Anak Muda Bisa “Sandera” Kandidat Politik dengan Isu Perubahan Iklim

by | Nov 30, 2022

Iklim | Politik

FOMOMEDIA.ID – Kepedulian generasi muda terhadap isu perubahan iklim sangat tinggi atau politik hijau. Para kandidat politik perlu mempertimbangkan isu tersebut menjadi kampanye politik yang konkret untuk menggaet suara anak muda dalam Pemilu 2024 nanti.

Sudah pukul tujuh malam saat Anisa masih duduk di teras kantornya sambil menatap rintik hujan yang tak kunjung berhenti. Harusnya, ia sudah duduk di sofa rumahnya, menikmati makan malam, sambil melanjutkan serial drama Korea yang belum selesai ditontonnya kemarin. Sebagaimana malam-malam biasa, sebelum musim penghujan tiba. Tapi sekarang, hampir setiap menjelang jam pulang kerja selalu diiringi dengan derasnya hujan yang akhirnya menggenang di sebagian jalanan.

“Banjir, gak bisa pulang. Nanti kalau dipaksa, motor malah mogok,” katanya kesal.

Syifa, teman satu kantor Anisa di perusahaan digital agency yang terletak di daerah Kemang, Jakarta Selatan, juga bernasib sama. Sudah belasan kali ia order layanan ojek online dari berbagai platform, Gojek, Grab, dan Maxim, tetapi tak satu pun menggubris. Wajar saja, driver ojol mana yang mau dibayar tak seberapa untuk menerabas hujan deras dan mengarungi banjir Jakarta. Bukannya dapat untung, malah bisa buntung.

Sebagian wilayah Jakarta dan sekitarnya memang mulai masuk ke musim penghujan Oktober ini dengan intensitas 120-145 milimeter per hari atau masuk dalam kategori hujan sangat lebat. Begitu kata Koordinator Bidang Cuaca dan Peringatan Dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Miming Saefudin.

“Curah hujan tinggi juga perlu diwaspadai mulai November, Desember, Januari, Februari karena wilayah Jabodetabek mulai masuk awal musim hujan itu,” katanya.

Akan tetapi, bagi sebagian pekerja di wilayah Jakarta, hujan bukan jadi masalah utama, melainkan dampak setelahnya. Yakni banjir, yang keyword dan hashtag-nya hampir setiap sore dan malam masuk dalam jajaran trending topic Twitter di Indonesia.

Berbagai umpatan dan kutukan dilimpahkan di media sosial. Permasalahan banjir yang mendisrupsi ritme proses pulang kerja menjadi isu utama yang kerap dibahas. Pembahasan ini pun biasanya dibumbui juga dengan saling olok antar pendukung tokoh politik tertentu akibat residu Pilkada DKI Jakarta 2017 yang belum seutuhnya selesai di tataran elite hingga ke masyarakat.

Padahal, jika dilihat dari perbandingan data banjir di DKI Jakarta dari 2002 sampai 2021, terjadi penurunan jumlah RW dan luas area tergenang hingga jumlah pengungsi korban banjir. Artinya, setiap pemimpin di Jakarta terlihat telah berupaya menangani permasalahan banjir dan selalu menjangkau pencapaian yang lebih baik dari pendahulunya. Dan itu hal yang wajar.

Tapi memang, curah hujan sangat tinggi bahkan hingga ekstremlah yang menjadi salah satu biang dari banjir yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Adapun, menurut United States Environmental Protection Agency, curah hujan sangat tinggi dan ekstrem merupakan salah satu indikator dari perubahan iklim. “Lautan yang lebih hangat karena pemanasan global meningkatkan jumlah air yang menguap ke udara. Ketika lebih banyak udara yang mengandung uap air bergerak, maka dapat menyatu dan menjadi sistem badai. Hal ini dapat menghasilkan presipitasi yang lebih intens, misalnya, hujan lebat, badai salju, dan lainnya.”

Maka baiknya, dalam menanggapi masalah hujan, banjir atau perubahan iklim, generasi muda tidak perlu terjebak dalam intrik para pemilik kepentingan politik menjelang 2024. Sebaliknya, generasi muda yang akan mendominasi jumlah konstituen nanti bisa memiliki bargaining power untuk mendorong para kandidat politik, baik dari tingkat daerah hingga nasional, agar memiliki kepedulian dan program untuk menghadapi masalah perubahan iklim yang lebih konkret.

Agar tidak seperti Pemilu 2019, saat para kandidat dianggap belum menjadikan isu perubahan iklim sebagai program konkret dan prioritas. “Perubahan iklim belum tergambar menjadi prioritas di dalam visi dan misi Capres dan Cawapres 2019,” kata Manajer Kampanye Keadilan Iklim Walhi, Yuyun Harmono, pasca debat kandidat sesi kedua waktu itu.

Generasi muda sebenarnya juga memiliki pandangan yang senada tentang kepedulian politisi dan partai politik terhadap isu perubahan iklim. Hal tersebut tergambar pada hasil survei Indikator Politik Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Cerah yang menyatakan bahwa Gen Z dan Millennials menganggap semua partai politik di Indonesia mengabaikan isu krisis perubahan iklim. Kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, hampir semua partai politik hanya meraih penilaian di bawah lima persen.

Demikian pula anggapan generasi muda Indonesia pada pemerintah saat ini yang dinilai belum berupaya maksimal untuk menangani permasalahan perubahan iklim di negara ini.

Padahal, masih menurut data dari hasil survei Indikator Politik Indonesia di atas, generasi Z (17-26 tahun) dan milenial (27-35 tahun) yang mengetahui istilah perubahan iklim mencapai 82 persen. Dan mereka pun menganggap masalah perubahan iklim sebagai salah satu isu yang paling mengkhawatirkan, setelah korupsi. Inilah kepedulian terhadap politik hijau oleh kaum muda.

Sumber: Indikator-Cerah

Artinya, Indonesia saat ini yang surplus dengan kuantitas generasi muda dan mayoritas paham dan peduli terhadap masalah krisis iklim dan politik hijau, sedang berada pada momen terbaik untuk mengeluarkan negara ini dari masalah tersebut. Yakni dengan kepedulian dan gerakan dari generasi muda, serta dorongan mereka kepada pemerintah legislatif dan eksekutif sebagai pembuat dan pengimplementasi kebijakan.

Politisi dan kandidat politik 2024 sepertinya memang tak bisa memandang sebelah mata isu perubahan iklim jika tak mau ditinggalkan para pemilih muda.  Fenomena ini sudah terjadi di Jerman pada Pemilu 2021 lalu, di mana pemilih muda yang merasa kecewa dengan kurangnya perhatian Angela Merkel—Kanselir Jerman 2005-2021—terhadap perubahan iklim akhirnya beralih ke Partai Hijau. Karena itu, Partai Politik Hijau untuk pertama kalinya bisa meraih suara 15%, di mana sebagian besar pemilihnya adalah generasi muda.

Jadi, ketika momen tebar pesona dan program para kandidat politik 2024 nanti saatnya tiba, baiknya generasi muda bisa lebih tegas. Bagi kandidat yang tak mengusung visi untuk menyelesaikan permasalahan perubahan iklim sebagai program prioritas dan konkret, katakan saja “ke laut aja loe!”

Lihat Fomographic: Politik hijau anak muda

Dengungkan lebih keras

Mungkin, karena jarak usia antara milenial dan Gen Z dengan para politisi yang mayoritasnya didominasi oleh generasi X dan boomers, visi antara kedua generasi tersebut perihal perubahan iklim tidak sinkron. Di Amerika Serikat, sebagai salah satu negara yang kerap menyuarakan isu global warming saja, kepedulian generasi tuanya terhadap isu tersebut terbukti lebih kecil dibanding dengan generasi muda. Hasil studi Gallup 2018 dengan judul “global warming age gap” menyatakan bahwa hal itu terjadi karena generasi muda dianggap lebih banyak terpapar dan berdiskusi mengenai isu perubahan iklim, sedangkan generasi sebelumnya kurang mendapatkan edukasi mengenai hal tersebut.

Jadi, dengan realitas demikian, wajar bahwa harapan generasi muda terhadap pemimpin yang peduli perubahan iklim hingga saat ini kurang terlalu didengar dan disambut oleh para politisi. Dan mereka pun masih sibuk dengan isu-isu yang sebenarnya sudah tidak relate dengan generasi muda lagi seperti isu komunisme dan isu lainnya.

Maka, perlu suara lantang dan bertubi-tubi generasi muda terkait isu perubahan iklim agar terdengar lebih jelas di telinga para politisi. Sehingga mereka berpikir bahwa masalah krisis iklim bukan lagi menjadi isu tambahan yang kurang jelas dan kurang serius dalam menanganinya. Seperti biasanya.

Untuk membuat dengungan yang sangat keras dan menjangkau luas, media sosial tentu jadi pilihan terbaik tanpa bantahan. Melalui teknologi tersebut, sekarang, semua orang punya kesempatan yang sama untuk suaranya didengar oleh masyarakat dan pengambil kebijakan.

Gerakan Friday for Futures tentu bisa menjadi contoh praktis bagaimana media sosial dapat mengamplifikasi suatu aksi yang awalnya hanya bersifat lokal, menjadi sebuah aksi masif yang diikuti jutaan orang di seluruh belahan dunia. Tanpa media sosial, Greta Thunberg hanya seorang gadis remaja yang duduk di depan gedung parlemen Swedia sambil membawa potongan karton bertuliskan kolstrejk för klimatet atau “mogok sekolah untuk iklim”.

Tanpa peran media sosial, bahkan pesan yang Greta sampaikan di depan gedung Riksdagshuset tersebut tampaknya akan sulit untuk menembus masuk gedung parlemen tersebut, apalagi sampai dipedulikan oleh para anggota legislatif yang duduk di dalamnya.
Namun, setelah aksi yang gadis dengan obsessive–compulsive disorder (OCD) tersebut viral di media sosial, barulah suaranya lantang terdengar, tidak hanya di parlemen Swedia, bahkan sampai ke seluruh penjuru dunia melalui mimbar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sumber: www.theglobeandmail.com

Tak cukup hanya bersuara keras, tetapi juga harus konsisten

Tapi ingat, bersuara lantang di media sosial saja tidak cukup. Jikapun viral, sebuah konten biasanya tak bertahan lama. Sebagaimana fenomena viral di media sosial TikTok yang telah dirasakan sebagian orang. Cepat naik, cepat juga turun.

Greta tidak menjadi key opinion leader (KOL) internasional dalam isu perubahan iklim dengan cuma beraksi sekali dua kali. Hal tersebut didapat olehnya dengan aksi konsistennya yang dimulai sejak 2018 untuk protes dan aksi mogok sekolah di depan gedung Parlemen Swedia, orasi di berbagai podium, tulisan-tulisan di media, dan aksi aktivisme lainnya yang membuat wajahnya pantas terpampang sebagai Time Person of The Year 2019.

Begitu juga dengan berbagai aktivis lingkungan lain seperti Elizabeth Wanjiru Wathuti yang mendirikan Green Generation Initiative yang telah menanam lebih dari 30.000 bibit pohon di Kenya, Fatau Jeng dari Gambia yang mendirikan Clean Earth Gambia dan melatih lebih dari 500 anak sekolah tentang perubahan iklim serta masalah lingkungan, dan masih banyak lagi.

Nicholas Stern, Ketua Center for Climate Change Economics and Policy pernah berkata, “There is still time to avoid the worst impacts of climate change, if we take strong action now.”

Intinya, aksi nyata yang konsisten menjadi kunci utama untuk membuat suara keras kita dalam menyuarakan isu perubahan iklim, pemanasan global, dan sejenisnya, lebih terdengar oleh para pemangku kekuasaan dan orang-orang yang memiliki kepentingan pada kekuasaan 2024 nanti.

Jadi, untuk generasi muda, yuk kita “sandra” para politisi dan kandidat politik 2024 nanti dengan isu perubahan iklim.

Penulis: Irwan

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Anak Muda Bisa “Sandera” Kandidat Politik dengan Isu Perubahan Iklim […]

[…] tidak berusaha untuk menciptakan warna putih yang paling putih, melainkan membantu menghadapi perubahan iklim yang belakangan semakin memburuk saja situasinya. Kami ingin mencari cara mendinginkan bumi […]

[…] satu dampak dari suhu Bumi yang meningkat adalah ruang hidup manusia semakin menyempit. Contoh kasus yang dialami oleh para petani di Berau […]