Aktivisme Genius: Beli Saham, Ikut RUPS, lalu Protes Pembangunan PLTU Batu Bara Adaro

by | May 12, 2023

Adaro Energy | Iklim | Net Zero Indonesia

FOMOMEDIA – Rencana pembangunan PLTU batu bara baru yang dilakukan oleh Adaro dinilai tak sesuai dengan komitmen Indonesia tentang Net Zero Emission 2060.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. Adaro Energy TBK pada Kamis (11/5/2023) diwarnai aksi protes. Beberapa pemegang saham beremiten ADRO ini memprotes rencana pembangunan PLTU batu bara baru di Kalimantan Utara (Kaltara).

Aksi protes dalam RUPS tersebut dilakukan oleh para pemegang saham dengan cara membentangkan spanduk bertuliskan “Stop Pembangunan PLTU Baru”. Aksi itu pun menyita perhatian anggota dan direksi perusahaan yang hadir dalam rapat.

“Krisis iklim mengancam masa depan dan anak cucu kita. Adaro harus menunjukan niat transisi yang serius dengan beralih dari bisnis batu bara dan investasi yang lebih agresif ke sektor energi terbarukan,” kata Ganjar, salah satu pemegang saham ADRO, seperti dikutip dari petrominer.com, Kamis (11/5).

Protes yang dilakukan di RUPS Adaro Energy itu tak cuma dilakukan seorang, melainkan dua pemegang saham.

“Kerasa dong siang yang jadi panas banget? Atau hujan gak gitu besar tapi langsung banjir? Nah, kita semua sudah merasakan dampak dari Krisis Iklim. Ini akan semakin parah kalau emisi dari PLTU batubara tidak segera dikurangi dan perusahaan energi tidak serius bertransisi,” tulis akun Twitter @GreenpeaceID menanggapi aksi protes tersebut, Kamis (11/5).

Adaro Energy merupakan salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan yang dipimpin oleh Garibaldi Thohir, kakak Menteri BUMN, Erick Thohir, itu memang telah berencana mengembangkan energi terbarukan seperti air, surya, dan angin.

Namun, perusahaan energi yang laporan keuangannya bertajuk “Transforming into a bigger and greener Adaro” itu hingga kini masih mengandalkan bisnis batu bara. Terbukti, produksi batu bara yang dilakukan Adaro justru mengalami peningkatan.

Data tahun 2021 menunjukkan bahwa produksi batubara Adaro meningkat 20 persen, dari yang 52,7 juta ton menjadi 62,8 juta ton. Lalu, pada tahun 2023 ini pun mereka menargetkan peningkatan produksi.

Bos Adaro Energy, Garibaldi Thohir. (Foto: Kompas)

Sementara itu, pembangunan PLTU batu bara di Kaltara itu ditujukan untuk mendukung smelter aluminium, yang digadang-gadang akan menjadi lumbung persediaan aluminium kendaraan listrik.

Smelter yang akan dibangun itu direncanakan akan memproduksi 500.000 ton aluminium tiap tahun. Dari situ, diperkirakan smelter itu bakal menghasilkan emisi 5,2 juta ton karbon dioksida (CO2).

Tidak Sesuai Semangat Net Zero Emission

Rencana pembangunan PLTU batu bara yang dilakukan oleh Adaro itu akan menghasilkan emisi dalam jumlah besar. Hal tersebut dinilai akan memperburuk dampak krisis iklim dan tak sesuai dengan komitmen Indonesia terkait Net Zero Emission 2060.

“Pembangunan PLTU batu bara baru hanya akan memperburuk dampak krisis iklim, mencemari lingkungan, merugikan masyarakat dan mencederai komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dari sektor energi,” kata Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia.

Komitmen Indonesia ihwal Net Zero Emission itu telah dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan, dalam acara Net Zero Summit and B20 Investment Forum Opening Ceremony, November 2022 lalu.

Menko Marves RI, Luhut Binsar Pandjaitan, menargetkan Net Zero Indonesia 2060. (Foto: Promedia)

Dalam acara itu, Luhut menyampaikan bahwa Indonesia bisa mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih awal.

“Jika 14 anggota G20 yang paling intensif karbon mengurangi emisi CO2 per kapita mereka ke rata-rata global, 11,8 miliar ton emisi CO2 akan hilang, setara dengan 34 persen emisi global dan 18 kali seluruh emisi Indonesia tahun 2019. Transisi energi ini membutuhkan dekarbonisasi di sektor pembangkit listrik dan penggunaan akhir,” kata Luhut, seperti dilansir maritim.go.id.

Dalam Net Zero Emission yang digagas oleh International Energy Agency sendiri terdapat wacana untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat celcius. Dengan melihat data itu, seharusnya sudah tidak ada lagi pembangunan PLTU batu bara baru setelah tahun 2021.

Adapun, di Indonesia sendiri, sebetulnya sudah bermunculan langkah konkret menuju Net Zero Emission. Dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN), misalnya, ada program pendampingan bernama KADIN Net Zero Hub. Selain itu, perusahaan seperti Indika Energy pimpinan Arsjad Rasjid juga sudah secara aktif melakukan dekarbonisasi melalui pembangunan PLTS sekaligus divestasi batu bara.

Penulis: Sunardi

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] Swadaya Masyarakat (LSM) Global Witness baru saja merilis total orang yang meninggal akibat membela lingkungan. Menurut laporan itu, setidaknya terdapat 177 orang terbunuh pada […]