, mereka akan melakukannya dengan lebih halus,” pungkas pria alumnus The George Washington University tersebut.

Penulis: Irwan

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good. https://www.binance.info/tr/join?ref=GJY4VW8W

[…] ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, kembali membuktikan kepada khalayak bahwa dia adalah salah satu politisi paling […]

[…] belum terlalu lama berlalu sejak Victor Wembanyama disambut begitu hangat dan meriah di Amerika Serikat. Namun, bulan madu Wemby—sapaan akrab Wembanyama—dengan publik Negeri Paman Sam tidak […]