5 Film Indonesia Terbaik 2023

by | Dec 26, 2023

Budaya | Film | Hiburan

FOMOMEDIATahun ini pun, film-film Indonesia bagus bermunculan. Inilah daftar film favorit tahun ini seperti di kaleidoskop. Adakah film kesukaanmu di sini?

Kebangkitan film Indonesia tahun 2022 memberikan standar tinggi untuk industri perfilman tahun ini. Sebab, bioskop mampu memecahkan rekor penjualan film Indonesia per tahun. Dengan 88 judul film, bioskop menjual tembus 54 juta tiket.

Kebangkitan itu tidak cuma ditandai dengan tingginya jumlah tiket yang terjual, tetapi juga dari segi kualitas. Sejak tahun 2022 lalu, jumlah film Indonesia berkualitas terus mengalami peningkatan.

Sebutlah Ngeri-Ngeri Sedap, Mencuri Raden Saleh, Like and Share, The Big 4, hingga Before, Now, and Then (Nana). Beserta beberapa film lain, judul-judul barusan menetapkan kriteria agaknya sulit diimbangi.

Beruntung bagi kita para penonton, industri film tahun ini relatif mampu menjawab tantangan tahun lalu. 

Memang secara pendapatan, 2023 masih kalah. Tanpa satu film box office yang mampu mencapai hampir 10 juta penonton macam KKN di Desa Penari (2022), total penjualan tiket hingga awal Desember ini adalah 48,5 juta dari 120-an judul film.

Namun, kendati lebih rendah dari 2022 lalu, kondisi tahun ini relatif stabil karena sebanding dengan situasi sebelum pandemi. Setidaknya ada 131 film pada 2018, dan 129 pada 2019. Total penjualan tiket pada kedua tahun itu bekisar angka 50-an juta.

Selain itu, tahun ini juga muncul berbagai film yang tak kalah bagusnya dengan film-film terbaik tahun lalu, kendati bukan yang tertinggi dalam penjualan tiket.

Berikut ini adalah lima film Indonesia terbaik yang sempat saya tonton tahun 2023 ini:

Autobiography

Film realis ini lebih ngeri ketimbang banyak film horor. Teror psikologis sepanjang hampir 2 jam disajikan kepada penonton melalui relasi timpang antara seorang asisten rumah tangga bernama Rakib (Kevin Ardilova) dan sang majikan bernama Purna (Arswendi Bening Swara). 

Untuk lebih spesifik lagi, Rakib adalah pemuda tanpa figur ayah, sementara Purna adalah pensiunan jenderal yang masih ingin memperpanjang masa “berkuasa”-nya dengan mencalonkan diri sebagai bupati.

Hubungan Rakib dengan Purna, yang sedekat ayah-anak, berkelindan dengan silih berganti perasaan takut, kagum, hingga takut lagi, yang kian lama kian tak tertahankan sampai mendorong tindakan ekstrem. 

Menihilkan tokoh perempuan, film arahan sutradara Makbul Mubarak ini menggambarkan “dunia laki-laki” yang membebani psikologi secara konstan, tetapi secara absurd juga memikat sampai mau terjebak dalam lingkaran setan.

Bertempo lambat khas sinema festival Eropa, film berlatar desa ini menyajikan teror subtil sebagai alegori atas pengalaman hidup di bawah kediktatoran rezim Orde Baru.

Namun lebih dari itu, pada Autobiography, kita menyaksikan puncak akting seorang Arswendy.

Baca juga:

Orpa

Agaknya, ini adalah film panjang pertama di bioskop Indonesia, yang bercerita tentang Papua dan disutradarai oleh orang asli Papua. Kendati begitu, film debut Theogracia Rumansara ini tak hanya orisinil karena wilayah yang selalu digambarkan lewat lensa kamera orang luar itu akhirnya diceritakan lewat tangkapan lensa penghuninya sendiri. Film ini istimewa karena eksekusinya juga matang.

Orpa adalah film sederhana yang jujur. Mengangkat isu ketidaklayakan hak hidup dan akses pendidikan, kita mengikuti petualangan anak SD bernama Orpa (Orsila Murib) yang berusaha kabur dari perjodohan karena ingin lanjut sekolah.

Orpa anak kecil yang terus terang, tetapi tenang, kritis, dan rasional. Ia yang dewasa karena keadaan, bertemu dengan musisi Ibu Kota bernama Ryan. Khas stereotipe orang Jakarta di film-film ketika datang ke “daerah”, Ryan yang polos bersikap sok tahu dan sok asyik. 

Dikemas sebagai road movie, Orpa memperlihatkan interaksi unik antara dua sosok yang sifat dan latar belakangnya berbeda. Konflik yang mereka himpun dari perjalanan bersama, lantas terselesaikan dengan solusi yang terbilang progresif, namun sesuai dengan ruang lingkup konteks kulturalnya.

Meski berbagai keterbatasan begitu kentara, penuturan film ini lebih apik dari banyak film yang berbujet lebih besar. Agaknya, paham bahwa produksi film ini tak punya bujet besar untuk menangkap gambar yang megah dan mewah, Theogracia mengarahkan film ini dengan shot-shot sederhana, tetapi jelas intensinya. Bagian awal film terasa seperti dokumenter. Kemudian, barulah visual-visual yang kuat bermunculan, ditunjang scoring yang membikin salut.

Setelah Denias Senandung di Atas Awan (2009) dan Epen Cupen The Movie (2015), kehadiran Orpa tahun ini menunjukkan bahwa film Papua muncul dengan interval di atas lima tahun. Tapi, Orpa bukan hanya menambah deretan daftar. Film ini hadir dengan menyuarakan kejujuran secara lantang.

Baca juga:

Sleep Call

Fajar Nugros kembali menjajaki genre baru. Sebelumnya, ia sempat menjauh sejenak dari drama, percintaan, maupun komedi, dengan beranjak ke film aksi lewat Gangster (2015) dan horor lewat Inang (2022). Kali ini, ia mengarahkan thriller psikologi. Namun, Fajar bukan sekadar membuat kisah mencekam. Ia menciptakan tokoh dan situasi yang kuat, berfondasi pada fenomena yang dekat dengan gen z.

Sleep Call mengikuti sosok Dina (Laura Basuki) yang terlilit utang akibat pinjaman online (pinjol). Dibuat kesepian oleh paduan utang dan Jakarta, Dina menjelajahi aplikasi kencan. Kenallah ia dengan pria asing nan misterius bernama Rama.

Sleep call dengan Rama membuat hidup Dina kembali berwarna. Namun semakin ia kecanduan mengobrol dengan Rama, semakin ia mendapati dirinya terlibat sesuatu yang rumit, di mana nyawa bisa terenggut.

Seperti biasa, Laura memperlihatkan akting memikat. Namun talentanya amat kentara di sini karena Dina yang diperankannya merupakan karakter “berbeda”. Memerankan sosok yang ruang interpretasinya besar semacam itu, Laura tampil sangat menarik.

Akting Laura pun bertemu dengan penyutradaraan Fajar yang terbilang surealis. Editing non-linier yang membuat narasinya semacam puzzle menginterpretasikan distorsi realitas dari tokoh dalam film.Film ini menaruh klimaksnya pada plot twist yang barangkali mudah ditebak oleh banyak pencinta film. Kendati begitu, konsep penyajian, serta akting yang disajikan Laura, lebih dari cukup untuk menikmati teror film ini.

Budi Pekerti

Film arahan Wregas Bhanuteja ini merupakan paket komplit. Ia menghibur sebagai tontonan, mendalam sebagai karya seni, dan tajam sebagai kritik sosial.

Melalui kacamata sebuah keluarga di Jogja, Budi Pekerti memperlihatkan betapa absurdnya dampak yang bisa diberikan warganet pada orang yang viral. Reputasi semu di jagat maya, yang dibangun keroyokan tanpa dasar jelas, tak hanya merugikan si korban, tapi juga orang-orang di sekelilingnya.

Sosok yang dipilih Wregas untuk mengemban cerita sebagai korban utama tak tanggung-tanggung: seorang guru BP—kita tahu, guru merupakan profesi rentan yang relatif sering dirundung karena cara mengajarnya viral.

Diperankan Sha Ine Febriyanti, tokoh Bu Prani menampilkan keteguhan yang menggetarkan hati. Aktingnya didukung oleh aktor-aktor lain yang mengambil peran di luar zona nyaman mereka. Dari Dwi Sasono sebagai suami bipolar; Prilly Latuconsina sebagai mbak-mbak emo progresif; hingga Angga Yunanda sebagai streamer jamet.

Meski terkesan sederhana, aspek visual maupun audio film ini meninggalkan kesan mendalam. Penataan gambar dan suaranya terkonsep secara matang, terutama dalam hal mengalienasi tokoh. Namun, konsep tersebut dieksekusi tanpa terlalu kentara diorkestrasi, sehingga tampak sangat natural, kendati sejatinya menghadirkan penggambaran berlapis-lapis.Budi Pekerti mempertegas bahwa Wregas memang memperlakukan film dengan cara yang belum pernah, baik karena tak terpikirkan atau tak sanggup, dilakukan oleh sutradara lain di negeri ini.

Baca juga:

Jatuh Cinta seperti di Film-Film

Studio Imajinari berhasil mencitrakan dirinya sebagai rumah produksi baru yang produktif, dengan tetap idealis melahirkan karya otentik. Setelah akhir tahun lalu sukses menghadirkan drama keluarga segar, Ngeri-Ngeri Sedap, akhir tahun ini Imajinari kembali merilis film segar di genre komedi romantis.

Untuk kembali mengembuskan udara segar di industri ini, Imajinari mempercayai kata kunci yang sebelumnya juga melandasi film Batak arahan Bene Dion itu, yakni “personal”.

Maka tak heran, Imajinari mengambil risiko untuk mengizinkan Yandy Laurens mengeksekusi film komedi romantis ini dengan cara yang mewakili perasaan terdalamnya. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film tampil dengan sebagian besar adegannya berwarna hitam putih.

Mengisahkan seorang penulis skenario film yang diam-diam mengadaptasi hubungannya dengan sang pujaan hati ke layar lebar secara apa adanya, Yandi menyusun karya ini secara meta. Ini menjadi film tentang membuat film. 

Namun, Yandy membuat batas antara adegan proses pembuatan film dan film di dalam film menjadi kabur. Yang realistis dan filmis dibenturkan secara strategis untuk menginterogasi pemahaman si protagonis. Alhasil, cerita di layar bioskop pun mengalir unik bagai curhat yang disamarkan sebagai curhat juga. 

Dalam menyusun naskah ini, Yandi melibatkan dua aktor yang bermain untuk filmnya sebelum ini, Keluarga Cemara (2018). Ditulis bertahun-tahun dengan mencuplik percakapan tongkrongan antara Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir, film ini terasa personal dengan cara apa adanya. Dialog dan interaksi antarprotagonis tampak sangat wajar. Ringgo dan Nirina memerankan Bagus dan Hana seolah tidak berakting, layaknya Julia Delpy dan Ethan Hawke di trilogi Before

Yandi lantas memainkan medium dengan tangkas. Konflik yang subtil dan tersembunyi di balik akting natural Ringgo dan Nirina dibentangkan kepada penonton lewat aspek-aspek cerita yang terkait pembuatan film.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memperkaya sinema Indonesia dengan komedi romantis yang akhirnya bisa disejajarkan dengan (500) Days of Summer (2009), Ruby Spark (2012), hingga Before Trilogy (1995-2013).

Penulis: Ageng

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

[…] 5 Film Indonesia Terbaik 2023 […]

[…] yang keluar itu terjadi ketika pemutaran film Being (The Digital Griot), Selasa (23/1/2024). Di dalam acara pemutaran itu, menurut laporan NME, […]

[…] 5 Film Indonesia Terbaik 2023 […]