5 Buku Indonesia Terbaik 2023

by | Dec 28, 2023

Buku | Buku Indonesia | Hiburan

FOMOMEDIAWalau nasibnya begini-begini saja, penulis masih berani menerbitkan buku. Nah, ini lima buku Indonesia terbaik yang terbit tahun 2023.

Berkat industri perfilman, dunia buku Indonesia tahun 2023 jadi cukup semarak. Ada dua film dan satu film seri yang diadaptasi dari novel, yaitu Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (dari novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan), 24 Jam Bersama Gaspar (novel karya Sabda Armandio), serta Gadis Kretek (dari novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala).

24 Jam Bersama Gaspar sendiri sudah tayang di sejumlah festival. Sementara, Gadis Kretek menjadi tontonan populer di enam negara, di Chili, Rumania, Meksiko, Venezuela, Malaysia, dan Indonesia.

Kolaborasi antara buku dan film bisa saling memberi efek. Pembaca novel akhirnya akan menonton film dan yang belum baca bukunya akhirnya akan membacanya. 

Selain itu, pembaca buku juga dihidangkan dengan buku-buku baru, baik fiksi maupun nonfiksi. Para penulis menghadirkan keberagaman tema sehingga pembaca punya banyak pilihan untuk menentukan mana yang mesti dibaca.

Berikut ini adalah lima buku Indonesia terbaik yang terbit tahun 2023:

Malam Seribu Jahanam

“Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa” jadi kalimat pembuka yang mampu menyihir pembaca agar terus bergumul dengan kisah tiga saudari, seorang “saudari tiri”, dan nenek penuh misteri. 

Satu per satu, secara bergantian, jalinan cerita diputar melalui sudut pandang keempat saudari dengan suasana mencekam sarat tragedi: saudari tercantik yang meledak terurai-burai bom yang dibuatnya sendiri; saudari tertua yang paling kuat andalan keluarga dengan “paku” penjaga di kepala; saudari tengah si pengelana yang hampir tak terlibat karena selalu mengembara ke mana-mana; serta saudari tiri yang nyaris terlupa datang tak diundang menagih utang kepada semua. 

Takdir empat dara tersebut—Annisa, Mutiara, Maya, dan Rosalinda—berjalan sesuai ramalan sang nenek yang tak kalah kaya dengan rahasia.

Malam Seribu Jahanam adalah novel kedua Intan Paramaditha yang konsisten mengangkat isu perempuan dalam genre horor lewat karya-karya seperti Gentayangan (novel, 2017), Kumpulan Budak Setan (antologi cerpen horor bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad, 2010), serta Sihir Perempuan (kumpulan cerpen, 2005). 

Kali ini, dalam buku setebal 355 halaman ini, Intan juga mengangkat isu-isu sosial yang lebih kompleks mulai dari konflik agama, terorisme, homofobia, rasisme, konflik keluarga, hubungan antarsaudari, hingga generasi terhimpit atau sandwich generation

Uniknya, kali ini Intan tidak hanya mengemas cerita horor melalui mitos-mitos yang familiar di tengah masyarakat Indonesia, tetapi juga membungkusnya dengan atmosfer keislaman yang lekat melalui kutipan ayat suci, nasihat-nasihat agama yang solid, dan penggambaran tokoh salih (atau menuju salih) dengan variasi konflik beragam. 

Beragam tokoh kaya karakter dengan segala sisi kemanusiaannya, plot yang mengalir lancar penuh kejutan sekaligus membangkitkan macam-macam rasa dan emosi, serta konflik yang mengangkat ragam isu sosial yang tidak pernah sederhana, hampir lengkap memberikan pengalaman membaca yang gado-gado: menegangkan, menyenangkan, tetapi juga melegakan.

Menua dengan Gembira

Sebuah cerita yang relatable dengan pembaca akan memiliki kesan yang baik. Perihal urusan rumah tangga hingga persoalan pekerjaan akan selalu menjadi bahan perbincangan, baik di tongkrongan maupun di akun media sosial pergibahan.

Ceruk tersebut yang diangkat oleh Andina Dwifatma dalam buku nonfiksinya, Menua dengan Gembira. Buku ini mengangkat cerita-cerita sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari penulis. 

Dengan menggunakan teknik bercerita yang sederhana, pembaca mudah memahami apa yang ingin disampaikan oleh Andina. Pemilihan bentuk memang sudah disadari oleh Andina sedari awal. Bahwa teknik storytelling yang ia pakai terpengaruh dari penulis idolanya, seperti Myra Sidharta, Bondan Winarno, dan Mahbub Djunaidi. 

Para penulis idola tersebut cenderung menulis dengan sederhana. Tidak pakai kalimat-kalimat ilmiah dan istilah bahasa asing yang kerap dipakai di media massa. Sebenarnya, Andina bisa saja memilih menulis dengan kalimat ilmiah sebab ia punya latar belakang sebagai pengajar di universitas. Namun, ia memilih untuk menulis sederhana agar pembaca lebih mudah paham. 

Salah satunya topik yang sangat relatable dengan banyak orang adalah dalam tulisan “Dilema Smartphone”. Andina sangat gelisah dengan kebiasaannya menggunakan gawai. Sebelum gawai populer, ia memakai ponsel sederhana yang hanya bisa untuk menerima pesan dan telepon, dan tidak bergantung pada hp. Sekarang, dengan keberadaan gawai, ia harus skrol-skrol hingga lupa waktu.

Hal itu membuat Andina tidak fokus melakukan sesuatu, misalnya, membaca buku. Kebiasaan membaca buku terdistraksi oleh gawai. Namun, dengan secara bersamaan, Andina sadar betul pentingnya gawai pada era serba cepat sekarang.

Dalam hal menulis cerita, Andina punya tempat terbaik di sastra Indonesia. Dia sudah menerbitkan dua novel: Semusim, dan Semusim Lagi (2013) yang memenangi Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012 dan novel terbarunya Lebih Senyap dari Bisikan (2021).

Sentimentalisme Calon Mayat

Kemunculan kembali Sony Karsono di sastra Indonesia setelah hiatus kurang lebih dua dekade lamanya, bisa dibilang, mengejutkan banyak orang. Baik pembaca seangkatannya, maupun pembaca baru yang mengais koran lama tahun 90-an. 

Sony kembali dengan sekumpulan cerita pendek berjudul Sentimentalisme Calon Mayat. Kumcer ini menghadirkan delapan cerita pendek yang memiliki kekhasan masing-masing. 

Karena cerpen-cerpennya ditulis pada era Orde Baru—kecuali “Surabaya Johnny” ditulis tahun 2002—Sony menulis cerita dengan memuat unsur kritik dan satire. Hal itu berkaitan dengan konteks zaman ketika cerpen-cerpennya ditulis.

Dua alasan mengapa cerita Sony begitu menarik yakni keberanian menulis dengan lugas dan banal. Misalnya, kelugasan dan kebanalan itu muncul dalam cerpen “Sentimentalisme Calon Mayat”. 

Alkisah, Johan bersama pasangannya, Sita, menonton di bioskop. Akan tetapi, si Johan mengenang mayat yang pernah ia perkosa di rumah sakit 40 tahun lalu. Tidak sampai di situ, kebanalan lain yang dilakukan oleh si tokoh utama saat lepas dari nonton bioskop, Johan menancap gas mobilnya untuk melakukan bunuh diri bersama kekasihnya. 

Walaupun begitu, kumcer ini tidak seseram itu juga. Sony menghadirkan satu cerita cinta yang bikin pembaca tertawa sekaligus menyimpan kesedihan. Itu ditemukan dalam cerpen “Seikat Kembang Egois”. Seorang lelaki yang sedang berusaha mengejar cintanya dengan melewati rintangan yang unik dan berakhir dengan nelangsa. 

Buku ini disambut baik oleh pembaca sastra Indonesia dan diganjar Penghargaan Sastra Kemendikbud 2023 kategori cerpen. Artinya, kehadiran kembali Sony Karsono di gelanggang sastra Indonesia tidak berakhir dengan sia-sia.

Indonesia dari Pinggir

Fatris MF kembali mengeluarkan buku terbarunya dengan judul Indonesia dari Pinggir. Dari judulnya sudah ada bayangan apa yang dibahas dalam buku ini. Fatris dengan telaten merajut tulisan tentang wilayah-wilayah yang tidak tersorot kamera Jakarta.

Dari barat hingga timur Indonesia, ia memotret hal-hal sederhana dan pertemuan-pertemuannya dengan orang-orang yang ia temui di tengah perjalanan. 

Misalnya, ketika Fatris berada di Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Ia bertamu di rumah setempat, alih-alih disuguhi kopi atau teh, Fatris malah dikasih minuman moke–minuman alkohol tradisional di NTT.

Di sela-sela minum moke tersebut, keluarlah obrolan perihal belis atau gading gajah untuk dijadikan syarat utama dalam melamar perempuan. Kata Charles, teman yang Fatris temui di Larantuka, bahwa belis merupakan simbolisasi dari harga diri yang memperlihatkan betapa berharganya perempuan. Pahadal, di NTT tidak ada gajah. Dari manakah asal gading tersebut? Itu yang diherankan oleh Fatris.

Cerita lain yang tak kalah serunya ialah saat Fatris mendatangi kampung nelayan Lamalera, tempat pemburu paus. Ia mengisahkan bagaimana orang-orang berburu paus dan bagaimana ritual sebelum berburu dan setelah berburu. 

Kecerdasan Fatris dalam menulis yakni ia tidak jatuh pada tulisan yang eksotis. Sikap ini perlu diapresiasi di tengah banyak tulisan perjalanan yang cenderung jatuh pada pandangan eksotisme. Hal itu juga kita bisa lihat pada vlog-vlog yang muncul di media sosial. Eksotisme dulu, baru yang lain. 

Kenapa Fatris tidak jatuh pada pandangan eksotisme? Karena ia menghadirkan subjek-subjek dalam tulisannya. Sehingga, ceritanya bergerak bersama subjek, tidak sekadar perpindahan dari tempat satu ke tempat lainnya.

15 tulisan dalam buku ini semakin memperkuat keragaman manusia Indonesia. Dan Fatris tidak sekali menampilkan buku yang bertema perjalanan. Sebelumnya, ia sudah mengeluarkan buku serupa yang tak kalah menariknya, seperti Merobek Sumatra (2015), Kabar dari Timur (2018), Lara Tawa Nusantara (2019), Hikayat Sumatra (2021), dan The Banda Journal (2021) yang bekerja sama dengan Muhammad Fadli sebagai fotografer.

Unboxing

Nama penyair Willy Fahmy Agiska cukup mengaget dunia sastra Indonesia. Sebab, dengan buku puisinya, Mencatat Demam (2018), terpilih sebagai “Buku Puisi Terbaik” pada sayembara buku Hari Puisi Indonesia (HPI) 2019. Masyarakat sastra Indonesia kaget karena HPI memenangkan anak muda cum buku pertama. 

Akan tetapi, Willy tidak terlena dengan euforia yang semu itu. Pada awal tahun 2023, ia menerbitkan buku puisi keduanya, Unboxing. Dari judulnya, kita tahu bahwa Willy sedang merespons kebiasaan baru masyarakat Indonesia yang membeli barang lewat lokapasar. 

Dalam puisi “Unboxing 2022”, bait ketiga, Willy menulis, duabelas duabelas / order headset dan manekin / buat jadi sobat share unek-unek / sekalian self reward. Sangat jelas penyair memesan barang “headset” dan “manekin”. Dua barang itulah yang di-unboxing oleh narator. 

Yang menarik dari puisi-puisi Willy, yakni keberaniannya untuk memadukan bahasa Indonesia, bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris), dan bahasa daerah. Untuk bahasa Inggris, sudah terbaca dalam puisi di atas, ada order, headset, share, dan self reward

Sementara bahasa daerah, misalnya, ada di puisi “Follow Me?”: 

Euh, anying. Keheula atuh anying

lalayangan aing belum siap diaduin

atuh anying lah.

Belum lagi, ada diksi yang baru populer di musim pilpres ini, Willy sudah memakainnya pada 2021, yakni “gemoy” pada puisi “April Mop”.

Pembaca tidak akan menemukan diksi yang melambai nan mendayu-dayu ala puisi hujan dan senja. Dalam Unboxing, Willy menampilkan diksi dan metafora yang relatable dengan pembaca. Dan itulah istimewanya buku paket puisi ini. 

Penulis: Safar

Editor: Yoga

Ilustrator: Vito

BAGIKAN :

ARTIKEL LAINNYA

KOMENTAR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments